A woman would buy half as much something she doesn't really need.
Joke di atas adalah salah satu favorit saya karena kalau dipikir-pikir selain lucu, sebenarnya apa yang dikatakan di situ memang tidak jauh dari kenyataannya. Kalau pernah ada studi mengenai berapa lama waktu yang dihabiskan perempuan dan laki-laki dalam berbelanja, I can sure bet that the difference would be significant. Perhaps it's true then that women are indeed born to shop.
Dalam hal gila belanja, saya kira orang Indonesia tidak ada duanya. Sudah jamak saya mendengar cerita bagaimana kalau turis Indonesia pergi ke luar negeri, pasti acara yang paling ditunggu-tunggu adalah kunjungan ke lokasi shopping, apalagi kalau barang-barangnya bisa ditawar - wah, bisa kalap! Baru-baru ini seorang teman yang sudah berencana traveling keliling suatu negara bersama saya tiba-tiba membatalkan ikut serta begitu kami baru sampai di ibukotanya. Ternyata ia keburu kesengsem dengan shopping opportunity di ibukota sehingga memutuskan bahwa lebih baik dia habiskan uangnya untuk shopping daripada untuk jalan-jalan. Alamak!
Mungkin tidak begitu banyak kaum laki-laki yang penggila belanja karena harus diakui dalam hal tawar menawar untuk mendapatkan harga barang semurah-murahnya, kaum perempuan memang lebih 'tega'. Saya sendiri sebenarnya juga tidak begitu suka belanja, I guess I'm a typical bloke who only shops when he really needs something, at least when I'm at home in Jakarta. However, being an Indonesian, terus terang kalau saya ke luar negeri, atau bahkan ke luar kota sekalipun, saya tidak suka pulang ke rumah dengan tangan hampa (well, I would feel guilty if I got nothing to give to the little ones at home). Selain itu saya juga mengoleksi beberapa pernak-pernik dari setiap tempat yang saya kunjungi, minimal fridge magnet dan maksimal T-shirt khas, both of which I think I've already got quite a collection right now. So, karena alasan itulah therefore I shop.
Saya tidak bisa mengunjungi lokasi shopping tanpa mengetahui apa yang mau dicari because this could be 'very dangerous' as you could easily spend hours there, and God knows how much money you'll end up spending. Pengalaman-pengalaman shopping saya mungkin tidak terlalu banyak, namun beberapa cukup berkesan. Di Eropa, jangan lewatkan belanja hari Minggu pagi di Fischmarkt di Hamburg, Jerman. Di sana bisa dilihat berbagai penjual mulai dari ikan, tanaman, buah-buahan, pasta, hingga souvenir khas Hamburg berupaya menarik pembeli dengan gaya khas mereka masing-masing yang terkadang sangat nyeleneh (pernah ada penjual tanaman yang memberikan satu pot tanamannya gratis ke seorang pembeli karena dia tidak mau menjual tanamannya itu ke pembeli yang lain yang menawar lebih murah - aneh ya?).
