Monkey see, monkey do.
Bulan Desember 2008, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi wilayah di Malaysia yang sudah lama saya ingin kunjungi namun tidak pernah kesampaian, yaitu Sarawak, dengan ibukotanya Kuching. Saat itu saya juga merasakan pertama kalinya melintasi perbatasan Indonesia melalui jalan darat. Pengalaman saya saat itu sangat menarik sehingga lebih baik kalau saya simpan untuk entry yang berbeda.
Sarawak merupakan surga bagi para traveler yang mencintai obyek wisata alam. Di dekat Kuching saja tercatat setidaknya ada tiga taman nasional yang mudah dicapai, ditambah lagi dengan satu pusat rehabilitasi orangutan yang memang cukup menjadi andalan wisata setempat. Memang ironis sebagai warga negara Indonesia yang memiliki banyak lokasi habitat orangutan, pengalaman saya melihat orangutan di alam liar justru terjadi di negara tetangga, tapi yah apa boleh buat.
Pusat Rehabilitasi Orangutan Semenggoh letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Kuching yang memang tidak terlalu besar itu. Semenggoh dibuka untuk umum pada pagi (08:30-12:30) dan siang hari (14:00-16:00). Tersedia bus umum yang langsung menuju ke pintu gerbang Semenggoh yang waktunya disesuaikan dengan feeding time orangutan pada pagi dan siang harinya.
Dari pintu gerbang, masih sekitar 20 menit jalan kaki hingga ke pintu masuk Semenggoh. Kalau dengan kendaraan sendiri tentu bisa dengan leluasanya langsung ke parkiran di samping pintu masuk, namun kalau pengunjung menggunakan bus seperti saya ya mau nggak mau ya jalan kaki, which is actually not too bad karena pemandangan sepanjang perjalanan dengan pohon-pohonnya yang tinggi cukup membuat perasaan saya jadi adem ayem.
Di papan pengumuman di pintu masuk dituliskan jumlah orangutan yang menjadi 'warga ' Semenggoh (sekitar 25), berikut nama-nama mereka yang sebagian berbau Melayu (Bujang, Laila, Annuar, Delima, Minah) dan sebagian lagi berbau Barat (George, Edwin, Murray, Ritchie, Rose). Selain itu juga dicantumkan usia mereka masing-masing. Saya tidak berapa lama lifespan seekor orangutan, namun yang ada di Semenggoh rata-rata berasal dari dekade 80-an.
My first encounter with orangutans at Semenggoh terjadi begitu saya menyeberangi jembatan masuk ke dalam area pusat rehabilitasi. It's not really hard to guess what was up when so many fellow visitors were looking up at the trees above and there they were, some young orangutans monkeying around the tree branches obviously showing off to the snap-happy humans below. Dalam hati saya berharap bahwa saat feeding time akan lebih banyak lagi orangutan yang muncul untuk diabadikan.
Feeding time sore hari berlangsung dari jam 15:00 hingga 15:30. Lokasinya dicapai melalui jalan setapak ke arah kiri sebelum jembatan masuk ke dalam area pusat rehabilitasi. Begitu jalan setapak dibuka saya termasuk orang pertama yang masuk karena tidak ingin kehilangan good spot untuk mengambil foto orangutan. Designated area untuk para pengunjung dibuat semacam undak-undakan untuk tempat duduk dan jaraknya sekitar 10 meter lebih dari feeding platform. Saya sendiri memilih berdiri tepat di samping pembatas designated area yang berhadapan langsung dengan platform, just to be sure I've got the best spot in the house - so to speak. Nampak seorang ranger sudah bersiap di atas platform dengan setandan buah pisang dan kemudian mulai memanggil orangutan untuk datang makan.
Tidak lama, dari kerimbunan pohon menyeruak seekor orangutan betina dengan menggendong anaknya datang ke platform. Dengan lahapnya dia pun menyantap buah pisang yang disediakan. Sementara dua orang ranger sekarang sibuk memanggil orangutan yang lain. Sepuluh menit berlalu, dan orangutan betina dan anaknya masih tetap menjadi 'bintang' tunggal feeding time saat itu, sementara para ranger nampaknya mulai pasrah bahwa kali ini buah yang mereka sediakan tidak akan di'taksir' orangutan yang lain. Lima menit kemudian sebagian besar pengunjung mulai meninggalkan designated area sementara saya masih terus bertahan dan berharap-harap akan adanya last minute surprise.
Namun pada kenyataannya memang tidak ada lagi orangutan yang muncul pada siang hari itu. Belakangan saya ketahui bahwa bulan Desember memang musim hujan di Sarawak dan pada saat itu biasanya banyak buah yang tumbuh di hutan sehingga para orangutan lebih suka mencari sendiri buah segar untuk dimakan di hutan, kecuali ya kalau memang they're too weak to do that seperti orangutan betina dan anaknya. Dalam hati memang saya agak kecewa karena apa yang saya lihat tidak sebanding dengan 'pengorbanan'nya, tapi saya pikir kalau mau melihat orangutan in the wild ya harus toleransi dengan sifat alamiah si orangutan, kalau nggak ya silakan ke Ragunan atau Taman Safari saja.
Perjumpaan saya berikutnya dengan primata setempat di Kuching jauh lebih berkesan. Taman Nasional Bako merupakan taman nasional tertua di Sarawak. Taman Nasional ini letaknya di ujung semenanjung Muara Tebas. Untuk mencapainya juga memerlukan 'perjuangan' yang tidak sembarangan karena tidak ada jalan darat yang menghubungkannya dengan Kuching. Pertama dengan bus umum selama 45 menit ke Visitors Centre, dilanjutkan dengan perahu bermotor selama 30 menit menyusuri sungai Bako yang konon masih dihuni buaya ...
Muara sungai Bako ini juga unik karena jika air sedang surut maka semua perahu bermotor harus 'puasa' dulu karena sungai dipenuhi lumpur yang bisa membuat baling-baling motor terjebak. Walhasil saat saya berada di sana, saya pun harus bersabar menunggu 2.5 jam sebelum akhirnya beruntung bisa naik perahu yang berangkat paling pertama.
When it comes to wildlife, Taman Nasional Bako punya satu satwa 'primadona' yaitu proboscis monkey alias bekantan (inget dong sama di Dufan, maskotnya Dunia Fantasi?). Berlainan dengan orangutan, bekantan ini konon sangat elusive dan pemalu jadi beruntunglah sekiranya bisa bertemu face-to-face dengan si bekantan ini. Karena waktu saya terbatas saya pun memilih yang terpendek dari beberapa trail yang ada di taman nasional ini.
Menurut brosur yang saya pegang, Telok Paku dapat dicapai dalam waktu 1 jam dari kantor taman nasional. Dilihat dari trail yang memang dibuat dengan rapi, kiranya perlu diacungi jempol bagaimana Malaysia mempersiapkan negaranya untuk para pelancong. Sepanjang perjalanan saya hanya ingat satu pesan: "walk slowly and silently, keep as quit as possible and listen out for sound and movements in the forest" kalau seandainya saya ingin melihat bekantan, and after what happened in Semenggoh I was determined not to return to Kuching without seeing at least one proboscis monkey in the wild. Lima belas menit berlalu ketika saya mendengar suara batang daun patah dekat dari saya. Kamera pun saya keluarkan dari sarungnya dan perlahan namun pasti bergerak ke arah suara tersebut berasal.
Saat saya menuruni jalan setapak yang agak curam, tiba-tiba seekor bekantan melompat ke arah batang pohon tepat di hadapan saya! Wow! Saya pun berhenti tertegun, terpesona. Bekantan jantan muda itu dengan cueknya melanjutkan memanjat pohon sementara saya masih berusaha 'mencerna' keindahan yang baru saja saya saksikan. By the time I got my camera ready the monkey was already too high on the forest canopy for me to get a decent shot, but one thing for sure my first encounter with a wild proboscis monkey will be etched on my mind for a long time!
Ternyata pertemuan saya dengan bekantan di Telok Paku bukanlah untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Saat berjalan kembali menuju kantor taman nasional, beberapa turis yang berpapasan dengan saya nampak menunjuk-nunjuk ke arah bukit di balik saya. Saya pun menoleh dan ... wow! Kembali saya 'ditakjubkan' oleh sekelompok bekantan muda yang sedang sibuk bermain dengan riangnya berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya. Simply amazing!
Karena masih banyak waktu yang tersisa, saya pun memutuskan untuk mencoba satu trail lagi yang konon banyak dijumpai bekantan. Telok Delima letaknya tidak seberapa jauh dari kantor taman nasional, dan medannya pun tidak seberat Telok Paku. Namun saya agak-agak kecewa karena sepanjang perjalanan tidak menjumpai seekorpun bekantan, namun saya menemukan satu air terjun yang berwarna merah karena tingkat keasamannya yang begitu tinggi akibat letaknya di tengah-tengah hutan bakau (by the way, that's how Bako National Park got its name) yang banyak nyamuknya itu (untung saja nggak kena malaria).
Saat berjalan di atas jalan stapak dari papan kayu, tiba-tiba kembali saya mendengar suara yang familiar: suara daun patah! Langsung saja saya menoleh ke arah pohon palem yang berjejer di kiri saya, dan benar saja, nampak dua ekor bekantan dewasa! Tanpa memedulikan saya, mereka pun asyik memanjat naik dan turun pohon-pohon, sementara saya pun asyik mengabadikan mereka dengan kamera saya. Kira-kira lima menit berlalu sebelum akhirnya mereka pun lenyap dari pandangan. Saya pun kembali menuju kantor taman nasional, menjumpai perahu motor yang akan membawa saya kembali ke arah Kuching. Berangkat dengan target menjumpai seekor bekantan, saya pun pulang membawa kenangan berjumpa dengan enam ekor bekantan! Memang sih hanya melihat bekantan (dan bukan bigfoot), tapi no doubt saya merasa orang yang paling beruntung di Taman Nasional Bako hari itu, hehehe.
Saturday, March 28, 2009
How Much Is Your Passport Really Worth?
My face is my passport.
I must admit it's been really a while since my last entry on my blog. Procrastination and laziness both surely played a role in why I only managed to finally update my blog today. Another determining factor is that I've been busy traveling quite a bit these past four months and in this case I think it's actually a good thing because it means I have more stuff to write on my blog. Anyway, I thought I would pick a thought-provoking subject as my first entry of this year.
Untuk seorang traveler seperti saya, memiliki paspor hijau Republik Indonesia lebih merupakan beban daripada blessing karena meski paspor hijau edisi terbaru di halaman pertama (bahkan sebelum sampai di halaman data pemegang paspor) sudah dituliskan: "The Government of the Republic of Indonesia requests to all whom it may concern to allow the bearer to pass freely without let or hindrance and to afford him/her such assistance and protection", kenyataannya tetap saja seseorang yang memegang paspor hijau belum apa-apa sudah dipandang oleh negara lain seolah seorang persona non grata.
Saya pernah melihat satu entry yang menarik di Internet, mengenai ranking paspor yang paling berharga, antara lain dilihat dari kemampuan paspor tersebut untuk memberikan akses mudah bagi pemegangnya masuk ke sebanyak-banyaknya negara. Saya tidak lihat paspor Indonesia di ranking tersebut tapi kalau pun ada pasti urutannya jauh di bawah. Saya tidak heran seandainya paspor Amerika Serikat berada di urutan pertama. Yah, meskipun warganya dipersulit masuk ke beberapa negara di Timur Tengah seperti Iran misalnya (lagipula siapa sih yang mau wisata ke sana???), tetap saja lebih dari 100 negara di dunia membuka pintu gerbangnya lebar-lebar bagi mereka yang 'beruntung' mengantongi paspor biru keluaran negara superpower itu. Bahkan, saya pernah baca bahwa di pasar gelap diperkirakan harga paspor AS curian bisa mencapai setidak $5000 atau lebih! Tentu paspor itu tidak dibutuhkan untuk traveling, tapi untuk masuk ke negara asal tentunya. Saya pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan 11 tahun lalu, saat paspor saya dan beberapa teman saya yang tersimpan di dalam tas dicuri orang di lobby hotel kami di Vancouver, Kanada. Namun sampai saat ini untungnya tidak pernah terdengar kasus paspor saya dimanfaatkan orang untuk maksud-maksud yang tidak baik. Mungkin juga pencurinya kecewa begitu melihat isinya paspor dari negara pariah seperti Indonesia dan langsung dijadikan bungkus kacang goreng (sic).
Di antara negara ASEAN, pemegang paspor Singapura nampaknya yang paling 'beruntung'. Mereka, misalnya, tidak perlu visa untuk masuk ke Amerika Serikat yang terkenal akan imigrasinya yang super ketat (meski sekarang semua orang juga harus memiliki travel authorisation untuk masuk ke AS) . Paspor jiran Malaysia juga masih cukup dihargai karena warganya tidak perlu repot-repot mengurus visa untuk masuk ke negara-negara Eropa, termasuk ke Inggris yang tidak termasuk negara Schengen. Asyik bukan?
