Monday, September 29, 2008

A Nighttime Daylight Robbery

The cruelest lies are often told in silence.
(Robert Louis Stevenson)

Di kelas bahasa Prancis terakhir sebelum libur Idul Fitri, instruktur mengajak diskusi mengenai hasil sebuah survey yang menanyakan "kebohongan apa yang paling dibenci oleh orang Prancis?". Di antara jawaban yang terkumpul ada "jika pasangan berbohong kepada Anda mengenai orang ketiga", "jika anak berbohong kepada Anda mengenai hasil sekolahnya", dan "jika Anda berbohong di tempat kerja demi keuntungan pribadi". Jawaban yang diberikan rekan-rekan saya di kelas bermacam-macam, malah akibat jawaban saya, instruktur menjuluki saya "kolot" (well, I'm not gonna tell you which lie ticks me off the most although I'm sure you can guess that already ;-)). Tapi, surprisingly, bukan salah satu jawaban yang sudah saya sebut di atas yang menduduki peringkat pertama. Kurang lebih 76% orang Prancis yang menjadi responden survey tersebut mengatakan bahwa kebohongan yang paling mereka benci adalah "jika dibohongi penjual mengenai kualitas barang yang dijual." Whoa, I really didn't see that coming!

Saya sempat nyeletuk bahwa mungkin mereka menyebut seperti itu karena orang Prancis belum pernah belanja di Asia atau di Timur Tengah. Iyalah, kalau tidak pintar-pintar memilih saat berbelanja di negara-negara ini, pasti bakalan kecewa karena ditipu pedagang. Pengalaman saya berikut ternyata tidak saja membuktikan hal tersebut, namun juga membuat saya berpikir mungkin ada benarnya jawaban sebagian besar orang Prancis pada survey kebohongan tersebut ...

Hari Senin, 29 September, seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, saya ingin mentraktir Lukas, couchsurfer dari Jerman yang tinggal di tempat saya, berhubung sebentar lagi dia akan pulang ke negaranya. Kebetulan saya ingat bahwa setiap hari Senin dan Rabu di bulan September, restoran Izzi Pizza memberikan diskon 75% yang menurut saya cukup fantastis! Memang restoran Izzi Pizza sering menawarkan diskon yang menurut saya cukup sayang untuk dilewatkan, dan saya pun sudah berulang kali memanfaatkannya, mulai dari diskon khusus pemegang kartu kredit Bank Mandiri, hingga yang sebelum ini diskon 50% khusus makanan.

Saya memilih restoran Izzi Pizza di Pondok Indah Plaza yang memang jaraknya terdekat dari rumah saya, dan kebetulan juga abang saya saat itu sedang dirawat di RSPI yang letaknya hanya berseberangan dari situ sehingga membuat lokasinya sangat convenient. Selain Lukas, Ibu juga saya ajak ke acara makan malam itu.

Setelah duduk, saya mengingatkan waiter bahwa saya mau memanfaatkan promosi diskon 75%. Saya diberitahu bahwa diskon hanya berlaku untuk makanan saja, dengan catatan satu makanan satu minuman, dan minimuan pembelian Rp200 ribu, yang langsung saya iyakan. Toh, saya pikir harga makanan yang setelah didiskon dengan minuman yang harga penuh totalnya masih akan tetap reasonable. Kami diberikan dua jenis menu, menu normal dan yang lainnya menurut waiter adalah harga-harga makanan yang telah didiskon (saya pikir baik juga pihak restoran membuatkan menu khusus sehingga pengunjung tidak perlu capek berhitung). Akhirnya kami memutuskan membeli dua jenis pizza dan satu sup untuk Ibu. Dengan harga promosi saya perkirakan, total bill yang nanti harus dibayar tidak lebih dari Rp120 ribu.

Setelah makan (dan foto-foto perpisahan), saya pun meminta bill. Betapa terkejutnya saya bahwa perhitungan saya tadi meleset jauh karena total bill yang harus dibayar ternyata sekitar Rp218 ribu! Ketika saya menanyakan hal tersebut ternyata dari dua yang saya pesan, hanya satu pizza yang didiskon 75%, begitupula sup yang Ibu saya pesan tidak didiskon karena alasannya makanan tersebut tidak tertera di menu diskon. Jelas, saya merasa tertipu karena ketika saya hendak memesan diberitahu bahwa 75% hanya berlaku untuk makanan - that's all - dan tidak ada penjelasan bahwa makanan yang didiskon hanya yang tertera di menu dengan harga yang didiskon.

