Saturday, October 18, 2008

Shop Till I Drop

A man would buy twice as much something he really needs,
A woman would buy half as much something she doesn't really need.

Joke di atas adalah salah satu favorit saya karena kalau dipikir-pikir selain lucu, sebenarnya apa yang dikatakan di situ memang tidak jauh dari kenyataannya. Kalau pernah ada studi mengenai berapa lama waktu yang dihabiskan perempuan dan laki-laki dalam berbelanja, I can sure bet that the difference would be significant. Perhaps it's true then that women are indeed born to shop.

Dalam hal gila belanja, saya kira orang Indonesia tidak ada duanya. Sudah jamak saya mendengar cerita bagaimana kalau turis Indonesia pergi ke luar negeri, pasti acara yang paling ditunggu-tunggu adalah kunjungan ke lokasi shopping, apalagi kalau barang-barangnya bisa ditawar - wah, bisa kalap! Baru-baru ini seorang teman yang sudah berencana traveling keliling suatu negara bersama saya tiba-tiba membatalkan ikut serta begitu kami baru sampai di ibukotanya. Ternyata ia keburu kesengsem dengan shopping opportunity di ibukota sehingga memutuskan bahwa lebih baik dia habiskan uangnya untuk shopping daripada untuk jalan-jalan. Alamak!

Mungkin tidak begitu banyak kaum laki-laki yang penggila belanja karena harus diakui dalam hal tawar menawar untuk mendapatkan harga barang semurah-murahnya, kaum perempuan memang lebih 'tega'. Saya sendiri sebenarnya juga tidak begitu suka belanja, I guess I'm a typical bloke who only shops when he really needs something, at least when I'm at home in Jakarta. However, being an Indonesian, terus terang kalau saya ke luar negeri, atau bahkan ke luar kota sekalipun, saya tidak suka pulang ke rumah dengan tangan hampa (well, I would feel guilty if I got nothing to give to the little ones at home). Selain itu saya juga mengoleksi beberapa pernak-pernik dari setiap tempat yang saya kunjungi, minimal fridge magnet dan maksimal T-shirt khas, both of which I think I've already got quite a collection right now. So, karena alasan itulah therefore I shop.

Saya tidak bisa mengunjungi lokasi shopping tanpa mengetahui apa yang mau dicari because this could be 'very dangerous' as you could easily spend hours there, and God knows how much money you'll end up spending. Pengalaman-pengalaman shopping saya mungkin tidak terlalu banyak, namun beberapa cukup berkesan. Di Eropa, jangan lewatkan belanja hari Minggu pagi di Fischmarkt di Hamburg, Jerman. Di sana bisa dilihat berbagai penjual mulai dari ikan, tanaman, buah-buahan, pasta, hingga souvenir khas Hamburg berupaya menarik pembeli dengan gaya khas mereka masing-masing yang terkadang sangat nyeleneh (pernah ada penjual tanaman yang memberikan satu pot tanamannya gratis ke seorang pembeli karena dia tidak mau menjual tanamannya itu ke pembeli yang lain yang menawar lebih murah - aneh ya?).

Pengalaman shopping saya yang paling extraordinaire semuanya terjadi di Asia. Bulan Mei lalu saya menghabiskan waktu lebih dari 48 jam (tidak berturut-turut sih) di atas kereta api untuk mencapai Kashgar di provinsi Xinjiang, which is the furthermost Chinese city from Beijing. Apa yang menarik saya ke sana? Well, selain beberapa monumen Islam seperti mesjid dan makam (kota ini adalah salah satu trading post terpenting di Jalur Sutra berabad-abad lalu dan penduduknya mayoritas dari suku Uyghur yang beragama Islam), the most famous attraction in Kashgar is actually the Yekshenba (Sunday) Bazaar (lihat gambar). Billed as the grand-daddy of all Central Asian markets, it attracts thousands and thousands of sellers and shoppers from all over the region, creating a spectacular explosion for the senses. Rows after rows of shops, selling pretty much anything's salable under the sun, from fresh vegetables to carpets, from ethnic skull caps to the latest in fashion, are what you can find in this place. If you do make it here, it's perhaps easy to get lost, but then again perhaps it's not a bad thing to do. For a big fan of the world's multiculturalism, being in a place where people from Uyghur, Kazakh, Kyrgyz, Uzbek, Tajik, Turkmen, Chinese, and God knows what other backgrounds, converge and interact around you, speaking interchangeably in their own unique native tongues, was simply a one-of-a-kind experience for me. I ended up spending 5 hours exploring the bazaar on foot - and you know what, it's only after I got back to my hotel I realized that I had actually missed the most famous part of the bazaar: the cattle market!