Bagaimana dengan paspor Indonesia? Bisa dikatakan, resminya hanya ada 11 negara di dunia yang menganggap paspor Indonesia cukup 'berharga' untuk tidak dikenai peraturan visa yang menyebalkan itu. Negara-negara tersebut adalah: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, Brunei, Vietnam, Hongkong, Macau, Marokko, Chile dan Peru (meski saya tidak yakin yang terakhir ini karena baru-baru ini membaca artikel di majalah Femina yang mengatakan bahwa warga Indonesia cukup membayar visa on arrival untuk masuk Peru - lha, berarti kan negara tersebut tidak lagi bebas visa untuk pemegang paspor hijau?). Namun bebas visa ke 11 negara tadi juga tidak menjamin perlakuan seperti yang dimohon pemerintah Indonesia di halaman pertama paspor. Sudah jamak kita lihat warga Indonesia yang disuruh 'minggir' saat akan masuk ke Singapura (biasanya kalau datang naik ferry dari Batam), bahkan saat saya di Macau saya pun disuruh berdiri menunggu di depan kantor imigrasi selama sekitar 10 menit tanpa diberi penjelasan apa yang salah dengan paspor saya.
Satu kejadian lagi yang buat saya kembali menegaskan betapa memiliki paspor hijau Indonesia merupakan beban daripada blessing adalah saat saya berkunjung ke Korea Selatan. Saat itu saya ke sana dalam rangka training, namun sengaja saya tiba pada saat akhir pekan supaya saya ada kesempatan untuk melihat-lihat Seoul dan sekitarnya. Salah satu impian saya adalah melihat Korea Utara melalu zona demiliterisasi (DMZ) di Panmunjom. Entah mengapa, ternyata tur ke Panmunjom di'monopoli' oleh USO, yaitu sayap sipil angkatan bersenjata AS yang tugasnya "to serve the religious, spiritual, social, welfare, educational, and entertainment needs" dari para anggota angkatan bersenjata AS. Dalam perkembangannya, USO juga membuka pelayanan bagi publik yang tujuannya antara lain ya to raise money untuk kegiatan inti mereka tersebut. Salah satu caranya ya dengan membuka tur tersebut.
Berhubung tur ke Panmunjom tidak setiap hari tersedia jadi semenjak dari Jakarta saya sudah mem'booking' tempat di tur di hari yang saya kehendaki via e-mail. Tidak lama saya pun dapat e-mail balasan yang mengkonfirmasi 'bookingan' saya itu. Karena tidak ingin 'bookingan' saya hangus dan diambil peserta lain, begitu sampai di Seoul maka saya prioritaskan untuk datang ke kantor USO untuk membayar keikutsertaan saya di tur tersebut.
Camp Kim di mana kantor USO berada letaknya cukup strategis di pusat kota Seoul, although not exactly in downtown area. Dengan banyaknya tentara yang berseliweran, baik berpakaian sipil maupun dinas, tidak salah lagi ini memang daerah militer. Kantor USO ternyata tidak terlalu besar, dan ternyata tidak ada pengunjung lain di sana selain saya dan teman saya Julia yang juga saya ajak ikut tur ke Panmunjom. Kami diterima seorang tentara wanita, dan setelah saya berikan konfirmasi 'bookingan' saya, diapun segera memproses pembayaran untuk kami berdua. Uang $100 dollar pun berpindah tangan, dan uang kembali sebesar $12 juga sudah kami terima saat kemudian si tentara wanita bertanya:
"I need to see your passports please."
Paspor hijau pun kami keluarkan dan serahkan kepada si tentara wanita. Sejenak saya lihat ada perubahan pada ekspresi wajahnya, dan saya pun mencoba untuk tidak berburuk sangka. Namun kemudian dia berkata:
"Sorry but you cannot join this tour."
Degg! Bagaikan disambar petir di siang bolong, reaksi pertama saya pun balik bertanya: "But why?"
Dia pun kemudian menunjukkan log booknya dia di mana di sana tercantum "List of Designated Countries" (whatever hell that means), yang mungkin artinya negara-negara yang tidak diperkenankan masuk ke area DMZ di Panmunjom. Saya sempat perhatikan bahwa selain Indonesia, negara-negara lain yang ada di dalam daftar tersebut biasanya adalah 'usual suspects' (baca: negara teroris) seperti Afghanistan, Aljazair, Iran, Irak, Lebanon, Pakistan, Saudi Arabia, Suriah, Sudan, dan Yaman; selain juga 'musuh' perang dingin AS seperti Rusia, RRC, Kuba, Vietnam, Korea Utara (of course!), Ukraina, Kazakhstan dan negara-negara pecahan Uni Sovyet lainnya. Meski kesal, dalam jujur dalam hati saya agak terhibur saat melihat nama Malaysia ada dalam daftar tersebut, hehehe.
Argumen saya bahwa kalau memang pemegang paspor Indonesia tidak diperkenankan kenapa 'bookingan' saya dikonfirmasi ternyata hanya mendapat another "I'm sorry" reaction. Akhirnya dengan berat hati uang kembalian yang sudah dipegang bertukar tangan lagi dengan lembar $100 dollar yang sudah diberikan.
Dengan langkah gontai saya pun berjalan keluar kantor USO, sambil mengubur impian saya dalam-dalam untuk dapat 'melongok' negara Korea Utara melalui DMZ di Panmunjom yang legendaris itu. Yah, gara-gara paspor hijau ...
(Vladimir Horowitz)
I must admit it's been really a while since my last entry on my blog. Procrastination and laziness both surely played a role in why I only managed to finally update my blog today. Another determining factor is that I've been busy traveling quite a bit these past four months and in this case I think it's actually a good thing because it means I have more stuff to write on my blog. Anyway, I thought I would pick a thought-provoking subject as my first entry of this year.
Untuk seorang traveler seperti saya, memiliki paspor hijau Republik Indonesia lebih merupakan beban daripada blessing karena meski paspor hijau edisi terbaru di halaman pertama (bahkan sebelum sampai di halaman data pemegang paspor) sudah dituliskan: "The Government of the Republic of Indonesia requests to all whom it may concern to allow the bearer to pass freely without let or hindrance and to afford him/her such assistance and protection", kenyataannya tetap saja seseorang yang memegang paspor hijau belum apa-apa sudah dipandang oleh negara lain seolah seorang persona non grata.
Saya pernah melihat satu entry yang menarik di Internet, mengenai ranking paspor yang paling berharga, antara lain dilihat dari kemampuan paspor tersebut untuk memberikan akses mudah bagi pemegangnya masuk ke sebanyak-banyaknya negara. Saya tidak lihat paspor Indonesia di ranking tersebut tapi kalau pun ada pasti urutannya jauh di bawah. Saya tidak heran seandainya paspor Amerika Serikat berada di urutan pertama. Yah, meskipun warganya dipersulit masuk ke beberapa negara di Timur Tengah seperti Iran misalnya (lagipula siapa sih yang mau wisata ke sana???), tetap saja lebih dari 100 negara di dunia membuka pintu gerbangnya lebar-lebar bagi mereka yang 'beruntung' mengantongi paspor biru keluaran negara superpower itu. Bahkan, saya pernah baca bahwa di pasar gelap diperkirakan harga paspor AS curian bisa mencapai setidak $5000 atau lebih! Tentu paspor itu tidak dibutuhkan untuk traveling, tapi untuk masuk ke negara asal tentunya. Saya pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan 11 tahun lalu, saat paspor saya dan beberapa teman saya yang tersimpan di dalam tas dicuri orang di lobby hotel kami di Vancouver, Kanada. Namun sampai saat ini untungnya tidak pernah terdengar kasus paspor saya dimanfaatkan orang untuk maksud-maksud yang tidak baik. Mungkin juga pencurinya kecewa begitu melihat isinya paspor dari negara pariah seperti Indonesia dan langsung dijadikan bungkus kacang goreng (sic).
Di antara negara ASEAN, pemegang paspor Singapura nampaknya yang paling 'beruntung'. Mereka, misalnya, tidak perlu visa untuk masuk ke Amerika Serikat yang terkenal akan imigrasinya yang super ketat (meski sekarang semua orang juga harus memiliki travel authorisation untuk masuk ke AS) . Paspor jiran Malaysia juga masih cukup dihargai karena warganya tidak perlu repot-repot mengurus visa untuk masuk ke negara-negara Eropa, termasuk ke Inggris yang tidak termasuk negara Schengen. Asyik bukan?
Bagaimana dengan paspor Indonesia? Bisa dikatakan, resminya hanya ada 11 negara di dunia yang menganggap paspor Indonesia cukup 'berharga' untuk tidak dikenai peraturan visa yang menyebalkan itu. Negara-negara tersebut adalah: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, Brunei, Vietnam, Hongkong, Macau, Marokko, Chile dan Peru (meski saya tidak yakin yang terakhir ini karena baru-baru ini membaca artikel di majalah Femina yang mengatakan bahwa warga Indonesia cukup membayar visa on arrival untuk masuk Peru - lha, berarti kan negara tersebut tidak lagi bebas visa untuk pemegang paspor hijau?). Namun bebas visa ke 11 negara tadi juga tidak menjamin perlakuan seperti yang dimohon pemerintah Indonesia di halaman pertama paspor. Sudah jamak kita lihat warga Indonesia yang disuruh 'minggir' saat akan masuk ke Singapura (biasanya kalau datang naik ferry dari Batam), bahkan saat saya di Macau saya pun disuruh berdiri menunggu di depan kantor imigrasi selama sekitar 10 menit tanpa diberi penjelasan apa yang salah dengan paspor saya.
Satu kejadian lagi yang buat saya kembali menegaskan betapa memiliki paspor hijau Indonesia merupakan beban daripada blessing adalah saat saya berkunjung ke Korea Selatan. Saat itu saya ke sana dalam rangka training, namun sengaja saya tiba pada saat akhir pekan supaya saya ada kesempatan untuk melihat-lihat Seoul dan sekitarnya. Salah satu impian saya adalah melihat Korea Utara melalu zona demiliterisasi (DMZ) di Panmunjom. Entah mengapa, ternyata tur ke Panmunjom di'monopoli' oleh USO, yaitu sayap sipil angkatan bersenjata AS yang tugasnya "to serve the religious, spiritual, social, welfare, educational, and entertainment needs" dari para anggota angkatan bersenjata AS. Dalam perkembangannya, USO juga membuka pelayanan bagi publik yang tujuannya antara lain ya to raise money untuk kegiatan inti mereka tersebut. Salah satu caranya ya dengan membuka tur tersebut.
Berhubung tur ke Panmunjom tidak setiap hari tersedia jadi semenjak dari Jakarta saya sudah mem'booking' tempat di tur di hari yang saya kehendaki via e-mail. Tidak lama saya pun dapat e-mail balasan yang mengkonfirmasi 'bookingan' saya itu. Karena tidak ingin 'bookingan' saya hangus dan diambil peserta lain, begitu sampai di Seoul maka saya prioritaskan untuk datang ke kantor USO untuk membayar keikutsertaan saya di tur tersebut.
Camp Kim di mana kantor USO berada letaknya cukup strategis di pusat kota Seoul, although not exactly in downtown area. Dengan banyaknya tentara yang berseliweran, baik berpakaian sipil maupun dinas, tidak salah lagi ini memang daerah militer. Kantor USO ternyata tidak terlalu besar, dan ternyata tidak ada pengunjung lain di sana selain saya dan teman saya Julia yang juga saya ajak ikut tur ke Panmunjom. Kami diterima seorang tentara wanita, dan setelah saya berikan konfirmasi 'bookingan' saya, diapun segera memproses pembayaran untuk kami berdua. Uang $100 dollar pun berpindah tangan, dan uang kembali sebesar $12 juga sudah kami terima saat kemudian si tentara wanita bertanya:
"I need to see your passports please."
Paspor hijau pun kami keluarkan dan serahkan kepada si tentara wanita. Sejenak saya lihat ada perubahan pada ekspresi wajahnya, dan saya pun mencoba untuk tidak berburuk sangka. Namun kemudian dia berkata:
"Sorry but you cannot join this tour."
Degg! Bagaikan disambar petir di siang bolong, reaksi pertama saya pun balik bertanya: "But why?"
Dia pun kemudian menunjukkan log booknya dia di mana di sana tercantum "List of Designated Countries" (whatever hell that means), yang mungkin artinya negara-negara yang tidak diperkenankan masuk ke area DMZ di Panmunjom. Saya sempat perhatikan bahwa selain Indonesia, negara-negara lain yang ada di dalam daftar tersebut biasanya adalah 'usual suspects' (baca: negara teroris) seperti Afghanistan, Aljazair, Iran, Irak, Lebanon, Pakistan, Saudi Arabia, Suriah, Sudan, dan Yaman; selain juga 'musuh' perang dingin AS seperti Rusia, RRC, Kuba, Vietnam, Korea Utara (of course!), Ukraina, Kazakhstan dan negara-negara pecahan Uni Sovyet lainnya. Meski kesal, dalam jujur dalam hati saya agak terhibur saat melihat nama Malaysia ada dalam daftar tersebut, hehehe.