Jelas saya merasa dongkol karena sudah dibohongi, tapi tant pis, pizza sudah keburu masuk perut. Setelah beradu argumen dengan manajer akhirnya dengan berat hati saya membayar bill. Mungkin jumlah yang saya bayar pada akhirnya memang tidak terlalu besar (saya pernah mentraktir orang makan malam Rp500 ribu untuk berdua - tapi mungkin beda because I was on a date, hehe :-)), tapi ya perasaan kecewa saya itu tentunya tidak dapat diukur dengan materi. Oh well, I guess in this case I have to give it to the French, it sucks to have been lied to - especially by your vendor!

Friday, September 12, 2008

One Soapie Affair

Language can be so tricky and slippery sometimes.

Sebenarnya saya relatif tidak begitu sering menemukan kendala bahasa saat bepergian. Menurut saya hari ini hampir di semua negara di dunia, one can get away speaking only English. Yah, mungkin ini juga dampak dari globalisasi budaya yang sangat sulit terhindari di mana film-film dan lagu-lagu berbahasa Inggris sudah jamak dijumpai bahkan hingga ke pelosok dunia sekalipun. Dari sekitar 33 negara saat ini yang sudah saya kunjungi mungkin Cina-lah negara di mana saya pernah mengalami kendala bahasa sehingga saya terpaksa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak akan pernah saya lakukan seandainya saja saya mengerti bahasanya ... (well, harus bersabar sedikit kalau ingin tahu ceritanya).

Berbicara tentang bahasa tentu tidak dipisahkan dari tulisannya. Sebagian besar negara di dunia menggunakan tulisan Latin dan ini jelas menguntungkan warga Indonesia seperti saya yang memang dibesarkan untuk membaca dan menulis dalam tulisan Latin. Untungnya juga, saya termasuk penggemar bermacam bahasa sehingga saya juga lumayan menguasai beberapa tulisan lainnya seperti Arab, Rusia dan sedikit Korea dan Jepang (hiragana dan katakana). Meski demikian, bisa membaca belum tentu mengerti artinya.

Tulisan Cina (kanji) menurut saya memang yang paling sulit dikuasai, karena jumlahnya yang begitu banyak, hingga ribuan. I think it's true that it takes a lifetime to master all the Chinese characters. Namun saya punya trik untuk mengakali masalah ini. Caranya ya dengan menghafal beberapa magic characters yaitu karakter-karakter tertentu yang terpenting saja (misalnya laki-laki, perempuan, keluar, masuk, besar, kecil, utara, barat, timur, selatan, dst). So far trik saya ini relatif berhasil membuat saya survive dua kali perjalanan di Cina!

Yang paling merepotkan tentunya jika saya benar-benar tidak mengerti tulisan di suatu negara dan orang di sana tidak pandai berbahasa Inggris. Hal ini pernah saya alami sewaktu berada di Thailand, sepuluh tahun lalu. Ya, perlu saya tegaskan kapan hal ini terjadi karena Thailand yang sekarang tentunya sudah lebih 'melek' wisatawan daripada sewaktu kejadian ini terjadi.

Saat itu saya sedang berada di Chiang Mai, kota terbesar kedua Thailand yang terletak di bagian utara. Jika saya backpacking, maka satu hal yang tidak pernah saya lupa adalah membawa toiletries bag. Isinya pun tidak bisa sembarang karena hanya benda-benda yang saya butuhkan saja yang bisa masuk ke dalamnya (sikat gigi, odol, sabun cuci muka, sabun cair untuk mandi, shampoo, deodoran) dan ukurannya pun harus semini mungkin. Kebetulan saat tiba di Chiang Mai sudah lewat beberapa minggu sejak saya berangkat dari Jakarta, jadi sabun cair saya pun habis sehingga harus membeli yang baru. Well, seharusnya urusan membeli sabun cair tentunya tidak sulit bukan?