The award for the most 'hardcore' place for shopping in Asia, however, has to go to Seoul, Korea. Maksud saya 'hardcore' tentu bukan yang ada hubungannya dengan RUU APP yang menghebohkan itu, melainkan 'surga' bagi mereka yang memang tidak ada puas-puasnya berbelanja. Salah satu slogan pariwisata Korea adalah 'The Best Kept Secret of Asia' dan menurut saya ada benarnya juga, karena kebanyakan orang berwisata ke Asia Timur kalau tidak Cina, ya Jepang. Kalau mau belanja ya ke Hongkong. Di Seoul ternyata ada banyak lokasi shopping, dan yang membuat saya terheran-heran adalah ternyata banyak toko yang masih buka - di atas jam 12 malam! Mereka yang tidak bisa tidur sebelum memuaskan hasrat belanja, saya sarankan pergi ke Dongdaemun Market (lihat gambar). Terletak tidak jauh dari pusat kota Seoul, ini adalah pusat dari segala pusat perbelanjaan di Seoul. Betapa tidak, di lokasi ini konon (saya belum pernah menghitungnya sendiri, but I think the number's pretty close) berdiri tidak kurang dari 26 shopping malls! Ukuran shopping mall di sana juga tidak main-main. Ada yang berdiri 10 lantai dan isinya toko semua, dan ada juga bangunan yang hanya tiga lantai namun baru satu lantai saja sudah membuat kaki gempor karena meski sudah menyusuri deretan toko-toko sepanjang 300 meter, ujung mall masih belum kelihatan! Di luar itu masih banyak juga lapak-lapak yang terletak di pinggir jalan maupun di pedestrian underpass, menawarkan barang yang bahkan beberapa di antaranya untuk ukuran Indonesia harganya lumayan terjangkau. Yang membuat saya sampai merinding, bahkan sampai hari ini kalau mengingatnya, adalah kalau kita pergi ke tempat ini jam 12 malam, pasar ini justru sedang ramai-ramainya dengan puluhan ribu penjual dan pembeli! Jam buka shopping malls di Dongdaemun rata-rata memang incredible, bahkan ada yang dari jam 10 pagi hingga 5 pagi - wah shopping pun ternyata bisa mengalahkan clubbing!

Di dalam negeri, Indonesia, tempat favorit saya untuk shopping adalah di daerah Malioboro di Yogya. Menurut saya di sana barang-barangnya, harga-harganya dan suasana belanjanya di sana paling ideal. Ya, mungkin juga karena saya penggemar barang-barang etnis jadi kalau untuk belanja yang satu ini saya betah berlama-lama memilih-milih barang sampai ketemu yang sreg. Sebenarnya Pasar Sukawati di Bali juga menarik namun karena agak jarang ke Bali jadinya saya juga jarang belanja di sana.