Pengalaman shopping saya yang paling extraordinaire semuanya terjadi di Asia. Bulan Mei lalu saya menghabiskan waktu lebih dari 48 jam (tidak berturut-turut sih) di atas kereta api untuk mencapai Kashgar di provinsi Xinjiang, which is the furthermost Chinese city from Beijing. Apa yang menarik saya ke sana? Well, selain beberapa monumen Islam seperti mesjid dan makam (kota ini adalah salah satu trading post terpenting di Jalur Sutra berabad-abad lalu dan penduduknya mayoritas da
ri suku Uyghur yang beragama Islam), the most famous attraction in Kashgar is actually the Yekshenba (Sunday) Bazaar (lihat gambar). Billed as the grand-daddy of all Central Asian markets, it attracts thousands and thousands of sellers and shoppers from all over the region, creating a spectacular explosion for the senses. Rows after rows of shops, selling pretty much anything's salable under the sun, from fresh vegetables to carpets, from ethnic skull caps to the latest in fashion, are what you can find in this place. If you do make it here, it's perhaps easy to get lost, but then again perhaps it's not a bad thing to do. For a big fan of the world's multiculturalism, being in a place where people from Uyghur, Kazakh, Kyrgyz, Uzbek, Tajik, Turkmen, Chinese, and God knows what other backgrounds, converge and interact around you, speaking interchangeably in their own unique native tongues, was simply a one-of-a-kind experience for me. I ended up spending 5 hours exploring the bazaar on foot - and you know what, it's only after I got back to my hotel I realized that I had actually missed the most famous part of the bazaar: the cattle market!The award for the most 'hardcore' place for shopping in Asia, however, has to go to Seoul, Korea. Maksud saya 'hardcore' tentu bukan yang ada hubungannya dengan RUU APP yang menghebohkan itu, melainkan 'surga' bagi mereka yang memang tidak ada puas-puasnya berbelanja. Salah satu slogan pariwisata Korea adalah 'The Best Kept Secret of Asia' dan menurut saya ada benarnya juga, karena kebanyakan orang berwisata ke Asia Timur kalau tidak Cina, ya Jepang. Kalau mau belanja ya ke Hongkong. Di Seoul ternyata ada banyak lokasi shopping, dan yang membuat saya terheran-heran adalah ternyata banyak toko yang masih buka - di atas jam 12 malam! Mereka yang tidak bisa tidur sebelum memuaskan hasrat belanja, saya sarankan pergi ke Dongdaemun Market (lihat gambar). Terletak tidak jauh d
Di dalam negeri, Indonesia, tempat favorit saya untuk shopping adalah di daerah Malioboro di Yogya. Menurut saya di sana barang-barangnya, harga-harganya dan suasana belanjanya di sana paling ideal. Ya, mungkin juga karena saya penggemar barang-barang etnis jadi kalau untuk belanja yang satu ini saya betah berlama-lama memilih-milih barang sampai ketemu yang sreg. Sebenarnya Pasar Sukawati di Bali juga menarik namun karena agak jarang ke Bali jadinya saya juga jarang belanja di sana.
Namun, di mana pun di Asia, hal yang paling challenging bagi saya adalah dalam hal tawar menawar. Ya, mungkin untuk yang satu ini I have to take my hat off to the ladies. Terus terang, jika menawar, saya masih ada rasa belas kasihan, jadi kalau harga berhenti di 2/3 harga awal saya pun sudah cukup puas, padahal saya tahu banyak penjual yang menaikkan harga empat kali lipat dari harga sebenarnya. Pernah di Yangshuo, Cina, saya mau membeli T-shirt. Ketika saya menanyakan harganya (dalam bahasa Inggris tentunya, dan di Cina, kalau Anda bertampang Asia dan bicara bahasa Inggris maka Anda akan diberikan harga bule yang lumayan 'fantastis') penjual menjawab "120 yuan" atau sekitar 160 ribu rupiah dengan kurs saat itu. Mendengar hal itu saya langsung keder dan mundur teratur. Namun si penjual itu ternyata masih berusaha menjual T-shirt itu kepada saya dan saat itu saya pikir "this is China, where all the cheap goods in Indonesia come from" jadi langsung saja saya sebut "15 yuan" (sekitar 19 ribu perak). Tentu si penjual menolak tawaran saya dan ketika saya tidak menaikkan tawaran dan mulai beranjak dari tokonya, tiba-tiba dia bilang "okay, okay". Wow, ternyata tidak hanya pembeli yang tega, penjual pun bisa cukup sadis memasang harga!
Urusan tawar-menawar memang bisa cukup bikin trauma, dan maka dari itu sekarang kalau berbelanja di Yogya, saya lebih suka belanja di Mirota. Memang harga lebih mahal, namun tidak terlalu jauh dari yang dijual di emperan Malioboro, itu pun kalau kita bisa menawar. Pernah saya menemukan di salah satu toko kerajinan di Malioboro, wayang kulit ukuran kecil dijual fixed price seharga 9 ribu perak saja sementara di emperan jangan harap barang sejenis dilepas di bawah 15 ribu.
I have to admit though that I don't think I'll ever stop shopping when traveling. I mean, it's in my blood. Even if in the end I get ripped off, then so be it, hitung-hitung bagi-bagi rejeki, and besides, I would never buy anything unless I really like it (meskipun belum tentu saya membutuhkannya). So, going back to the shopping joke, I think it needs another line for me as I fall under the category of those who would buy at double the price something that they don't necessarily need ...