Di supermarket yang terdekat dari guesthouse tempat saya menginap ternyata tidak punya sabun cair dari merek Biore yang biasa saya pakai. Akhirnya, karena dari sekian banyak sabun cair yang dijual, hanya merek Lux yang saya kenali, maka itupun yang saya beli. Sepintas tidak ada yang janggal dari kemasan sabun cair itu - memang semua tulisannya dalam bahasa Thai namun saya berpikir tidak mungkin dong saya pilih - namun saat pertama kali saya pakai, kok rasanya agak-agak lengket. Kedua, ketiga kali, ternyata tetap saja agak-agak lengket. Namun saya tidak terlalu curiga, siapa tahu sabun cair di Thailand rasanya agak beda dengan yang biasa saya beli di Indonesia. Yah, lain ladang lain belalanglah.

Sekembalinya dari Chiang Mai, saya melewatkan beberapa hari di Bangkok, tinggal di rumah teman saya yang asli Thailand. Suatu ketika saat saya sedang menonton televisi, muncullah iklan sabun cair Lux. Betapa terkejutnya saya ketika melihat bahwa ternyata iklan tersebut bukanlah iklan sabun cair, melainkan ... shampoo! Oalah, gara-gara tebak-tebak buah manggis selama ini ternyata saya mandi pakai shampoo! Pantas saja bukan terasa segar, badan malah terasa lengket ...

Saturday, September 6, 2008

The Craziest Trip I've Ever Done

Well, everybody's got one and mine goes like this ...

Di awal tahun 2000-an (persisnya saya lupa), saya berempat dengan teman saya (Lila, Fanny dan Jock yang asli Kanada) berangkat dari Jakarta dengan satu tujuan: menaklukkan puncak Gunung Gede.

Karena sesampainya di Cibodas sudah sore maka seusai mengurus permit pendakian, kami pun bermalam di Wisma PHPA (nama persisnya saya lupa) yang berbentuk segitiga, tidak jauh dari gerbang masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Besoknya sekitar pukul 5 pagi pendakian dimulai. Kami berjalan agak cepat (mungkin tidak terlalu cepat karena 'nyawa' belum sepenuhnya 'terkumpul') karena tujuannya adalah naik ke puncak Gunung Gede dan turun ke penginapan dalam hari yang sama. Ambisius memang, tapi kami cukup pede karena secara teori memang sangat doable mengingat Gunung Gede yang termasuk gunung yang paling user friendly dibanding Gunung Salak, misalnya. Saya sendiri terus terang hanya modal pede karena belum pernah mendaki gunung sebelumnya (Tangkuban Prahu nggak masuk hitungan karena pake mobil, hehehe).

Jalan yang terus menanjak memang menguras tenaga tapi mungkin setimpal dengan pengalaman menghirup udara yang bebas polusi dan juga satwa liar seperti monyet dan burung yang berkeliaran dengan leluasanya di sepanjang jalur pendakian. Setelah beberapa jam kami tiba di daerah sumber air panas, dan, wow, ternyata tempat ini cukup menguji nyali karena jalur yang kami lewati terpotong oleh air terjun air panas, yang mana setiap pendaki harus berjalan hati-hati sekali karena di satu sisi air panas mengalir di dinding tebing sementara di sisi yang lain jurang menganga lebar. Satu-satu yang bisa jadi pegangan adalah beberapa tiang besi yang nampaknya juga sudah cukup rickety.

Lepas sumber air panas kami melewati beberapa lokasi air terjun yang cukup menggoda iman untuk 'dijajal' namun kami bertekad untuk mencapai puncak Gunung Gede pada tengah hari. Memang kalau mendaki puncak gunung di Indonesia tidak boleh juga terlalu ngoyo dan harus terus 'eling lan waspodo' karena masih banyak makhluk-makhluk ghaib yang bisa bikin kita tersesat. Sempat juga saya, entah kenapa, seakan terdorong ke arah sebuah jalur di mana saya baru melihat ada sekelompok pendaki yang berjalan dari sana. Untung saja, seseorang tiba-tiba berteriak kepada saya: "Mas mau kemana!" sehingga tiba-tiba saya tersadar dan kembali ke 'jalur yang benar'. Coba kalau tidak ... hiiii.

Anyway, sekitar jam 11 akhirnya kami sampai di basecamp terakhir, namanya Kandang Badak (mungkin di sini dulu masih banyak binatang itu ya). Di tempat ini banyak sekali pendaki-pendaki yang memasang tenda. Kebanyakan anak-anak SMA pencinta alam. Fanny yang kelelahan akhirnya kami tinggal di tempat itu sementara kami bertiga meneruskan pendakian ke puncak.