Argumen saya bahwa kalau memang pemegang paspor Indonesia tidak diperkenankan kenapa 'bookingan' saya dikonfirmasi ternyata hanya mendapat another "I'm sorry" reaction. Akhirnya dengan berat hati uang kembalian yang sudah dipegang bertukar tangan lagi dengan lembar $100 dollar yang sudah diberikan.
Dengan langkah gontai saya pun berjalan keluar kantor USO, sambil mengubur impian saya dalam-dalam untuk dapat 'melongok' negara Korea Utara melalui DMZ di Panmunjom yang legendaris itu. Yah, gara-gara paspor hijau ...
Saturday, November 29, 2008
Bitchin' and Slappin' about VIY 2008
My country, right or wrong.
(Stephen Decatur)
OK, let me begin by asking a few questions. Do you know where Indonesia is? Some of you do? Fair enough. Do you know that 2008 has been designated as the Visit Indonesia Year? I see some locals raise their hands. Now, do you know any particular reasons why you should visit Indonesia during the Visit Indonesia Year? No? I rest my case.
Sometimes it doesn't take too many questions to find out whether something is destined to succeed or to fail. Visit Indonesia Year, unfortunately, is one of the latter. Right from the beginning it was a failure waiting to happen. Oke, coba bayangkan, launched only in December 2007, kalau memang pemerintah Indonesia mengerti mengenai marketing yang baik, tentu gaung mengenai Visit Indonesia Year atau VIY 2008 ini seharusnya sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan dari tahun 2006 kalau perlu untuk meningkatkan awareness.
Tapi justru satu hal yang paling saya ingat mengenai peluncuran VIY 2008 adalah blunder yang dilakukan pemerintah ketika mereka mendadak menyadari bahwa slogan kegiatan yang seharusnya menjadi kebanggaan 230 juta lebih penduduk Indonesia ini ternyata bahasa Inggrisnya keliru, yaitu "celebrating 100 years of nation's awakening" padahal seharusnya adalah "celebrating 100 years of national awakening". Memang sih bedanya hanya dua huruf, tapi ya tetap saja fatal dan embarassing, ketahuan bahwa sudah 62 tahu
n merdeka (tahun 2007 ya) tapi masih saja bahasa Inggris orang Indonesia belepotan. Hasilnya ya itu, belum apa-apa pemerintah harus mengeluarkan uang lagi untuk cetak ulang ribuan brosur yang sudah terlanjur dicetak, termasuk juga mengecat ulang badan pesawat Garuda yang sudah keburu memajang 'dengan bangganya' logo dengan slogan yang error ini (lihat gambar). Yang saya tidak mengerti sampai sekarang adalah kenapa sih slogan itu yang dipilih? Apa spesialnya mengenai national awakening Indonesia sehingga membuat wisatawan asing harus berkunjung ke sini? Wong seingat saya peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2008 berlalu begitu saja koq. Jangan-jangan, pemerintah kita cuma bisa mengekor saja salah satu negara tetangga yang pada tahun 2007 sukses menyelenggarakan tahun kunjungan wisatanya dengan menjual slogan 'celebrating 50 years of nationhood' (kalau saya berani-berani sebut nama negaranya nanti saya bisa 'dihujani' death threats - so typically Indonesian, heheh).
Sebenarnya Indonesia punya slogan pariwisata yang sangat bagus. Kalau Malaysia terkenal dengan "Truly Asia"-nya kemudian Thailand dengan "Amazing Thailand", dan Philippines dengan "Wow! Philippines", maka Indonesia punya "Ultimate in Diversity" yang menurut saya lebih pantas dibanggakan dan 'dijual' daripada "celebrating 100 years of national awakening". Ya, di Asia Tenggara, bahkan dunia sekalipun, Indonesia tidak ada tandingannya dalam hal diversity, baik dalam hal budayanya (over 200 ethnic groups!), alamnya (17,000 islands to choose from) maupun jenis atraksinya (World Heritage ancient temples, pristine rainforests, countless white sandy beaches, multicoloured volcanic lakes, surfing meccas, underwater wonders, vibrant nightlife, my goodness the list just goes on and on). Plus, if you love the food like me, then you would find a hard time trying to define what Indonesian cuisine really is because it's so diverse - and yet, it's all so damn yummy! On top of that, with our currency being very weak it means Indonesia is also one of the cheapest travel destinations you could find anywhere on earth!
OK, so what's the problem? Indonesia boleh saja bergonta-ganti presiden - sekarang sudah yang keempat dalam 10 tahun terakhir - tapi toh yang namanya corruption dan mismanagement masih terus 'dibudayakan'. Hal ini tentu berdampak pada anggaran promosi yang seharusnya justru digenjot untuk mensukseskan event besar seperti VIY 2008 ini. Terus terang saya suka miris dan iri kalau melihat tayangan iklan di TV yang mempromosikan pariwisata di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Iklannya begitu mempesona sehingga membuat saya berpikir saya saja yang sudah berulang kali mengunjungi negara-negara itu jadi tergoda berkunjung lagi, bagaimana dengan mereka yang belum? Sementara iklan VIY 2008 yang saya lihat di TV frekuensinya sangat jarang. And don't get me started on the Indonesian tourism ad on the cinema ... ya ampun, saya tidak bermaksud menghina tapi ya masa' kualitas gambarnya seburuk itu, membuat saya yang menonton ingin agar iklan itu cepat-cepat berlalu karena jijik (sic).
Kurangnya iklan promosi VIY 2008 juga 'didukung' oleh ketiadaan printed promotional material yang memadai. Saya ingat ketika berada di bandara internasional Ninoy Aquino di Manila, di setiap dinding kosong dipasangi foto ukuran raksasa dari tempat-tempat wisata di negara itu. Saya yang belum pernah mendengar sebagian dari tempat-tempat itu terus terang menjadi tertarik untuk berkunjung atau at least mencari tahu, hanya oleh karena hal sesimple itu. Mungkin ini perlu dicontoh di gerbang-gerbang masuk utama di Indonesia, seperti Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Ngurah Rai, Bandara Djuanda, Pelabuhan Batam Centre, dan lain sebagainya, karena toh saya yakin di tempat-tempat itu masih banyak dinding-dinding maupun space-space kosong lainnya yang 'dianggurkan' begitu saja ...
Di era informasi sekarang ini, satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah official tourism website. Indonesia nampaknya memang tidak ketinggalan untuk yang satu ini, tapi sayangnya alamat websitenya tidak begitu populer. Ya, karena saya perhatikan selama beberapa tahun pemerintah Indonesia nampaknya 'berkutat' sebelum akhirnya menemukan alamat website yang klop untuk merepresentasikan pariwisata Indonesia di www.my-indonesia.info. Secara pribadi agak aneh juga kenapa "my Indonesia" yang dipilih, seakan menegaskan bahwa Indonesia itu adalah milik "saya", bukan milik "kamu". Apa yang terjadi dengan nama "visit Indonesia", misalnya, nampaknya lagi-lagi pemerintah Indonesia kalah dengan net-squatter. Name choice aside, sayangnya website resmi pariwisata Indonesia itu kurang mendetail dan komprehensif, sehingga kesannya 'nanggung', dan saya rasa tidak akan banyak berdampak dalam mendongkrak minat warga asing untuk berkunjung ke Indonesia (coba bandingkan saja dengan www.visitkorea.or.kr - rasanya benar-benar tidak perlu beli guidebook).
Sebenarnya ini bukan kali pertama Indonesia menyelenggarakan event VIY. Saya masih ingat ketika di SMA (whoa, ketahuan nih sudah tidak muda lagi, hehe), rezim yang terdahulu menggelar Visit Indonesia Year 1991, lengkap dengan si 'Bacusa' alias Badak Cula Satu sebagai maskotnya dan slogan "let's go archipelago". Sampai sekarang saya masih ingat dengan event tersebut dan koq ya cukup sukses. Terbukti VIY 1991, berhasil mendongkrak kedatangan wisatawan asing ke Indonesia di tahun berikutnya sebanyak 20%! Terlepas dari 'dosa-dosa' rezim 'EMS', dalam hal pariwisata kita harus angkat topi karena dalam hal persiapan dan juga marketing, rezim terdahulu jauh lebih sigap. Sebagai contoh, VIY 1991 dicanangkan berdasarkan keppres tahun 1989, bukan dadakan karena mau mengekor kesuksesan negara tetangga ...
Lalu, apalagi masalahnya? Di dekade di mana dunia disibukkan dengan war on terror, keamanan tentu punya dampak yang cukup besar terhadap pariwisata sebuah negara. Pertanyaannya: apakah negara yang 'tidak aman' otomatis wisawatan enggan berkunjung ke sana? Membaca perkembangan dunia akhir-akhir ini, saya kembali harus mengurut dada. "Bandara dikepung, semua penerbangan lumpuh" - demikian headline salah satu koran nasional terbesar mengomentari para demonstran anti-pemerintah yang menduduki kedua bandara utama di Bangkok, yang notabene adalah gerbang utama negara Thailand. Ini sebenarnya adalah rentetan dari sekian banyak kejadian belakangan ini yang menimpa Land of Smiles itu akibat terjadinya gonjang-ganjing politik, termasuk perang dengan Kamboja, dan beberapa kali pengeboman, termasuk yang memakan korban wisatawan asing. Lantas, apakah kemudian wisatawan asing menghindari Thailand? Hoho, no way josé! Tourists will still flock to Thailand and the country will still receive more tourists than poor Indonesia. Kenapa? Ya itulah, pemerintah Thailand memang sudah serius dan committed sekali dengan pariwisatanya sehingga wisatawan asing sudah 'terhipnotis' oleh image Thailand yang begitu mempesona, tidak peduli negaranya sedang 'amburadul'. Coba bayangkan kalau bandara di Jakarta diduduki oleh demonstran - hampir dapat dipastikan negara-negara asing akan langsung meng-update website mereka dan langsung memberlakukan travel warning untuk seluruh wilayah Indonesia!
Satu lagi perbandingan yang cukup menarik saya bahas adalah India. Negara yang berulang kali menjadi lokasi persinggahan "The Amazing Race" ini (Indonesia: tidak pernah!), baru-baru ini dikejutkan oleh teror sekelompok bersenjata yang menyerang target-target strategis di kota terbesar Mumbai (termasuk dua hotel bintang lima!) , di mana dilaporkan warga negara asing dijadikan sasaran utamanya. Memang sangat memprihatinkan apa yang terjadi di sana, namun sebenarnya benih-benih untuk kejadian seperti itu sudah ada sejak beberapa tahun terakhir. Coba lihat, dari tahun 2006 hingga hari ini, total sudah lebih dari 900 (!) orang tak bersalah jadi korban terorisme di India. Bagaimana dengan Indonesia? Nol besar! Tapi, apa yang terjadi? Mari kita ambil contoh pemerintah Australia. Saat terdengar kabar Mumbai diserang, barulah mereka memasang travel warning tapi khusus untuk Mumbai. Barulah ketika insiden di Mumbai terungkap, mereka memasang travel warning untuk seluruh India. Bagaimana 'nasib' Indonesia? Well, pemerintah Australia justru menyambut VIY 2008 bukannya dengan mencabut travel warning mereka untuk Indonesia, namun malah 'meningkatkan'nya terutama sejak menjelang eksekusi Trio Bom Bali. Nyatanya, sampai detik ini, alhamdulillah, Indonesia masih aman-aman saja tuh ...
Kembali lagi ke VIY 2008. Memang dari judul tulisan saya ini bisa ditebak arahnya ke mana. Boleh dong sekali-kali saya menumpahkan uneg-uneg saya, apalagi ini juga masih ada hubungannya dengan traveling (besides, it's my blog I'm entitled to writing whatever I want in it, hehe :-D) Anyway, beberapa hari yang lalu, headline sebuah berita di koran nasional seolah menegaskan apa yang sebenarnya sudah dapat diprediksi "Depbudpar: Berat Capai Target Tujuh Juta Wisman". Ya, dengan jumlah wisatawan yang hanya mencapai 4,57 juta hingga September kemarin, bisa dipastikan target kedatangan tujuh juta wisatawan asing selama VIY 2008 bisa dipastikan akan meleset. Bahkan, jika jumlahnya mencapai lebih dari 6 juta orang saja sudah untung karena kuartal terakhir 2008 bisa dibilang berat mengingat dampak krisis ekonomi global yang membuat orang tidak punya uang untuk bepergian jauh (sadly, I'm one of the victims too :-<).