Namun, di mana pun di Asia, hal yang paling challenging bagi saya adalah dalam hal tawar menawar. Ya, mungkin untuk yang satu ini I have to take my hat off to the ladies. Terus terang, jika menawar, saya masih ada rasa belas kasihan, jadi kalau harga berhenti di 2/3 harga awal saya pun sudah cukup puas, padahal saya tahu banyak penjual yang menaikkan harga empat kali lipat dari harga sebenarnya. Pernah di Yangshuo, Cina, saya mau membeli T-shirt. Ketika saya menanyakan harganya (dalam bahasa Inggris tentunya, dan di Cina, kalau Anda bertampang Asia dan bicara bahasa Inggris maka Anda akan diberikan harga bule yang lumayan 'fantastis') penjual menjawab "120 yuan" atau sekitar 160 ribu rupiah dengan kurs saat itu. Mendengar hal itu saya langsung keder dan mundur teratur. Namun si penjual itu ternyata masih berusaha menjual T-shirt itu kepada saya dan saat itu saya pikir "this is China, where all the cheap goods in Indonesia come from" jadi langsung saja saya sebut "15 yuan" (sekitar 19 ribu perak). Tentu si penjual menolak tawaran saya dan ketika saya tidak menaikkan tawaran dan mulai beranjak dari tokonya, tiba-tiba dia bilang "okay, okay". Wow, ternyata tidak hanya pembeli yang tega, penjual pun bisa cukup sadis memasang harga!

Urusan tawar-menawar memang bisa cukup bikin trauma, dan maka dari itu sekarang kalau berbelanja di Yogya, saya lebih suka belanja di Mirota. Memang harga lebih mahal, namun tidak terlalu jauh dari yang dijual di emperan Malioboro, itu pun kalau kita bisa menawar. Pernah saya menemukan di salah satu toko kerajinan di Malioboro, wayang kulit ukuran kecil dijual fixed price seharga 9 ribu perak saja sementara di emperan jangan harap barang sejenis dilepas di bawah 15 ribu.

I have to admit though that I don't think I'll ever stop shopping when traveling. I mean, it's in my blood. Even if in the end I get ripped off, then so be it, hitung-hitung bagi-bagi rejeki, and besides, I would never buy anything unless I really like it (meskipun belum tentu saya membutuhkannya). So, going back to the shopping joke, I think it needs another line for me as I fall under the category of those who would buy at double the price something that they don't necessarily need ...

Monday, October 13, 2008

One Day in October

Life's a beach and then you die.

I never really thought I would write something morbid in my blog. After all, before recently, the last death in the family I could actually care to remember was that of my paternal grandfather. I was still in the early level of primary school back then (I was so young I can't even remember exactly what level). And then one day in October 2007, my mum got a call from my elder brother who was in Bangkok at the time, and I remember after the call had ended, my mum was in tears. I knew right away that things were never gonna be the same again.

A year later here I am, just a few days short of a week after my brother had passed away peacefully in our home from cancer. Sometimes I find myself wondering if there was anything I could have done differently to make him still alive today. But then again, perhaps this what God had designed for him.

So why am I rambling about my brother in my travel blog, you wonder? Well, first of all, my brother was only 16 months older than I was. Growing up, I was practically his shadow, and he was my inspiration. Whatever he did, I just had to do the same. I remember one day he showed me a piece of banknote from a foreign country and the next day I started collecting banknotes from all over the world (his collection was still better). When he started French course in high school, I couldn't wait to do the same so I could also parler français (by the time I finally began, he had already mastered his fifth language). And when he went to Europe on his own, he traveled around there for a good few months. I could only follow suit a few years later, for a fraction of the duration of his trip. At last count he'd been to six out of the world's seven continents while I'm still working on my fifth one. Bottom line is, I have to admit, when it comes to travel nobody had inspired me more than my brother.

I could write a long chapter or two on the subject of my brother but I think for now I'm just gonna share a poem I wrote in the loving memory of my brother (mind you, it's in no way an obituary - hell, I didn't even know what that is!). I'm not much of a poet myself, but then again, I couldn't help it when I had such an inspiring brother like him. (And if you think I didn't know how to spell "bitch", well, obviously you know now that I could. I just think that life feels more precious when you start seeing it from a full-glass perspective, don't you think? ;-))


To The Beloved Departed

Yes brother, you know you weren't like the rest of us
When I was one step ahead of the other
You were already two steps ahead of me

You sure had a way with words
When I was still grappling with my imparfait
You could already tell that I was your xiongdi and not your zimei

Tell me about all those exotic places please
That you described to me with the sparkles in your eyes
That others could only dream about