Ternyata puncak Gunung Gede (lihat gambar) berbeda dengan Gunung Pangrango. Pangrango yang lebih tinggi dari Gede (3019 m dibanding 2958 m) puncaknya tertutup rimbun pepohonan sehingga tidak terlalu menarik minat pendaki dibanding Gunung Gede dengan kawahnya yang terbuka. Namun kawah terbuka juga berarti minim vegetasi, sehingga jalur pendakian terakhir terasa sangat berat akibat harus mendaki tanah dan pasir. Dan yang membuatnya semakin parah, tiba-tiba turun hujan ...

Wah, benar-benar saya tersiksa naik ke puncak Gede, seperti kebalikan kata-kata Paula Abdul di lagu "Opposites Attract" - one step forward, two steps back ... Parahnya, kami sangat minim perlengkapan. Tas ransel memang bawa tapi isinya tidak ada jas hujan (hanya air dan roti). Akhirnya sekitar jam setengah satu siang, kami berhasil 'menaklukkan' Gunung Gede. Namun karena sudah lelah (dan lapar) kami pun tidak tahan berlama-lama dan segera turun ke Kandang Badak dengan badan yang basah kuyup dan menggigil.

Di Kandang Badak kami bertemu dengan sekelompok pencinta alam yang kemudian membagi kami jatah mie instan mereka. Wow, belum pernah supermi terasa seenak ini. Lagi-lagi kesalahan kami karena minim persiapan, boro-boro kepikiran alat masak, mi instan pun tidak kepikiran untuk dibawa. Akhirnya kami pun menawari mereka untuk bermalam di penginapan kami setelah turun gunung.

Turun gunung ternyata tidak semudah apa yang dibayangkan. Tidak hanya karena jalan curam jadi kaki yang memang sudah capek harus bekerja ekstra untuk menahan berat badan agar tidak terguling, tapi kami juga mengejar waktu sebelum hari gelap (kebayang kan bagaimana gelap gulitanya di dalam hutan?). Saya tidak bisa membayangkan ketika salah satu anggota pecinta alam yang menolong kami itu tiba-tiba sandalnya copot sehingga dia harus telanjang kaki all the way down! Ouch!

Ternyata perhitungan kami meleset dan ketika hari mulai gelap kami masih belum keluar taman nasional. Sekali lagi, ternyata senter yang kami bawa lemot jadi tidak cukup kuat untuk menerangi jalur yang masih cukup challenging. Walhasil perjalanan menjadi semakin lambat karena harus berjalan ekstra hati-hati.

Akhirnya sekitar jam 8 malam, kami pun tiba dengan selamat di penginapan. Tanpa basa-basi kami berdelapan langsung rebah di tempat tidur - capek berat (boro-boro kepikiran mandi, airnya saja pasti dinginnya nggak keru-keruan). Esok harinya barulah saya fully realize efek dari pendakian gila kemarin - betis dan kaki saya langsung biru-biru dan rasanya nyeri sekali. Sekitar satu bulan rasa kemudian barulah rasa sakitnya hilang.

Weleh-weleh, never again!

Friday, September 5, 2008

How I Came to Realize that Luxembourg is Small Indeed

Sometimes big surprises can come in a small package.

Sebagian orang memilih negara yang dikunjungi karena negara itu punya pantai yang indah misalnya. Atau mungkin negara tersebut memiliki reputasi sebagai surga belanja, atau mungkin juga surga dugem. Itu sih sah-sah saja menurut saya. Bagi saya, negara-negara yang termasuk di urutan teratas daftar "Must-See Countries" saya justru adalah negara-negara mini atau disebut juga microstate. Semakin mungil ukuran suatu negara semakin tertarik bagi saya untuk mengunjunginya. Benua Eropa termasuk yang punya cukup banyak negara mini, bahkan 5 dari 10 negara terkecil di dunia terletak di benua biru ini.

Luxembourg bisa jadi negara mini yang terpenting di Eropa. Negara yang letaknya 'terjepit' di antara Prancis, Belgia dan Jerman ini saya bilang penting karena meski luasnya hanya 2.586,4 km persegi (kira-kira setengah luas pulau Bali) dan berpenduduk sekitar 480 ribu jiwa, Luxembourg ini merupakan salah satu negara pendiri Uni Eropa, dan bahkan visa bersama Eropa yang dikenal dengan Schengen ini mengadopsi nama salah satu desa di Luxembourg di mana kesepakatan visa bersama ini dibuat.