Alors, quoi faire? Pariwisata memang sepatutnya menjadi andalan Indonesia karena memang tidak ada negara lain yang mempunyai atraksi wisata yang begitu diverse seperti Indonesia. Namun, sebelum kita mulai menggembar-gemborkan pariwisata Indonesia masih ada banyak hal yang perlu dibenahi. Pertama, ke dalam, yaitu perbaikan sarana dan prasarana pariwisata. Jalan-jalan menuju dan juga di dalam obyek pariwisata harus dalam keadaan baik (kecuali obyek wisata yang memang mengutamakan keaslian alam tentunya) untuk memperlancar akses. Begitu juga dengan ketersediaan transportasi. Kalau bisa, pastikan semuanya tersedia dalam fixed price, jangan sampai hal ini memberikan kesempatan untuk malah 'menggetok' wisatawan asing (siapapun tentu tidak suka ditipu). Kemudian juga sarana-sarana penunjang, seperti rumah makan, penginapan, dan tak kalah pentingnya adalah kamar mandi umum yang layak dan tidak jorok. Kebersihan juga penting karena banyak orang Indonesia yang masih terbiasa membuang sampah sembarangan (saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Indonesia menerapkan peraturan seperti di Seoul, Korea, yang nyaris meniadakan tempat sampah di tempat-tempat umum - wah, kejadian Bandung 'lautan sampah' bisa terjadi lagi!). Satu lagi yang tidak kalah pentingnya tentu saja adalah keamanan. Dalam hal ini pemerintah punya tanggung jawab yang besar dan berat guna memastikan agar tidak 'kecolongan' lagi.
Kalau hal pertama di atas sudah beres, tentu baru kita bisa memulai dengan hal yang kedua, yaitu ke luar, dalam arti menggiatkan promosi ke luar Indonesia. Hal ini tentunya harus didukung oleh anggaran promosi pariwisata yang cukup besar dan berkesinambungan. Buatlah printed promotional material sebanyak-banyak dan jangan ragu untuk menyebarkannya. Pasanglah iklan pariwisata Indonesia yang menarik dan tidak asal jadi, dan pastikan iklan-iklan tersebut mencapai target audience yang diinginkan melalui media yang tepat pula. Jangan sampai iklan pariwisata Indonesia malah dipasang di acara dokumenter mengenai Bom Bali - oh lala! Kemudian, rombaklah website pariwisata Indonesia - kalau perlu, cari alamat yang lebih mudah diingat (jangan sampai kalau orang meng-google yang muncul pertama malah justru website pariwisata yang unofficial) dan informasi pariwisata yang mendetail dan komprehensif, kalau perlu buat yang lebih hebat dari website pariwisata Korea yang saya sebut di atas (boleh dong berandai-andai).
Saya tidak setuju kalau kedua hal di atas berjalan bersamaan. Alasannya mudah saja karena wisatawan asing pasti akan kecewa jika sudah jauh-jauh datang ke Indonesia ternyata menemukan keadaan tidak seperti yang dijanjikan akibat ketidaksiapan saran dan prasarana. Bukan saja mereka tidak akan kembali ke sini, mereka juga kemungkinan besar akan memberitahu para kenalannya supaya menghindari Indonesia.
Dengan pembenahan yang serius ke dalam dan ke luar, pariwisata Indonesia tentu tidak akan lagi membutuhkan event khusus semacam VIY 2008 because every year will be a visit Indonesia year. Last but not least, cari juga slogan pariwisata Indonesia yang simple, catchy dan original (sekali lagi, buang jauh-jauh kebiasaan mengekor negara tetangga - Yogyakarta: Neverending Asia? WTF?) sehingga setiap kali mendengarnya wisatawan asing langsung tergoda dan setidaknya ingin tahu mengenai negara kita. Indonesia? Ya ya ya!
Sometimes it doesn't take too many questions to find out whether something is destined to succeed or to fail. Visit Indonesia Year, unfortunately, is one of the latter. Right from the beginning it was a failure waiting to happen. Oke, coba bayangkan, launched only in December 2007, kalau memang pemerintah Indonesia mengerti mengenai marketing yang baik, tentu gaung mengenai Visit Indonesia Year atau VIY 2008 ini seharusnya sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan dari tahun 2006 kalau perlu untuk meningkatkan awareness.
Tapi justru satu hal yang paling saya ingat mengenai peluncuran VIY 2008 adalah blunder yang dilakukan pemerintah ketika mereka mendadak menyadari bahwa slogan kegiatan yang seharusnya menjadi kebanggaan 230 juta lebih penduduk Indonesia ini ternyata bahasa Inggrisnya keliru, yaitu "celebrating 100 years of nation's awakening" padahal seharusnya adalah "celebrating 100 years of national awakening". Memang sih bedanya hanya dua huruf, tapi ya tetap saja fatal dan embarassing, ketahuan bahwa sudah 62 tahu
Sebenarnya Indonesia punya slogan pariwisata yang sangat bagus. Kalau Malaysia terkenal dengan "Truly Asia"-nya kemudian Thailand dengan "Amazing Thailand", dan Philippines dengan "Wow! Philippines", maka Indonesia punya "Ultimate in Diversity" yang menurut saya lebih pantas dibanggakan dan 'dijual' daripada "celebrating 100 years of national awakening". Ya, di Asia Tenggara, bahkan dunia sekalipun, Indonesia tidak ada tandingannya dalam hal diversity, baik dalam hal budayanya (over 200 ethnic groups!), alamnya (17,000 islands to choose from) maupun jenis atraksinya (World Heritage ancient temples, pristine rainforests, countless white sandy beaches, multicoloured volcanic lakes, surfing meccas, underwater wonders, vibrant nightlife, my goodness the list just goes on and on). Plus, if you love the food like me, then you would find a hard time trying to define what Indonesian cuisine really is because it's so diverse - and yet, it's all so damn yummy! On top of that, with our currency being very weak it means Indonesia is also one of the cheapest travel destinations you could find anywhere on earth!
OK, so what's the problem? Indonesia boleh saja bergonta-ganti presiden - sekarang sudah yang keempat dalam 10 tahun terakhir - tapi toh yang namanya corruption dan mismanagement masih terus 'dibudayakan'. Hal ini tentu berdampak pada anggaran promosi yang seharusnya justru digenjot untuk mensukseskan event besar seperti VIY 2008 ini. Terus terang saya suka miris dan iri kalau melihat tayangan iklan di TV yang mempromosikan pariwisata di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Iklannya begitu mempesona sehingga membuat saya berpikir saya saja yang sudah berulang kali mengunjungi negara-negara itu jadi tergoda berkunjung lagi, bagaimana dengan mereka yang belum? Sementara iklan VIY 2008 yang saya lihat di TV frekuensinya sangat jarang. And don't get me started on the Indonesian tourism ad on the cinema ... ya ampun, saya tidak bermaksud menghina tapi ya masa' kualitas gambarnya seburuk itu, membuat saya yang menonton ingin agar iklan itu cepat-cepat berlalu karena jijik (sic).
Kurangnya iklan promosi VIY 2008 juga 'didukung' oleh ketiadaan printed promotional material yang memadai. Saya ingat ketika berada di bandara internasional Ninoy Aquino di Manila, di setiap dinding kosong dipasangi foto ukuran raksasa dari tempat-tempat wisata di negara itu. Saya yang belum pernah mendengar sebagian dari tempat-tempat itu terus terang menjadi tertarik untuk berkunjung atau at least mencari tahu, hanya oleh karena hal sesimple itu. Mungkin ini perlu dicontoh di gerbang-gerbang masuk utama di Indonesia, seperti Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Ngurah Rai, Bandara Djuanda, Pelabuhan Batam Centre, dan lain sebagainya, karena toh saya yakin di tempat-tempat itu masih banyak dinding-dinding maupun space-space kosong lainnya yang 'dianggurkan' begitu saja ...
Di era informasi sekarang ini, satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah official tourism website. Indonesia nampaknya memang tidak ketinggalan untuk yang satu ini, tapi sayangnya alamat websitenya tidak begitu populer. Ya, karena saya perhatikan selama beberapa tahun pemerintah Indonesia nampaknya 'berkutat' sebelum akhirnya menemukan alamat website yang klop untuk merepresentasikan pariwisata Indonesia di www.my-indonesia.info. Secara pribadi agak aneh juga kenapa "my Indonesia" yang dipilih, seakan menegaskan bahwa Indonesia itu adalah milik "saya", bukan milik "kamu". Apa yang terjadi dengan nama "visit Indonesia", misalnya, nampaknya lagi-lagi pemerintah Indonesia kalah dengan net-squatter. Name choice aside, sayangnya website resmi pariwisata Indonesia itu kurang mendetail dan komprehensif, sehingga kesannya 'nanggung', dan saya rasa tidak akan banyak berdampak dalam mendongkrak minat warga asing untuk berkunjung ke Indonesia (coba bandingkan saja dengan www.visitkorea.or.kr - rasanya benar-benar tidak perlu beli guidebook).
Sebenarnya ini bukan kali pertama Indonesia menyelenggarakan event VIY. Saya masih ingat ketika di SMA (whoa, ketahuan nih sudah tidak muda lagi, hehe), rezim yang terdahulu menggelar Visit Indonesia Year 1991, lengkap dengan si 'Bacusa' alias Badak Cula Satu sebagai maskotnya dan slogan "let's go archipelago". Sampai sekarang saya masih ingat dengan event tersebut dan koq ya cukup sukses. Terbukti VIY 1991, berhasil mendongkrak kedatangan wisatawan asing ke Indonesia di tahun berikutnya sebanyak 20%! Terlepas dari 'dosa-dosa' rezim 'EMS', dalam hal pariwisata kita harus angkat topi karena dalam hal persiapan dan juga marketing, rezim terdahulu jauh lebih sigap. Sebagai contoh, VIY 1991 dicanangkan berdasarkan keppres tahun 1989, bukan dadakan karena mau mengekor kesuksesan negara tetangga ...
Lalu, apalagi masalahnya? Di dekade di mana dunia disibukkan dengan war on terror, keamanan tentu punya dampak yang cukup besar terhadap pariwisata sebuah negara. Pertanyaannya: apakah negara yang 'tidak aman' otomatis wisawatan enggan berkunjung ke sana? Membaca perkembangan dunia akhir-akhir ini, saya kembali harus mengurut dada. "Bandara dikepung, semua penerbangan lumpuh" - demikian headline salah satu koran nasional terbesar mengomentari para demonstran anti-pemerintah yang menduduki kedua bandara utama di Bangkok, yang notabene adalah gerbang utama negara Thailand. Ini sebenarnya adalah rentetan dari sekian banyak kejadian belakangan ini yang menimpa Land of Smiles itu akibat terjadinya gonjang-ganjing politik, termasuk perang dengan Kamboja, dan beberapa kali pengeboman, termasuk yang memakan korban wisatawan asing. Lantas, apakah kemudian wisatawan asing menghindari Thailand? Hoho, no way josé! Tourists will still flock to Thailand and the country will still receive more tourists than poor Indonesia. Kenapa? Ya itulah, pemerintah Thailand memang sudah serius dan committed sekali dengan pariwisatanya sehingga wisatawan asing sudah 'terhipnotis' oleh image Thailand yang begitu mempesona, tidak peduli negaranya sedang 'amburadul'. Coba bayangkan kalau bandara di Jakarta diduduki oleh demonstran - hampir dapat dipastikan negara-negara asing akan langsung meng-update website mereka dan langsung memberlakukan travel warning untuk seluruh wilayah Indonesia!
Satu lagi perbandingan yang cukup menarik saya bahas adalah India. Negara yang berulang kali menjadi lokasi persinggahan "The Amazing Race" ini (Indonesia: tidak pernah!), baru-baru ini dikejutkan oleh teror sekelompok bersenjata yang menyerang target-target strategis di kota terbesar Mumbai (termasuk dua hotel bintang lima!) , di mana dilaporkan warga negara asing dijadikan sasaran utamanya. Memang sangat memprihatinkan apa yang terjadi di sana, namun sebenarnya benih-benih untuk kejadian seperti itu sudah ada sejak beberapa tahun terakhir. Coba lihat, dari tahun 2006 hingga hari ini, total sudah lebih dari 900 (!) orang tak bersalah jadi korban terorisme di India. Bagaimana dengan Indonesia? Nol besar! Tapi, apa yang terjadi? Mari kita ambil contoh pemerintah Australia. Saat terdengar kabar Mumbai diserang, barulah mereka memasang travel warning tapi khusus untuk Mumbai. Barulah ketika insiden di Mumbai terungkap, mereka memasang travel warning untuk seluruh India. Bagaimana 'nasib' Indonesia? Well, pemerintah Australia justru menyambut VIY 2008 bukannya dengan mencabut travel warning mereka untuk Indonesia, namun malah 'meningkatkan'nya terutama sejak menjelang eksekusi Trio Bom Bali. Nyatanya, sampai detik ini, alhamdulillah, Indonesia masih aman-aman saja tuh ...