How about those cute puffins in the Føroyar
And the ostrich you took for a ride in a Cape farm
Or when Cuzco's height almost took your breath away

Remember the time you tried the real Finnish sauna
I bet it was better than being stuck in the middle of the Outback
Or having to wait for hours at a US airport

Shanghai was a favorite place for you I know
And how much you loved to be one of those happy-go-lucky Brazilians
But you don't need to tell me it was Bangkok where you'd left your heart

Farewell brother
You're in a way better place now
An ultimate destination
That one day you'll describe to me
With the sparkles in your eyes
That others could only dream about

(dedicated to Oui, 1973-2008)

Friday, October 3, 2008

A Spiritual Journey

Fitnah lebih besar dosanya dari pembunuhan.
(QS Al Baqarah: 191)

Sebenarnya sudah lama saya mau menulis mengenai pengalaman yang satu ini, dan one thing led to another akhirnya baru sekarang saya sempat mewujudkannya. Pengalamannya sendiri terjadi pada hari Idul Fitri 1429 H yang baru lalu jadi berhubung sekarang masih dalam suasana halal bihalal jadi ya saya pikir masih cukup fresh juga saya share dengan orang lain.

If anyone ever asked whether I'm a religious person I don't think I would be able to honestly say yes to that question. However, that doesn't mean that I don't believe in God, as a matter of fact, I do, and that's one fundamental element I'm not willing to negotiate. I guess I'm more of a spiritual person than religious now. I don't really believe in rituals, I mean I still do some, but only if I believe in the reason why I'm doing it.

Hari Idul Fitri seperti tahun-tahun sebelumnya adalah hari untuk keluarga. Bedanya dengan tahun lalu, tahun ini I actually willingly wanted to stay in Jakarta to celebrate it with my family. Sebenarnya ada beberapa alasan: mulai dari alasan klise (urusan dana, what else?) sampai alasan keluarga (it was the first time my brother was actually in town for this occasion in a long time so why go away?). Besides, kebetulan saat itu ada teman saya Lukas dari Jerman yang sedang menginap (silakan membaca entry sebelumnya) jadi ya kesempatan juga untuk memperkenalkan dia ke tradisi khas Indonesia yang satu in (setahu saya tradisi maaf-maafan saat Idul Fitri hanya ada di negara-negara Asia Tenggara - well, mungkin Asia Selatan juga). Anyway, karena saya tidak sempat mengajak Lukas jalan-jalan keliling kota Jakarta seperti kebiasaan saya kalau ada teman asing yang menginap (duh, baik ya saya? hehe) jadi saya pikir kenapa tidak saya manfaatkan kesempatan baik ini untuk mengunjungi one of Jakarta's newest attractions, yang kebetulan juga klop kalau dikunjungi saat Idul Fitri.

Mesjid Dian Al Mahri memang secara administratif bukan bagian dari Jakarta, melainkan Depok karena letaknya yang di Desa Limo yang masuk ke dalam wilayah kota tetangga di selatan Jakarta itu. Namun karena akses utamanya melalui Jakarta, ya tidak ada salahnya kalau dimasukkan ke dalam daftar attractions kota Jakarta. Sengaja saya tidak mau pakai istilah obyek wisata, karena tempat ini kan fundamentally a functioning mosque jadi tujuan utamanya adalah tempat ibadah, baru mungkin setelah itu fungsi-fungsi lainnya, antara lain ya obyek wisata itu. Makanya saya sebut attraction karena toh noone can deny that it's an attractive place.