Alasan saya ke Luxembourg sebenarnya juga ingin mengunjungi seorang sahabat pena saya namanya Marie-Josée (sebut saja MJ). Saat itu tahun 1997 dan saya memberitahu MJ bahwa saya akan mampir ke Luxembourg dalam perjalanan saya backpacking keliling Eropa Barat. Namun selain ancar-ancar tanggal kunjungan saya yang saya berikan kepada MJ dan alamat MJ yang memang saya sudah punya (iyalah, dulu kan sahabat pena masih melalui pos bukan email seperti sekarang ini), saya lupa atau tidak sempat menanyakan nomor telpon MJ untuk mengatur cara bertemu. Ya sudah, untung-untungan saja saya pikir, kalau memang 'jodoh' pasti ketemu.

Akhirnya tibalah saya di Luxembourg sesuai rencana dengan kereta via Prancis. Karena sudah 'pasrah' kemungkinan tipis sekali ketemu MJ, maka saya tidak punya ekspektasi apapun di sana selain ya untuk sightseeing. Selagi enak-enaknya makan siang di restoran McDonald's (maklumlah turis 'tongpis'!) yang letaknya di tengah-tengah kota, tiba-tiba saya dihampiri seorang ibu-ibu. Saya tidak mengerti dia ngomong apa tapi betapa terkejutnya saya ketika saya lihat di tangannya ternyata ada foto saya! Ya, persis, itu foto diri yang saya kirimkan kepada MJ! Wow, ternyata ibu-ibu ini adalah ibunya MJ! Begitu saya bilang "yes, that's me!", ibu-ibu itu langsung memanggil anaknya, ya teman saya si MJ itu! Benar-benar pertemuan yang tidak disangka!

Kami pun ngobrol dan dari situ ketahuan bahwa si MJ dan Ibunya sebelum mampir ke McDonald's sempat ke airport dulu namun karena tidak ada tanda-tanda kedatangan saya akhirnya mereka ke pusat kota - ke tempat yang ternyata almost certain akan dikunjungi turis asing - ya restoran McDonald's itu! Wah, coba bayangkan kalau mau ketemu orang dengan cara seperti ini di Jakarta, apa ya nggak ke laut aja!

Akhirnya saya diajak MJ dan Ibunya jalan-jalan keliling kota Luxembourg yang meski mungil namun cukup cantik. Sebelum saya lanjut sore harinya dengan kereta api ke Belgia, saya pun dihadiahi sebuah kaus bertuliskan "Luxembourg". Wow!

Mad About Castles

Apa obsesimu?
(Star Mild)

Bingung juga sebenarnya bagaimana sebaiknya saya memulai travel blog dari sekian banyak ide cerita yang ada di kepala saya. Apakah saya mulai dengan yang cerita yang menyenangkan, atau bahkan dengan cerita yang menjengkelkan? Well, daripada bingung-bingung it's best if I just start writing the first thing that crosses my mind.

Dari 7 benua yang ada saat ini saya baru mengunjungi 4 di antaranya (Asia, Eropa, Australia dan Amerika Utara). Namun dari keempat benua tadi, I must say that Europe has always been my favourite (bukan karena tidak nasionalis ya). Memang sih, orang Eropa in general tidak seramah orang di Asia, dan harga-harga di sana ya jelas berkali-kali lipat harga di Asia. Tapi yang buat saya fascinated terhadap Eropa adalah karena dalam wilayah yang relatif kecil, kita bisa melintasi banyak negara dengan berbagai kebudayaan dan warisan sejarahnya yang kaya. Saya yang memang menggilai sejarah, punya satu hal favorit yang tidak pernah saya tinggalkan setiap kali saya berkunjung ke Eropa, yaitu: mengunjungi castle.

Castle atau château dalam bahasa Prancis bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai istana, puri atau kastil - nampaknya tergantung bentuk bangunannya. Apapun istilahnya, nampaknya saya tidak akan berhenti 'mengoleksi' castle. I don't know there's just something about castles that I just can't get enough of. Uniknya, castle pertama yang saya kunjungi seumur hidup bukanlah di Eropa, melainkan di Jepang, yaitu Osaka Castle. Saat itu usia saya masih 7 tahun, dan perjalanan ke Jepang waktu itu merupakan perjalanan pertama saya ke luar negeri.