Kembali lagi ke VIY 2008. Memang dari judul tulisan saya ini bisa ditebak arahnya ke mana. Boleh dong sekali-kali saya menumpahkan uneg-uneg saya, apalagi ini juga masih ada hubungannya dengan traveling (besides, it's my blog I'm entitled to writing whatever I want in it, hehe :-D) Anyway, beberapa hari yang lalu, headline sebuah berita di koran nasional seolah menegaskan apa yang sebenarnya sudah dapat diprediksi "Depbudpar: Berat Capai Target Tujuh Juta Wisman". Ya, dengan jumlah wisatawan yang hanya mencapai 4,57 juta hingga September kemarin, bisa dipastikan target kedatangan tujuh juta wisatawan asing selama VIY 2008 bisa dipastikan akan meleset. Bahkan, jika jumlahnya mencapai lebih dari 6 juta orang saja sudah untung karena kuartal terakhir 2008 bisa dibilang berat mengingat dampak krisis ekonomi global yang membuat orang tidak punya uang untuk bepergian jauh (sadly, I'm one of the victims too :-<).
Alors, quoi faire? Pariwisata memang sepatutnya menjadi andalan Indonesia karena memang tidak ada negara lain yang mempunyai atraksi wisata yang begitu diverse seperti Indonesia. Namun, sebelum kita mulai menggembar-gemborkan pariwisata Indonesia masih ada banyak hal yang perlu dibenahi. Pertama, ke dalam, yaitu perbaikan sarana dan prasarana pariwisata. Jalan-jalan menuju dan juga di dalam obyek pariwisata harus dalam keadaan baik (kecuali obyek wisata yang memang mengutamakan keaslian alam tentunya) untuk memperlancar akses. Begitu juga dengan ketersediaan transportasi. Kalau bisa, pastikan semuanya tersedia dalam fixed price, jangan sampai hal ini memberikan kesempatan untuk malah 'menggetok' wisatawan asing (siapapun tentu tidak suka ditipu). Kemudian juga sarana-sarana penunjang, seperti rumah makan, penginapan, dan tak kalah pentingnya adalah kamar mandi umum yang layak dan tidak jorok. Kebersihan juga penting karena banyak orang Indonesia yang masih terbiasa membuang sampah sembarangan (saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Indonesia menerapkan peraturan seperti di Seoul, Korea, yang nyaris meniadakan tempat sampah di tempat-tempat umum - wah, kejadian Bandung 'lautan sampah' bisa terjadi lagi!). Satu lagi yang tidak kalah pentingnya tentu saja adalah keamanan. Dalam hal ini pemerintah punya tanggung jawab yang besar dan berat guna memastikan agar tidak 'kecolongan' lagi.
Kalau hal pertama di atas sudah beres, tentu baru kita bisa memulai dengan hal yang kedua, yaitu ke luar, dalam arti menggiatkan promosi ke luar Indonesia. Hal ini tentunya harus didukung oleh anggaran promosi pariwisata yang cukup besar dan berkesinambungan. Buatlah printed promotional material sebanyak-banyak dan jangan ragu untuk menyebarkannya. Pasanglah iklan pariwisata Indonesia yang menarik dan tidak asal jadi, dan pastikan iklan-iklan tersebut mencapai target audience yang diinginkan melalui media yang tepat pula. Jangan sampai iklan pariwisata Indonesia malah dipasang di acara dokumenter mengenai Bom Bali - oh lala! Kemudian, rombaklah website pariwisata Indonesia - kalau perlu, cari alamat yang lebih mudah diingat (jangan sampai kalau orang meng-google yang muncul pertama malah justru website pariwisata yang unofficial) dan informasi pariwisata yang mendetail dan komprehensif, kalau perlu buat yang lebih hebat dari website pariwisata Korea yang saya sebut di atas (boleh dong berandai-andai).
Saya tidak setuju kalau kedua hal di atas berjalan bersamaan. Alasannya mudah saja karena wisatawan asing pasti akan kecewa jika sudah jauh-jauh datang ke Indonesia ternyata menemukan keadaan tidak seperti yang dijanjikan akibat ketidaksiapan saran dan prasarana. Bukan saja mereka tidak akan kembali ke sini, mereka juga kemungkinan besar akan memberitahu para kenalannya supaya menghindari Indonesia.
Dengan pembenahan yang serius ke dalam dan ke luar, pariwisata Indonesia tentu tidak akan lagi membutuhkan event khusus semacam VIY 2008 because every year will be a visit Indonesia year. Last but not least, cari juga slogan pariwisata Indonesia yang simple, catchy dan original (sekali lagi, buang jauh-jauh kebiasaan mengekor negara tetangga - Yogyakarta: Neverending Asia? WTF?) sehingga setiap kali mendengarnya wisatawan asing langsung tergoda dan setidaknya ingin tahu mengenai negara kita. Indonesia? Ya ya ya!
Friday, November 7, 2008
Karaoke karo koe*
Karaoke
/karrioki/
• noun a form of entertainment in which people sing popular songs over pre-recorded backing tracks.
— ORIGIN Japanese, ‘empty orchestra’.
/karrioki/
• noun a form of entertainment in which people sing popular songs over pre-recorded backing tracks.
— ORIGIN Japanese, ‘empty orchestra’.
(Compact Oxford English Dictionary)
Saya tidak pernah secara pasti mengetahui apa sebabnya tapi kalau diperhatikan belakangan ini karaoke bisa dibilang sudah menjadi fenomena global (iyalah, kalau tidak nggak mungkin dimasukkan di Oxford Dictionary), meskipun tetap saja Asia menjadi tempat yang paling populer. I have to admit, saya termasuk penggemar berat karaoke. I'm not gonna pretend that I'm the best singer ever walked on the face of the earth (although I think I can sing a few songs pretty well), but karaoke to me is just fun, fun, fun. It's a really nice way to spend a few hours and let your hair down in a good company of like-minded friends.
Mungkin salah satu penyebab karaoke di negara-negara Barat tidak sepopuler di Asia adalah karena konsep karaokenya sendirinya berbeda. Sering teman-teman saya dari negara-negara Barat yang saat berkunjung ke Indonesia saya ajak ke karaoke, mereka langsung jiper (duh, jadul sekali ya saya, hehe :P). Usut punya usut ternyata mereka pikir karaoke di sini sama dengan karaoke di negaranya, yaitu kita nyanyi di ruangan besar di hadapan begitu banyak orang yang tidak kita kenali (kalau begitu caranya, saya juga mungkin ikutan jiper). Ternyata setelah diperkenalkan dengan karaoke di private room, ternyata mereka gandrung (sic) sekali, bahkan ada yang sampai ketagihan!
Untungnya best friend saya, Aji, juga penggemar karaoke. Semenjak dia pindah ke Singapura beberapa tahun yang lalu, kami jarang bertemu muka, namun sekalinya bertemu, it's almost certain that a karaoke session will be on the menu. Salah satu 'rekor' karaoke saya juga 'dicetak' saat saya bersama Aji. Waktu itu saya sedang 'main' ke tempat Aji di Singapura, and of course a visit to the local karaoke joint was inevitable. Sayang sekali waktu itu tidak ada teman Aji yang bisa bergabung, tapi karena sudah diniatkan, ya kita jalan terus. Ternyata, meski hanya berdua, karaoke tetap bisa mengasyikkan, and without realizing it, we ended up being the last guests at that place, after more than three hours of bloody karaoke!
'Rekor' karaoke saya yang lain 'dicetak' bulan Agustus lalu saat saya dan 'segerombolan' teman dari Couchsurfing Jakarta
menghabiskan malam Minggu di salah satu tempat karaoke di Jakarta (whose name I won't mention for a reason you'll soon find out) selama 5 jam! (lihat gambar - with special effect) Sayangnya, it also ended up being my most expensive karaoke session ever - lebih dari Rp1,7 juta! (termasuk makan dan minum sih, padahal sudah didiskon!) Untung jumlah tersebut masih dibagi di antara 15 orang, tapi ya tetap saja mahal ...
Bagi mereka yang masih awam mengenai karaoke scene di Jakarta, penting diingat dua jenis karaoke agar tidak malu-maluin karena salah pilih. Yang pertama adalah karaoke keluarga. Ini jenis yang 'aman' untuk seluruh anggota keluarga, dari balita hingga lansia (bayi jangan diajak ke karaoke, bisa budeg). Ciri-cirinya antara lain, selain namanya yang dengan jelas mengidentifikasikan diri sebagai karaoke keluarga, biasanya pintu setiap kamarnya memiliki 'jendela' kecil. Kenapa harus ber'jendela'? Nah, itu dia, karena 'jendela' tadi memudahkan orang dari luar untuk melihat what's going on inside. Sementara, jenis yang kedua, adalah karaoke 'non-keluarga', sangat mengutamakan privacy, sehingga jangankan pintu kamar, pintu masuk ke lobby saja juga dibuat setertutup mungkin, menutup akses orang luar melihat ke dalam. I don't wish to be judgmental since I've never been in one myself (honest!), tapi mendengar kisah-kisah orang yang sudah mengalaminya, bisa dipastikan tempat-tempat karaoke semacam itu meng'halal'kan praktek-praktek yang sifatnya tidak family-friendly (kebangetan kalau masih nggak ngerti maksud saya - mesum gitu bok!). Bahkan tidak jarang tempat karaoke semacam itu mengidentifikasikan dirinya sebagai 'Karaoke and Spa' (hmm, sambil dipijit, kita karaoke? Ugghhhh ... :-0)
Saya punya pengalaman unik saat saya berada di Korea. Menurut saya, bangsa Korea termasuk penggemar berat karaoke. Betapa tidak, saat saya berada dalam perjalanan di kereta api, saya terkejut ketika menemukan di gerbang restorasinya: not just one, but three karaoke booths! Rupanya strategi pemasaran Korea Rail cukup jitu - daripada penumpang bete di perjalanan lebih baik berkaraoke ria! Wah, coba saja cara itu ditiru di negeri tercinta ini ... Anyway, back to my experience. Waktu itu saya dan dua orang teman saya dari Kanada, sedang 'haus' hiburan malam di Seoul. Kami berada di distrik Hongdae yang cukup trendy dan dipenuhi oleh kaum muda Seoul karena letaknya yang dekat dengan salah satu universitas besar di sana. Saya pun mengusulkan untuk mencoba karaoke, dan diterima. Namun mencari tempat karaoke di Seoul tidak semudah kelihatannya. Kami sempat 'salah masuk' ke beberapa tempat karaoke 'non-keluarga' sebelum akhirnya menemukan satu tempat yang cukup terang dan uniknya beberapa kamar memiliki jendela besar yang menghadap keluar sehingga saya yakin bahwa itu adalah karaoke keluarga yang saya cari-cari. Saya pun masuk ke tempat tersebut dan disambut seorang pelayan laki-laki.
"Hello, is this a karaoke place?" tanya saya berbasa-basi.
"No, we don't have karaoke here," jawab si pelayan.
Glek. Saya heran, sudah jelas dari luar ini tempat karaoke, kok masih dibilang bukan. Ah, siapa tahu pelayannya tidak mengerti pertanyaan saya. Maklum saja, orang Korea banyak yang bahasa Inggris pas-pasan, makanya English schools di Korea bertaburan di mana-mana.
"Isn't this a karaoke place?" saya ulangi pertanyaan saya.
"No, no karaoke," jawab pelayan itu dengan pedenya.
"Are you sure there's no karaoke here?" tanya saya penasaran sambil menunjuk ruang-ruangan di mana jelas terdengar pengunjung yang sedang menyanyikan lagu-lagu Korea dengan segenap kemampuan mereka.
"No, no karaoke," jawab si pelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya.
Salah satu teman saya nimbrung dan bertanya:
"Can we drink alcohol here?"
"No karaoke, no alcohol," jawab si pelayan yang mungkin mulai kesal pada kami.
Jawaban terakhir si pelayan akhirnya membuat saya 'ngeh'. Di Korea, karaoke yang kita kenal di Indonesia, maupun sebagian besar negara lain di dunia, dikenal dengan nama 'noribang' atau singing room (kamar bernyanyi). Sementara bagi mereka, kalau kita menyebut karaoke maka konotasinya adalah karaoke 'non-keluarga' di mana pengunjung dapat minum alkohol sekaligus ber'asyik-masyuk'. Kenapa orang Korea memilih istilah karaoke yang aslinya dari bahasa Jepang itu untuk sesuatu yang berkonotasi yang negatif, saya tidak mau berpolemik, namun yang jelas jika Anda ke Korea dan ingin hiburan malam, jangan keliru antara singing room dan karaoke. Yang mana Anda pilih tentu itu terserah Anda ....