Exactly how attractive the mosque is, well, how about you try this: mesjid ini berdiri di atas tanah seluas 50 hektar dengan bangunan mesjid seluas 8000 meter persegi. Namun yang menjadikan mesjid ini buah bibir banyak orang, bahkan sebelum mesjid ini akhirnya dibuka untuk umum akhir tahun 2006 adalah kelima kubahnya yang konon dilapisi emas 24 karat setebal 2 sampai 3 milimeter dan mosaik kristal. Wow! Kekaguman saya belum berhenti dari situ karena bangunan mesjid ini konon juga berbahan baku marmer impor dari Italia, dan interior mesjid dilengkapi dengan Italian chandelier (what's up with that?) lebih dari 2 ton (saya mendapat informasi berbeda-beda mengenai beratnya - ada yang bilang 2,7 ton, 4 ton bahkan 8 ton, tapi yang jelas lebih dari 2 ton lah). Tidak heran, kalau mesjid Dian Al Mahri sekarang lebih populer dengan nama Mesjid 'Kubah Emas'.

Satu hal lain yang membuat mesjid ini menurut saya menarik adalah latar belakang mesjid ini yang didirikan oleh seorang pengusaha perempuan asal Banten, Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid. Terus terang siapa sebenarnya tokoh ini menurut saya agak terlalu misterius, karena untuk membangun mesjid ini memerlukan biaya yang tidak sedikit and she's not exactly Aburizal Bakrie gitu loh. Terlepas dari itu, saya sih salut atas usaha pendiri mesjid ini (whoever you are) karena kalau niatnya ibadah Insha' Allah akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda.

Berhubung saya belum pernah ke sana, seperti biasa I had to do my homework first, mengumpulkan informasi mengenai tempat yang akan dikunjungi, biasanya through browsing on the Internet. Saya temukan lumayan banyak informasi mengenai mesjid ini terutama pada blog orang-orang yang sudah pernah berkunjung. Namun rasa excitement saya berubah menjadi prihatin ketika di salah satu blog yang nampaknya cukup populer (dilihat dari jumlah orang yang berkomentar), mesjid megah yang seharusnya bisa dibanggakan itu ternyata malah 'dibantai'.

Pemicunya adalah peraturan mesjid yang tidak membolehkan anak di bawah usia 10 tahun masuk. Mereka yang pro berargumen anak-anak harus dilatih mencintai mesjid sedari kecil, sementara yang kontra berargumen mungkin saja peraturan dibuat agar ibadah bisa lebih khusyuk karena sifat anak-anak yang masih suka bermain. Ternyata dari hal yang menurut saya sepele itu malah melebar kepada kritik mengenai 'kemegahan' mesjid. Bahkan sampai menggunakan salah satu hadits Nabi yang intinya menyatakan membangun Mesjid Dian Al Mahri yang indah ini adalah salah satu tanda kiamat ... Astaghfirullah!

I actually spent time thinking about it and you know, kalau memang interpretasi orang tersebut benar, tentunya kiamat sudah dekat ketika Mesjid Imam di Isfahan, Iran, berdiri tahun 1611; Mesjid Sultan Ahmet (aka Mesjid Biru) di Istanbul, Turki, tahun 1616; Mesjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz di Selangor, Malaysia tahun 1982; Mesjid Faisal di Islamabad, Pakistan tahun 1986 (bantuan Arab Saudi lho, tsk, tsk, tsk); Mesjid Hassan II di Casablanca, Marokko tahun 1993 (lihat gambar); atau bahkan Mesjid Nabawi dan Masjidil Haram sendiri di Arab Saudi yang memang terus diperluas dan diper'megah' (should this person tell the Saudis to stop what they're doing?).

Anyway, saya tidak akan berpolemik di masalah fiqh karena setiap orang entitled to his or her interpretation (and so am I) tapi kalau saya pikir setiap kali mesjid-mesjid megah dan indah dibangun di manapun, pasti selalu ada yang pro dan yang kontra, baik dari luar maupun dari dalam kalangan Muslim sendiri. And in this case I believe in giving this mosque a chance.

Setelah silaturahmi ke rumah keluarga besar, saya pun langsung bergerak menuju Mesjid 'Kubah Emas'. Selain Lukas, ikut juga tante saya dan 'asisten' setianya. Mungkin karena masih suasana Idul Fitri, jalananpun tidak seberapa macet seperti yang saya kuatirkan sebelumnya meskipun cukup berlubang-lubang membuat saya yang menyetir city car terasa seperti sedang off-road apalagi baru setengah jalan menuju ke tujuan, tiba-tiba hujan turun dengan sederas-derasnya.