Di Prancis yang gudangnya châteaux, tentunya saya tidak melewatkan mengunjungi Versailles. Ini adalah istana yang paling megah pada jamannya sehingga kerajaan-kerajaan lain di Eropa menjadi iri dan kemudian membuat tiruannya di negara masing-masing (sekarang bisa dilihat di Austria, Jerman hingga Rusia). Namun château yang paling berkesan menurut saya adalah saat saya melewatkan satu hari di Val de Loire, suatu kawasan di jantung negara Prancis yang memang sangat kaya akan bangunan-bangunan bersejarah semacam ini. Ada dua châteaux yang saya kunjungi saat itu. Château de Blois mempunyai arsitektur unik karena dibangun dalam masa pemerintahan raja Perancis yang berbeda-beda. Sementara Château d'Amboise (lihat gambar) punya sejarah unik, karena ternyata di sinilah Leonardo da Vinci melewatkan hari-hari terakhirnya bekerja untuk Raja Prancis (itulah sebabnya Mona Lisa sekarang ada di Museum Louvre di Paris, bukan di Italia, karena sewaktu dia pindah, lukisan itu termasuk yang dia boyong ke Prancis). Tidak jauh dari château itu kita bisa mengunjungi Clos-Lucé, rumah da Vinci, bahkan ranjang tempat dia menghembuskan nafas terakhir juga masih tetap utuh.

Namun rekor dalam per-castle-an bagi saya masih dipegang Denmark. Di negara Skandinavia terkecil itu tercatat saya 'melahap' tidak kurang dari tujuh castle - Frederiksborg, Fredensborg, Amalienborg, Rosenborg, Kronborg dan Egeskov (yang terakhir ini bukan punya keluarga raja, jadi mungkin itu sebabnya namanya tidak diakhiri dengan -borg - ini teori saya lho). Kastil Frederiskborg menurut saya adalah yang paling sesuai dengan bayangan saya mengenai how a castle should look like - seperti di dongeng (well, mungkin Neuschwanstein juga tapi masalahnya saya belum pernah ke sana). Kastil ini sekarang jadi Museum Sejarah Denmark jadi tiap ruangannya didesain khusus secara kronologis dari raja-raja pertama sampai dengan Ratu Margarethe II yang berkuasa saat ini. Supaya lebih faham cerita tiap-tiap ruangan, sebaiknya kita menyewa audioguide yang tersedia di pintu masuk. Di belakang kastil terdapat manicured garden yang cukup indah.

Kunjungan ke Istana Fredensborg sebenarnya tidak dalam rencana saya, namun kebetulan saat itu saya di Denmark akhir bulan Juli dan saya baca bahwa istana yang merupakan kediaman resmi putra mahkota Denmark Pangeran Frederik dan istrinya yang asli Australia Puteri Mary hanya dibuka untuk umum sampai dengan 31 Juli - ya sudah, saya pikir kenapa tidak dimanfaatkan selagi masih dibuka. Saya pergi dengan teman saya Tage yang asli Denmark. Beruntung juga karena berhubung sampai di sana sudah sore saya hanya kebagian tur dalam bahasa Denmark. Teman saya dengan berbaik hati menerjemahkan apa yang diterangkan guide di dalam istana sampai-sampai kami dipelototi karena ternyata dia merasa terganggu!

Kastil Egeskov (lihat gambar) terletak di pulau Fyn. Tidak terlalu mudah mencapainya dengan kendaraan umum karena letaknya sekitar 1.5 jam dari Odense, kota terbesar di pulau Fyn yang juga kota kelahiran pengarang Denmark legendaris Hans Christian Andersen itu. Kastil Egeskov memang sangat picturesque lengkap dengan danau kecil dan angsa-angsanya. Mungkin supaya pengunjung betah berlama-lama, Egeskov juga dilengkapi dengan berbagai museum, seperti museum mainan anak, museum mobil, museum sepeda motor hingga museum pesawat terbang!

Di beberapa castle, pengunjung diharuskan memakai alas kaki khusus yang telah disediakan supaya lantai tidak kotor. Di Denmark, hal ini berarti memakai kantung plastik seukuran sepatu kita dengan karet pengencang. Yang paling unik saya temukan adalah slipper ukuran raksasa yang diharuskan dipakai pengunjung Castle Sans Souci di Potsdam, Jerman. Memang lantai terjaga bersih, namun yang ada malah merepotkan orang berkaki kecil seperti saya (padahal nomor sepatu saya 43 lho!) yang terpaksa terseok-seok karena harus berjalan mengenakan slipper yang lumayan oversized dan berat itu, apalagi di dalam istana tersebut kita juga harus naik turun tangga. Alamak!