(* singing in the karaoke with you = Javanese language)
Mungkin salah satu penyebab karaoke di negara-negara Barat tidak sepopuler di Asia adalah karena konsep karaokenya sendirinya berbeda. Sering teman-teman saya dari negara-negara Barat yang saat berkunjung ke Indonesia saya ajak ke karaoke, mereka langsung jiper (duh, jadul sekali ya saya, hehe :P). Usut punya usut ternyata mereka pikir karaoke di sini sama dengan karaoke di negaranya, yaitu kita nyanyi di ruangan besar di hadapan begitu banyak orang yang tidak kita kenali (kalau begitu caranya, saya juga mungkin ikutan jiper). Ternyata setelah diperkenalkan dengan karaoke di private room, ternyata mereka gandrung (sic) sekali, bahkan ada yang sampai ketagihan!
Untungnya best friend saya, Aji, juga penggemar karaoke. Semenjak dia pindah ke Singapura beberapa tahun yang lalu, kami jarang bertemu muka, namun sekalinya bertemu, it's almost certain that a karaoke session will be on the menu. Salah satu 'rekor' karaoke saya juga 'dicetak' saat saya bersama Aji. Waktu itu saya sedang 'main' ke tempat Aji di Singapura, and of course a visit to the local karaoke joint was inevitable. Sayang sekali waktu itu tidak ada teman Aji yang bisa bergabung, tapi karena sudah diniatkan, ya kita jalan terus. Ternyata, meski hanya berdua, karaoke tetap bisa mengasyikkan, and without realizing it, we ended up being the last guests at that place, after more than three hours of bloody karaoke!
'Rekor' karaoke saya yang lain 'dicetak' bulan Agustus lalu saat saya dan 'segerombolan' teman dari Couchsurfing Jakarta
Bagi mereka yang masih awam mengenai karaoke scene di Jakarta, penting diingat dua jenis karaoke agar tidak malu-maluin karena salah pilih. Yang pertama adalah karaoke keluarga. Ini jenis yang 'aman' untuk seluruh anggota keluarga, dari balita hingga lansia (bayi jangan diajak ke karaoke, bisa budeg). Ciri-cirinya antara lain, selain namanya yang dengan jelas mengidentifikasikan diri sebagai karaoke keluarga, biasanya pintu setiap kamarnya memiliki 'jendela' kecil. Kenapa harus ber'jendela'? Nah, itu dia, karena 'jendela' tadi memudahkan orang dari luar untuk melihat what's going on inside. Sementara, jenis yang kedua, adalah karaoke 'non-keluarga', sangat mengutamakan privacy, sehingga jangankan pintu kamar, pintu masuk ke lobby saja juga dibuat setertutup mungkin, menutup akses orang luar melihat ke dalam. I don't wish to be judgmental since I've never been in one myself (honest!), tapi mendengar kisah-kisah orang yang sudah mengalaminya, bisa dipastikan tempat-tempat karaoke semacam itu meng'halal'kan praktek-praktek yang sifatnya tidak family-friendly (kebangetan kalau masih nggak ngerti maksud saya - mesum gitu bok!). Bahkan tidak jarang tempat karaoke semacam itu mengidentifikasikan dirinya sebagai 'Karaoke and Spa' (hmm, sambil dipijit, kita karaoke? Ugghhhh ... :-0)
Saya punya pengalaman unik saat saya berada di Korea. Menurut saya, bangsa Korea termasuk penggemar berat karaoke. Betapa tidak, saat saya berada dalam perjalanan di kereta api, saya terkejut ketika menemukan di gerbang restorasinya: not just one, but three karaoke booths! Rupanya strategi pemasaran Korea Rail cukup jitu - daripada penumpang bete di perjalanan lebih baik berkaraoke ria! Wah, coba saja cara itu ditiru di negeri tercinta ini ... Anyway, back to my experience. Waktu itu saya dan dua orang teman saya dari Kanada, sedang 'haus' hiburan malam di Seoul. Kami berada di distrik Hongdae yang cukup trendy dan dipenuhi oleh kaum muda Seoul karena letaknya yang dekat dengan salah satu universitas besar di sana. Saya pun mengusulkan untuk mencoba karaoke, dan diterima. Namun mencari tempat karaoke di Seoul tidak semudah kelihatannya. Kami sempat 'salah masuk' ke beberapa tempat karaoke 'non-keluarga' sebelum akhirnya menemukan satu tempat yang cukup terang dan uniknya beberapa kamar memiliki jendela besar yang menghadap keluar sehingga saya yakin bahwa itu adalah karaoke keluarga yang saya cari-cari. Saya pun masuk ke tempat tersebut dan disambut seorang pelayan laki-laki.
"Hello, is this a karaoke place?" tanya saya berbasa-basi.
"No, we don't have karaoke here," jawab si pelayan.
Glek. Saya heran, sudah jelas dari luar ini tempat karaoke, kok masih dibilang bukan. Ah, siapa tahu pelayannya tidak mengerti pertanyaan saya. Maklum saja, orang Korea banyak yang bahasa Inggris pas-pasan, makanya English schools di Korea bertaburan di mana-mana.
"Isn't this a karaoke place?" saya ulangi pertanyaan saya.
"No, no karaoke," jawab pelayan itu dengan pedenya.
"Are you sure there's no karaoke here?" tanya saya penasaran sambil menunjuk ruang-ruangan di mana jelas terdengar pengunjung yang sedang menyanyikan lagu-lagu Korea dengan segenap kemampuan mereka.
"No, no karaoke," jawab si pelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya.
Salah satu teman saya nimbrung dan bertanya:
"Can we drink alcohol here?"
"No karaoke, no alcohol," jawab si pelayan yang mungkin mulai kesal pada kami.
Jawaban terakhir si pelayan akhirnya membuat saya 'ngeh'. Di Korea, karaoke yang kita kenal di Indonesia, maupun sebagian besar negara lain di dunia, dikenal dengan nama 'noribang' atau singing room (kamar bernyanyi). Sementara bagi mereka, kalau kita menyebut karaoke maka konotasinya adalah karaoke 'non-keluarga' di mana pengunjung dapat minum alkohol sekaligus ber'asyik-masyuk'. Kenapa orang Korea memilih istilah karaoke yang aslinya dari bahasa Jepang itu untuk sesuatu yang berkonotasi yang negatif, saya tidak mau berpolemik, namun yang jelas jika Anda ke Korea dan ingin hiburan malam, jangan keliru antara singing room dan karaoke. Yang mana Anda pilih tentu itu terserah Anda ....
(* singing in the karaoke with you = Javanese language)
Saturday, October 18, 2008
Shop Till I Drop
A man would buy twice as much something he really needs,
A woman would buy half as much something she doesn't really need.
Joke di atas adalah salah satu favorit saya karena kalau dipikir-pikir selain lucu, sebenarnya apa yang dikatakan di situ memang tidak jauh dari kenyataannya. Kalau pernah ada studi mengenai berapa lama waktu yang dihabiskan perempuan dan laki-laki dalam berbelanja, I can sure bet that the difference would be significant. Perhaps it's true then that women are indeed born to shop.
Dalam hal gila belanja, saya kira orang Indonesia tidak ada duanya. Sudah jamak saya mendengar cerita bagaimana kalau turis Indonesia pergi ke luar negeri, pasti acara yang paling ditunggu-tunggu adalah kunjungan ke lokasi shopping, apalagi kalau barang-barangnya bisa ditawar - wah, bisa kalap! Baru-baru ini seorang teman yang sudah berencana traveling keliling suatu negara bersama saya tiba-tiba membatalkan ikut serta begitu kami baru sampai di ibukotanya. Ternyata ia keburu kesengsem dengan shopping opportunity di ibukota sehingga memutuskan bahwa lebih baik dia habiskan uangnya untuk shopping daripada untuk jalan-jalan. Alamak!
Mungkin tidak begitu banyak kaum laki-laki yang penggila belanja karena harus diakui dalam hal tawar menawar untuk mendapatkan harga barang semurah-murahnya, kaum perempuan memang lebih 'tega'. Saya sendiri sebenarnya juga tidak begitu suka belanja, I guess I'm a typical bloke who only shops when he really needs something, at least when I'm at home in Jakarta. However, being an Indonesian, terus terang kalau saya ke luar negeri, atau bahkan ke luar kota sekalipun, saya tidak suka pulang ke rumah dengan tangan hampa (well, I would feel guilty if I got nothing to give to the little ones at home). Selain itu saya juga mengoleksi beberapa pernak-pernik dari setiap tempat yang saya kunjungi, minimal fridge magnet dan maksimal T-shirt khas, both of which I think I've already got quite a collection right now. So, karena alasan itulah therefore I shop.
Saya tidak bisa mengunjungi lokasi shopping tanpa mengetahui apa yang mau dicari because this could be 'very dangerous' as you could easily spend hours there, and God knows how much money you'll end up spending. Pengalaman-pengalaman shopping saya mungkin tidak terlalu banyak, namun beberapa cukup berkesan. Di Eropa, jangan lewatkan belanja hari Minggu pagi di Fischmarkt di Hamburg, Jerman. Di sana bisa dilihat berbagai penjual mulai dari ikan, tanaman, buah-buahan, pasta, hingga souvenir khas Hamburg berupaya menarik pembeli dengan gaya khas mereka masing-masing yang terkadang sangat nyeleneh (pernah ada penjual tanaman yang memberikan satu pot tanamannya gratis ke seorang pembeli karena dia tidak mau menjual tanamannya itu ke pembeli yang lain yang menawar lebih murah - aneh ya?).
Pengalaman shopping saya yang paling extraordinaire semuanya terjadi di Asia. Bulan Mei lalu saya menghabiskan waktu lebih dari 48 jam (tidak berturut-turut sih) di atas kereta api untuk mencapai Kashgar di provinsi Xinjiang, which is the furthermost Chinese city from Beijing. Apa yang menarik saya ke sana? Well, selain beberapa monumen Islam seperti mesjid dan makam (kota ini adalah salah satu trading post terpenting di Jalur Sutra berabad-abad lalu dan penduduknya mayoritas da
ri suku Uyghur yang beragama Islam), the most famous attraction in Kashgar is actually the Yekshenba (Sunday) Bazaar (lihat gambar). Billed as the grand-daddy of all Central Asian markets, it attracts thousands and thousands of sellers and shoppers from all over the region, creating a spectacular explosion for the senses. Rows after rows of shops, selling pretty much anything's salable under the sun, from fresh vegetables to carpets, from ethnic skull caps to the latest in fashion, are what you can find in this place. If you do make it here, it's perhaps easy to get lost, but then again perhaps it's not a bad thing to do. For a big fan of the world's multiculturalism, being in a place where people from Uyghur, Kazakh, Kyrgyz, Uzbek, Tajik, Turkmen, Chinese, and God knows what other backgrounds, converge and interact around you, speaking interchangeably in their own unique native tongues, was simply a one-of-a-kind experience for me. I ended up spending 5 hours exploring the bazaar on foot - and you know what, it's only after I got back to my hotel I realized that I had actually missed the most famous part of the bazaar: the cattle market!
The award for the most 'hardcore' place for shopping in Asia, however, has to go to Seoul, Korea. Maksud saya 'hardcore' tentu bukan yang ada hubungannya dengan RUU APP yang menghebohkan itu, melainkan 'surga' bagi mereka yang memang tidak ada puas-puasnya berbelanja. Salah satu slogan pariwisata Korea adalah 'The Best Kept Secret of Asia' dan menurut saya ada benarnya juga, karena kebanyakan orang berwisata ke Asia Timur kalau tidak Cina, ya Jepang. Kalau mau belanja ya ke Hongkong. Di Seoul ternyata ada banyak lokasi shopping, dan yang membuat saya terheran-heran adalah ternyata banyak toko yang masih buka - di atas jam 12 malam! Mereka yang tidak bisa tidur sebelum memuaskan hasrat belanja, saya sarankan pergi ke Dongdaemun Market (lihat gambar). Terletak tidak jauh d
ari pusat kota Seoul, ini adalah pusat dari segala pusat perbelanjaan di Seoul. Betapa tidak, di lokasi ini konon (saya belum pernah menghitungnya sendiri, but I think the number's pretty close) berdiri tidak kurang dari 26 shopping malls! Ukuran shopping mall di sana juga tidak main-main. Ada yang berdiri 10 lantai dan isinya toko semua, dan ada juga bangunan yang hanya tiga lantai namun baru satu lantai saja sudah membuat kaki gempor karena meski sudah menyusuri deretan toko-toko sepanjang 300 meter, ujung mall masih belum kelihatan! Di luar itu masih banyak juga lapak-lapak yang terletak di pinggir jalan maupun di pedestrian underpass, menawarkan barang yang bahkan beberapa di antaranya untuk ukuran Indonesia harganya lumayan terjangkau. Yang membuat saya sampai merinding, bahkan sampai hari ini kalau mengingatnya, adalah kalau kita pergi ke tempat ini jam 12 malam, pasar ini justru sedang ramai-ramainya dengan puluhan ribu penjual dan pembeli! Jam buka shopping malls di Dongdaemun rata-rata memang incredible, bahkan ada yang dari jam 10 pagi hingga 5 pagi - wah shopping pun ternyata bisa mengalahkan clubbing!