Saat tiba di parkiran mesjid, hujan masih terus mengguyur. Karena sudah niat ingin mengejar sholat Ashr di dalam mesjid akhirnya kami berempat menerobos hujan dengan payung. Karena saya dan Lukas hanya kebagian satu payung, hasilnya, ya, basah kuyup juga karena angin kencang bertiup juga dari depan menyiram badan dengan air. Ternyata pintu masuk mesjid untuk pria letaknya di samping kiri dan kanan mesjid, sementara pintu masuk perempuan di belakang mesjid, paling dekat dengan parkiran. Setelah sempat berteduh sejenak di bangunan serbaguna (?) akhirnya kami berdua berhasil masuk ke dalam Mesjid 'Kubah Emas'.

Well, well, well. Mesjid ini boleh kelihatan megah dan mewah dari luar, namun ternyata interiornya menurut saya sangat 'sederhana'. Italian chandelier yang digembar-gemborkan memang cukup impresif (but only for a minute at most), dan digantung di bawah kubah utamanya yang dihiasi lukisan kaligrafi dan trompe-l'oeil berupa gambar langit dengan awan yang konon bisa berubah warna sesuai mood of the day. Selain itu, ada mimbar yang kelihatannya mungkin juga terbuat dari emas. Tidak lupa saya dan Lukas menyempatkan diri mengambil foto kenang-kenangan di dalam mesjid meski dalam keadaan basah kuyup (lihat gambar).

Di antara mesjid-mesjid berkubah emas yang ada di dunia, hanya tinggal mesjid serupa yang tertua yang belum pernah saya kunjungi (iyalah di Irak gitu loh, memangnya mau bunuh diri?). Brunei yang kecil namun kaya raya punya dua mesjid berkubah emas, dan saya pernah sholat di Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddin, yang telah menjadi landmark negara Brunei. Saat saya sholat di sana, mesjid hampir ditutup (mesjid tutup pukul 10 malam), jadi tinggal saya sendiri dan penjaga mesjid. Mesjid ini ternyata memang tidak hanya indah dilihat dari luar (terutama malam hari) ternyata di dalamnya pun cukup menakjubkan (lihat gambar), membuat saya tidak tahan untuk memotret meskipun ada tanda 'dilarang ambil gambar'.

Kembali ke Mesjid Dian Al Mahri, kesederhanaan interior mesjid menurut saya justru bisa diartikan secara positif, karena ternyata siapa yang membangun mesjid ini cukup 'pandai', dalam arti mesjid dibuat megah dari luar supaya orang tertarik datang (iyalah, bahkan tidak sedikit pengunjung dari luar negeri yang jauh-jauh datang spesial untuk berkunjung ke mesjid ini), sementara interior dibuat sederhana supaya orang bisa khusyuk sholat (kalau malah terlalu indah, nanti malah terlalu sibuk bernarsis ria, dan bukannya sholat, betul nggak? :-)).

Ketika saya di sana, di dalam mesjid ternyata banyak juga anak-anak - sebagian di antara mereka kelihatannya berusia kurang dari 10 tahun. And what were they doing there? Well, pretty much what kids anywhere would do: kejar-kejaran, guling-gulingan, saling bercanda dengan anak seumuran, basically having fun lah (lihat gambar). Untung saja saat sholat saya tidak ditabrak anak yang sedang berlari-larian, meski agak risih juga ada anak kecil yang dengan santainya jalan-jalan di bagian mihrab sementara kami yang dewasa sedang sujud ke hadapannya. Well, you can bet your money on whose side I am after this! :-)

Pengalaman saya di Mesjid Dian Al Mahri nevertheless cukup berkesan dan I surely recommend anyone to give someplace a chance before making your own conclusion. I sure wouldn't mind going back there again next time I have the chance - besides, gara-gara hujan gede, kesempatan berfoto ria dengan background kubah emas mesjid masih belum kesampaian ... Huh, dasar narsis!