Welcome and Let the Journey Begin ...

A journey of a thousand miles begins with one small step.

First of all, apologies to those thinking that this blog might come entirely in English. The truth is I would love to but I've decided to write it in the language I know best: Bahasa Indonesia. If you don't happen to understand it, then no need to worry since experts said that Bahasa Indonesia is actually among the easiest languages to learn in the world ... :-)

Anyway, this is actually not my first attempt at writing a travel blog, instead it's more like my second (the first one you can actually still see it in the virtual world - IF you know where to look ;-)) Lalu, kenapa baru sekarang? Well, sebenarnya ada beberapa alasan. Pertama, sedari kecil saya memang pelahap buku-buku travelwriting. I grew up reading buku-buku perjalanan karya H.O.K. Tanzil yang sampai sekarang nampaknya tak tergoyahkan sebagai the best traveled person in Indonesia. Dari membaca karya-karya beliau saya pun terinspirasi untuk menjadi pelanglang dunia suatu hari, dan menuangkan pengalaman saya agar dapat di-share dengan orang lain. Sampai saat ini buku-buku travelwriting (di samping travel guides) mendominasi uku-buku koleksi saya. Saya sendiri heran karena saya tidak pernah tahan membaca novel-novel non-fiksi, betapapun terkenalnya mereka (that's why I was glad they decided to turn "Lord of the Rings" into films - sampai saat ini film itu masih jadi all-time favorit saya).

Kedua, saya memang dari kecil suka menulis. Sewaktu bekerja di majalah Tempo edisi Bahasa Inggris, atas inisiatif saya diciptakanlah kolom "Travel Spot". Selamat beberapa bulan pertama pertama sayalah yang menjadi reporter sekaligus editor kolom tersebut sebelum akhirnya 'diserahkan' kepada travelwriter profesional Bill Dalton (mungkin juga itu termasuk alasan saya mundur dari sana). Namun masalah terbesar saya semenjak itu adalah meskipun saya selalu memiliki niat untuk menulis pengalaman saya sekembalinya dari suatu perjalanan, namun hal itu nampaknya susah sekali terealisasikan, entah karena kesibukan pekerjaan (salah saya sendiri juga kembali dari perjalanan selalu mepet-mepet dengan waktu saya harus kembali ke pekerjaan), atau ya karena tidak ada motivasi alias MALAS. Sayang juga karena dari tahun ke tahun, semakin banyak tempat yang saya jelajahi berarti makin banyak pula bahan tulisan yang terkumpul.

Ketiga, hari ini saya mendapatkan pengalaman yang cukup eye-opening. Sebuah buku yang ditulis oleh sesama penggemar traveling mengilhami saya untuk segera menuangkan pengalaman saya ke dalam tulisan. Mungkin saya selama ini terpaku pada pakem penulisan macam diary à la idola saya H.O.K. Tanzil, sekarang saya akan mencoba 'membebaskan diri' dan menulis berdasarkan random subject saja tidak peduli apakah urut waktu atau tidak. Mungkin nanti hasilnya akan seperti tulisan-tulisan anecdotal à la Tim Cahill (bukan, bukan pemain bola), penulis antara lain "Wolverine is Eating My Leg", "Pass the Butterworm", dll, yang buku-bukunya juga saya koleksi. Anyway, pengalaman saya hari ini tersebut mengingatkan saya bahwa menulis itu tidak susah, dan kalau saya mau, saya pun bisa memulainya saat ini juga, and that's exactly what I'm doing.

Just to give you an idea, kebanyakan dari tulisan-tulisan saya ini didasari pengalaman-pengalaman saya traveling baik di Indonesia maupun luar negeri, kira-kira mulai tahun 1997 (sebelum itu saya juga sudah traveling tapi ya karena faktor "U", unfortunately banyak detail perjalanan saya sebelum itu yang saya sudah banyak lupa dan selain itu tentunya juga sudah tidak up-to-date lagi). Selain itu, saya juga akan memasukkan beberapa cerita yang memang bukan traveling per sé, tapi masih ada hubungannya lah. Besides, it's my blog so suka-suka gue lah, hehehe :-)

Anyway, sit back, relax and let the journey begin ...