Di dalam negeri, Indonesia, tempat favorit saya untuk shopping adalah di daerah Malioboro di Yogya. Menurut saya di sana barang-barangnya, harga-harganya dan suasana belanjanya di sana paling ideal. Ya, mungkin juga karena saya penggemar barang-barang etnis jadi kalau untuk belanja yang satu ini saya betah berlama-lama memilih-milih barang sampai ketemu yang sreg. Sebenarnya Pasar Sukawati di Bali juga menarik namun karena agak jarang ke Bali jadinya saya juga jarang belanja di sana.
Namun, di mana pun di Asia, hal yang paling challenging bagi saya adalah dalam hal tawar menawar. Ya, mungkin untuk yang satu ini I have to take my hat off to the ladies. Terus terang, jika menawar, saya masih ada rasa belas kasihan, jadi kalau harga berhenti di 2/3 harga awal saya pun sudah cukup puas, padahal saya tahu banyak penjual yang menaikkan harga empat kali lipat dari harga sebenarnya. Pernah di Yangshuo, Cina, saya mau membeli T-shirt. Ketika saya menanyakan harganya (dalam bahasa Inggris tentunya, dan di Cina, kalau Anda bertampang Asia dan bicara bahasa Inggris maka Anda akan diberikan harga bule yang lumayan 'fantastis') penjual menjawab "120 yuan" atau sekitar 160 ribu rupiah dengan kurs saat itu. Mendengar hal itu saya langsung keder dan mundur teratur. Namun si penjual itu ternyata masih berusaha menjual T-shirt itu kepada saya dan saat itu saya pikir "this is China, where all the cheap goods in Indonesia come from" jadi langsung saja saya sebut "15 yuan" (sekitar 19 ribu perak). Tentu si penjual menolak tawaran saya dan ketika saya tidak menaikkan tawaran dan mulai beranjak dari tokonya, tiba-tiba dia bilang "okay, okay". Wow, ternyata tidak hanya pembeli yang tega, penjual pun bisa cukup sadis memasang harga!
Urusan tawar-menawar memang bisa cukup bikin trauma, dan maka dari itu sekarang kalau berbelanja di Yogya, saya lebih suka belanja di Mirota. Memang harga lebih mahal, namun tidak terlalu jauh dari yang dijual di emperan Malioboro, itu pun kalau kita bisa menawar. Pernah saya menemukan di salah satu toko kerajinan di Malioboro, wayang kulit ukuran kecil dijual fixed price seharga 9 ribu perak saja sementara di emperan jangan harap barang sejenis dilepas di bawah 15 ribu.
I have to admit though that I don't think I'll ever stop shopping when traveling. I mean, it's in my blood. Even if in the end I get ripped off, then so be it, hitung-hitung bagi-bagi rejeki, and besides, I would never buy anything unless I really like it (meskipun belum tentu saya membutuhkannya). So, going back to the shopping joke, I think it needs another line for me as I fall under the category of those who would buy at double the price something that they don't necessarily need ...
A woman would buy half as much something she doesn't really need.
Joke di atas adalah salah satu favorit saya karena kalau dipikir-pikir selain lucu, sebenarnya apa yang dikatakan di situ memang tidak jauh dari kenyataannya. Kalau pernah ada studi mengenai berapa lama waktu yang dihabiskan perempuan dan laki-laki dalam berbelanja, I can sure bet that the difference would be significant. Perhaps it's true then that women are indeed born to shop.
Dalam hal gila belanja, saya kira orang Indonesia tidak ada duanya. Sudah jamak saya mendengar cerita bagaimana kalau turis Indonesia pergi ke luar negeri, pasti acara yang paling ditunggu-tunggu adalah kunjungan ke lokasi shopping, apalagi kalau barang-barangnya bisa ditawar - wah, bisa kalap! Baru-baru ini seorang teman yang sudah berencana traveling keliling suatu negara bersama saya tiba-tiba membatalkan ikut serta begitu kami baru sampai di ibukotanya. Ternyata ia keburu kesengsem dengan shopping opportunity di ibukota sehingga memutuskan bahwa lebih baik dia habiskan uangnya untuk shopping daripada untuk jalan-jalan. Alamak!
Mungkin tidak begitu banyak kaum laki-laki yang penggila belanja karena harus diakui dalam hal tawar menawar untuk mendapatkan harga barang semurah-murahnya, kaum perempuan memang lebih 'tega'. Saya sendiri sebenarnya juga tidak begitu suka belanja, I guess I'm a typical bloke who only shops when he really needs something, at least when I'm at home in Jakarta. However, being an Indonesian, terus terang kalau saya ke luar negeri, atau bahkan ke luar kota sekalipun, saya tidak suka pulang ke rumah dengan tangan hampa (well, I would feel guilty if I got nothing to give to the little ones at home). Selain itu saya juga mengoleksi beberapa pernak-pernik dari setiap tempat yang saya kunjungi, minimal fridge magnet dan maksimal T-shirt khas, both of which I think I've already got quite a collection right now. So, karena alasan itulah therefore I shop.
Saya tidak bisa mengunjungi lokasi shopping tanpa mengetahui apa yang mau dicari because this could be 'very dangerous' as you could easily spend hours there, and God knows how much money you'll end up spending. Pengalaman-pengalaman shopping saya mungkin tidak terlalu banyak, namun beberapa cukup berkesan. Di Eropa, jangan lewatkan belanja hari Minggu pagi di Fischmarkt di Hamburg, Jerman. Di sana bisa dilihat berbagai penjual mulai dari ikan, tanaman, buah-buahan, pasta, hingga souvenir khas Hamburg berupaya menarik pembeli dengan gaya khas mereka masing-masing yang terkadang sangat nyeleneh (pernah ada penjual tanaman yang memberikan satu pot tanamannya gratis ke seorang pembeli karena dia tidak mau menjual tanamannya itu ke pembeli yang lain yang menawar lebih murah - aneh ya?).
Pengalaman shopping saya yang paling extraordinaire semuanya terjadi di Asia. Bulan Mei lalu saya menghabiskan waktu lebih dari 48 jam (tidak berturut-turut sih) di atas kereta api untuk mencapai Kashgar di provinsi Xinjiang, which is the furthermost Chinese city from Beijing. Apa yang menarik saya ke sana? Well, selain beberapa monumen Islam seperti mesjid dan makam (kota ini adalah salah satu trading post terpenting di Jalur Sutra berabad-abad lalu dan penduduknya mayoritas da
ri suku Uyghur yang beragama Islam), the most famous attraction in Kashgar is actually the Yekshenba (Sunday) Bazaar (lihat gambar). Billed as the grand-daddy of all Central Asian markets, it attracts thousands and thousands of sellers and shoppers from all over the region, creating a spectacular explosion for the senses. Rows after rows of shops, selling pretty much anything's salable under the sun, from fresh vegetables to carpets, from ethnic skull caps to the latest in fashion, are what you can find in this place. If you do make it here, it's perhaps easy to get lost, but then again perhaps it's not a bad thing to do. For a big fan of the world's multiculturalism, being in a place where people from Uyghur, Kazakh, Kyrgyz, Uzbek, Tajik, Turkmen, Chinese, and God knows what other backgrounds, converge and interact around you, speaking interchangeably in their own unique native tongues, was simply a one-of-a-kind experience for me. I ended up spending 5 hours exploring the bazaar on foot - and you know what, it's only after I got back to my hotel I realized that I had actually missed the most famous part of the bazaar: the cattle market!The award for the most 'hardcore' place for shopping in Asia, however, has to go to Seoul, Korea. Maksud saya 'hardcore' tentu bukan yang ada hubungannya dengan RUU APP yang menghebohkan itu, melainkan 'surga' bagi mereka yang memang tidak ada puas-puasnya berbelanja. Salah satu slogan pariwisata Korea adalah 'The Best Kept Secret of Asia' dan menurut saya ada benarnya juga, karena kebanyakan orang berwisata ke Asia Timur kalau tidak Cina, ya Jepang. Kalau mau belanja ya ke Hongkong. Di Seoul ternyata ada banyak lokasi shopping, dan yang membuat saya terheran-heran adalah ternyata banyak toko yang masih buka - di atas jam 12 malam! Mereka yang tidak bisa tidur sebelum memuaskan hasrat belanja, saya sarankan pergi ke Dongdaemun Market (lihat gambar). Terletak tidak jauh d
Di dalam negeri, Indonesia, tempat favorit saya untuk shopping adalah di daerah Malioboro di Yogya. Menurut saya di sana barang-barangnya, harga-harganya dan suasana belanjanya di sana paling ideal. Ya, mungkin juga karena saya penggemar barang-barang etnis jadi kalau untuk belanja yang satu ini saya betah berlama-lama memilih-milih barang sampai ketemu yang sreg. Sebenarnya Pasar Sukawati di Bali juga menarik namun karena agak jarang ke Bali jadinya saya juga jarang belanja di sana.
Namun, di mana pun di Asia, hal yang paling challenging bagi saya adalah dalam hal tawar menawar. Ya, mungkin untuk yang satu ini I have to take my hat off to the ladies. Terus terang, jika menawar, saya masih ada rasa belas kasihan, jadi kalau harga berhenti di 2/3 harga awal saya pun sudah cukup puas, padahal saya tahu banyak penjual yang menaikkan harga empat kali lipat dari harga sebenarnya. Pernah di Yangshuo, Cina, saya mau membeli T-shirt. Ketika saya menanyakan harganya (dalam bahasa Inggris tentunya, dan di Cina, kalau Anda bertampang Asia dan bicara bahasa Inggris maka Anda akan diberikan harga bule yang lumayan 'fantastis') penjual menjawab "120 yuan" atau sekitar 160 ribu rupiah dengan kurs saat itu. Mendengar hal itu saya langsung keder dan mundur teratur. Namun si penjual itu ternyata masih berusaha menjual T-shirt itu kepada saya dan saat itu saya pikir "this is China, where all the cheap goods in Indonesia come from" jadi langsung saja saya sebut "15 yuan" (sekitar 19 ribu perak). Tentu si penjual menolak tawaran saya dan ketika saya tidak menaikkan tawaran dan mulai beranjak dari tokonya, tiba-tiba dia bilang "okay, okay". Wow, ternyata tidak hanya pembeli yang tega, penjual pun bisa cukup sadis memasang harga!
Urusan tawar-menawar memang bisa cukup bikin trauma, dan maka dari itu sekarang kalau berbelanja di Yogya, saya lebih suka belanja di Mirota. Memang harga lebih mahal, namun tidak terlalu jauh dari yang dijual di emperan Malioboro, itu pun kalau kita bisa menawar. Pernah saya menemukan di salah satu toko kerajinan di Malioboro, wayang kulit ukuran kecil dijual fixed price seharga 9 ribu perak saja sementara di emperan jangan harap barang sejenis dilepas di bawah 15 ribu.
I have to admit though that I don't think I'll ever stop shopping when traveling. I mean, it's in my blood. Even if in the end I get ripped off, then so be it, hitung-hitung bagi-bagi rejeki, and besides, I would never buy anything unless I really like it (meskipun belum tentu saya membutuhkannya). So, going back to the shopping joke, I think it needs another line for me as I fall under the category of those who would buy at double the price something that they don't necessarily need ...
Monday, October 13, 2008
One Day in October
Life's a beach and then you die.
I never really thought I would write something morbid in my blog. After all, before recently, the last death in the family I could actually care to remember was that of my paternal grandfather. I was still in the early level of primary school back then (I was so young I can't even remember exactly what level). And then one day in October 2007, my mum got a call from my elder brother who was in Bangkok at the time, and I remember after the call had ended, my mum was in tears. I knew right away that things were never gonna be the same again.
A year later here I am, just a few days short of a week after my brother had passed away peacefully in our home from cancer. Sometimes I find myself wondering if there was anything I could have done differently to make him still alive today. But then again, perhaps this what God had designed for him.
So why am I rambling about my brother in my travel blog, you wonder? Well, first of all, my brother was only 16 months older than I was. Growing up, I was practically his shadow, and he was my inspiration. Whatever he did, I just had to do the same. I remember one day he showed me a piece of banknote from a foreign country and the next day I started collecting banknotes from all over the world (his collection was still better). When he started French course in high school, I couldn't wait to do the same so I could also parler français (by the time I finally began, he had already mastered his fifth language). And when he went to Europe on his own, he traveled around there for a good few months. I could only follow suit a few years later, for a fraction of the duration of his trip. At last count he'd been to six out of the world's seven continents while I'm still working on my fifth one. Bottom line is, I have to admit, when it comes to travel nobody had inspired me more than my brother.
I could write a long chapter or two on the subject of my brother but I think for now I'm just gonna share a poem I wrote in the loving memory of my brother (mind you, it's in no way an obituary - hell, I didn't even know what that is!). I'm not much of a poet myself, but then again, I couldn't help it when I had such an inspiring brother like him. (And if you think I didn't know how to spell "bitch", well, obviously you know now that I could. I just think that life feels more precious when you start seeing it from a full-glass perspective, don't you think? ;-))
To The Beloved Departed
Yes brother, you know you weren't like the rest of us
When I was one step ahead of the other
You were already two steps ahead of me
You sure had a way with words
When I was still grappling with my imparfait
You could already tell that I was your xiongdi and not your zimei
Tell me about all those exotic places please
That you described to me with the sparkles in your eyes
That others could only dream about
How about those cute puffins in the Føroyar
And the ostrich you took for a ride in a Cape farm
Or when Cuzco's height almost took your breath away
Remember the time you tried the real Finnish sauna
I bet it was better than being stuck in the middle of the Outback
Or having to wait for hours at a US airport
Shanghai was a favorite place for you I know
And how much you loved to be one of those happy-go-lucky Brazilians
But you don't need to tell me it was Bangkok where you'd left your heart
Farewell brother
You're in a way better place now
An ultimate destination
That one day you'll describe to me
With the sparkles in your eyes
That others could only dream about
(dedicated to Oui, 1973-2008)
I never really thought I would write something morbid in my blog. After all, before recently, the last death in the family I could actually care to remember was that of my paternal grandfather. I was still in the early level of primary school back then (I was so young I can't even remember exactly what level). And then one day in October 2007, my mum got a call from my elder brother who was in Bangkok at the time, and I remember after the call had ended, my mum was in tears. I knew right away that things were never gonna be the same again.
A year later here I am, just a few days short of a week after my brother had passed away peacefully in our home from cancer. Sometimes I find myself wondering if there was anything I could have done differently to make him still alive today. But then again, perhaps this what God had designed for him.
So why am I rambling about my brother in my travel blog, you wonder? Well, first of all, my brother was only 16 months older than I was. Growing up, I was practically his shadow, and he was my inspiration. Whatever he did, I just had to do the same. I remember one day he showed me a piece of banknote from a foreign country and the next day I started collecting banknotes from all over the world (his collection was still better). When he started French course in high school, I couldn't wait to do the same so I could also parler français (by the time I finally began, he had already mastered his fifth language). And when he went to Europe on his own, he traveled around there for a good few months. I could only follow suit a few years later, for a fraction of the duration of his trip. At last count he'd been to six out of the world's seven continents while I'm still working on my fifth one. Bottom line is, I have to admit, when it comes to travel nobody had inspired me more than my brother.
I could write a long chapter or two on the subject of my brother but I think for now I'm just gonna share a poem I wrote in the loving memory of my brother (mind you, it's in no way an obituary - hell, I didn't even know what that is!). I'm not much of a poet myself, but then again, I couldn't help it when I had such an inspiring brother like him. (And if you think I didn't know how to spell "bitch", well, obviously you know now that I could. I just think that life feels more precious when you start seeing it from a full-glass perspective, don't you think? ;-))
To The Beloved Departed
Yes brother, you know you weren't like the rest of us
When I was one step ahead of the other
You were already two steps ahead of me
You sure had a way with words
When I was still grappling with my imparfait
You could already tell that I was your xiongdi and not your zimei
Tell me about all those exotic places please
That you described to me with the sparkles in your eyes
That others could only dream about
How about those cute puffins in the Føroyar
And the ostrich you took for a ride in a Cape farm
Or when Cuzco's height almost took your breath away
Remember the time you tried the real Finnish sauna
I bet it was better than being stuck in the middle of the Outback
Or having to wait for hours at a US airport
Shanghai was a favorite place for you I know
And how much you loved to be one of those happy-go-lucky Brazilians
But you don't need to tell me it was Bangkok where you'd left your heart
Farewell brother
You're in a way better place now
An ultimate destination
That one day you'll describe to me
With the sparkles in your eyes
That others could only dream about
(dedicated to Oui, 1973-2008)
Friday, October 3, 2008
A Spiritual Journey
Fitnah lebih besar dosanya dari pembunuhan.
Sebenarnya sudah lama saya mau menulis mengenai pengalaman yang satu ini, dan one thing led to another akhirnya baru sekarang saya sempat mewujudkannya. Pengalamannya sendiri terjadi pada hari Idul Fitri 1429 H yang baru lalu jadi berhubung sekarang masih dalam suasana halal bihalal jadi ya saya pikir masih cukup fresh juga saya share dengan orang lain.
If anyone ever asked whether I'm a religious person I don't think I would be able to honestly say yes to that question. However, that doesn't mean that I don't believe in God, as a matter of fact, I do, and that's one fundamental element I'm not willing to negotiate. I guess I'm more of a spiritual person than religious now. I don't really believe in rituals, I mean I still do some, but only if I believe in the reason why I'm doing it.
Hari Idul Fitri seperti tahun-tahun sebelumnya adalah hari untuk keluarga. Bedanya dengan tahun lalu, tahun ini I actually willingly wanted to stay in Jakarta to celebrate it with my family. Sebenarnya ada beberapa alasan: mulai dari alasan klise (urusan dana, what else?) sampai alasan keluarga (it was the first time my brother was actually in town for this occasion in a long time so why go away?). Besides, kebetulan saat itu ada teman saya Lukas dari Jerman yang sedang menginap (silakan membaca entry sebelumnya) jadi ya kesempatan juga untuk memperkenalkan dia ke tradisi khas Indonesia yang satu in (setahu saya tradisi maaf-maafan saat Idul Fitri hanya ada di negara-negara Asia Tenggara - well, mungkin Asia Selatan juga). Anyway, karena saya tidak sempat mengajak Lukas jalan-jalan keliling kota Jakarta seperti kebiasaan saya kalau ada teman asing yang menginap (duh, baik ya saya? hehe) jadi saya pikir kenapa tidak saya manfaatkan kesempatan baik ini untuk mengunjungi one of Jakarta's newest attractions, yang kebetulan juga klop kalau dikunjungi saat Idul Fitri.
Mesjid Dian Al Mahri memang secara administratif bukan bagian dari Jakarta, melainkan Depok karena letaknya yang di Desa Limo yang masuk ke dalam wilayah kota tetangga di selatan Jakarta itu. Namun karena akses utamanya melalui Jakarta, ya tidak ada salahnya kalau dimasukkan ke dalam daftar attractions kota Jakarta. Sengaja saya tidak mau pakai istilah obyek wisata, karena tempat ini kan fundamentally a functioning mosque jadi tujuan utamanya adalah tempat ibadah, baru mungkin setelah itu fungsi-fungsi lainnya, antara lain ya obyek wisata itu. Makanya saya sebut attraction karena toh noone can deny that it's an attractive place.
Exactly how attractive the mosque is, well, how about you try this: mesjid ini berdiri di atas tanah seluas 50 hektar dengan bangunan mesjid seluas 8000 meter persegi. Namun yang menjadikan mesjid ini buah bibir banyak orang, bahkan sebelum mesjid ini akhirnya dibuka untuk umum akhir tahun 2006 adalah kelima kubahnya yang konon dilapisi emas 24 karat setebal 2 sampai 3 milimeter dan mosaik kristal. Wow! Kekaguman saya belum berhenti dari situ karena bangunan mesjid ini konon juga berbahan baku marmer impor dari Italia, dan interior mesjid dilengkapi dengan Italian chandelier (what's up with that?) lebih dari 2 ton (saya mendapat informasi berbeda-beda mengenai beratnya - ada yang bilang 2,7 ton, 4 ton bahkan 8 ton, tapi yang jelas lebih dari 2 ton lah). Tidak heran, kalau mesjid Dian Al Mahri sekarang lebih populer dengan nama Mesjid 'Kubah Emas'.
Satu hal lain yang membuat mesjid ini menurut saya menarik adalah latar belakang mesjid ini yang didirikan oleh seorang pengusaha perempuan asal Banten, Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid. Terus terang siapa sebenarnya tokoh ini menurut saya agak terlalu misterius, karena untuk membangun mesjid ini memerlukan biaya yang tidak sedikit and she's not exactly Aburizal Bakrie gitu loh. Terlepas dari itu, saya sih salut atas usaha pendiri mesjid ini (whoever you are) karena kalau niatnya ibadah Insha' Allah akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda.
Berhubung saya belum pernah ke sana, seperti biasa I had to do my homework first, mengumpulkan informasi mengenai tempat yang akan dikunjungi, biasanya through browsing on the Internet. Saya temukan lumayan banyak informasi mengenai mesjid ini terutama pada blog orang-orang yang sudah pernah berkunjung. Namun rasa excitement saya berubah menjadi prihatin ketika di salah satu blog yang nampaknya cukup populer (dilihat dari jumlah orang yang berkomentar), mesjid megah yang seharusnya bisa dibanggakan itu ternyata malah 'dibantai'.
Pemicunya adalah peraturan mesjid yang tidak membolehkan anak di bawah usia 10 tahun masuk. Mereka yang pro berargumen anak-anak harus dilatih mencintai mesjid sedari kecil, sementara yang kontra berargumen mungkin saja peraturan dibuat agar ibadah bisa lebih khusyuk karena sifat anak-anak yang masih suka bermain. Ternyata dari hal yang menurut saya sepele itu malah melebar kepada kritik mengenai 'kemegahan' mesjid. Bahkan sampai menggunakan salah satu hadits Nabi yang intinya menyatakan membangun Mesjid Dian Al Mahri yang indah ini adalah salah satu tanda kiamat ... Astaghfirullah!
I actually spent time thinking about it and you know, kalau memang interpretasi orang tersebut benar, tentunya kiamat sudah dekat ketika Mesjid Imam di Isfa
han, Iran, berdiri tahun 1611; Mesjid Sultan Ahmet (aka Mesjid Biru) di Istanbul, Turki, tahun 1616; Mesjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz di Selangor, Malaysia tahun 1982; Mesjid Faisal di Islamabad, Pakistan tahun 1986 (bantuan Arab Saudi lho, tsk, tsk, tsk); Mesjid Hassan II di Casablanca, Marokko tahun 1993 (lihat gambar); atau bahkan Mesjid Nabawi dan Masjidil Haram sendiri di Arab Saudi yang memang terus diperluas dan diper'megah' (should this person tell the Saudis to stop what they're doing?).
Anyway, saya tidak akan berpolemik di masalah fiqh karena setiap orang entitled to his or her interpretation (and so am I) tapi kalau saya pikir setiap kali mesjid-mesjid megah dan indah dibangun di manapun, pasti selalu ada yang pro dan yang kontra, baik dari luar maupun dari dalam kalangan Muslim sendiri. And in this case I believe in giving this mosque a chance.
Setelah silaturahmi ke rumah keluarga besar, saya pun langsung bergerak menuju Mesjid 'Kubah Emas'. Selain Lukas, ikut juga tante saya dan 'asisten' setianya. Mungkin karena masih suasana Idul Fitri, jalananpun tidak seberapa macet seperti yang saya kuatirkan sebelumnya meskipun cukup berlubang-lubang membuat saya yang menyetir city car terasa seperti sedang off-road apalagi baru setengah jalan menuju ke tujuan, tiba-tiba hujan turun dengan sederas-derasnya.
Saat tiba di parkiran mesjid, hujan masih terus mengguyur. Karena sudah niat ingin mengejar sholat Ashr di dalam mesjid akhirnya kami berempat menerobos hujan dengan payung. Karena saya dan Lukas hanya kebagian satu payung, hasilnya, ya, basah kuyup juga karena angin kencang bertiup juga dari depan menyiram badan dengan air. Ternyata pintu masuk mesjid untuk pria letaknya di samping kiri dan kanan mesjid, sementara pintu masuk perempuan di belakang mesjid, paling dekat dengan parkiran. Setelah sempat berteduh sejenak di bangunan serbaguna (?) akhirnya kami berdua berhasil masuk ke dalam Mesjid 'Kubah Emas'.
Well, well, well. Mesjid ini boleh kelihatan megah dan mewah dari luar, namun ternyata interiornya menurut saya sangat 'sederhana'. Italian chandelier yang digembar-gemborkan memang cukup impresif
(but only for a minute at most), dan digantung di bawah kubah utamanya yang dihiasi lukisan kaligrafi dan trompe-l'oeil berupa gambar langit dengan awan yang konon bisa berubah warna sesuai mood of the day. Selain itu, ada mimbar yang kelihatannya mungkin juga terbuat dari emas. Tidak lupa saya dan Lukas menyempatkan diri mengambil foto kenang-kenangan di dalam mesjid meski dalam keadaan basah kuyup (lihat gambar).
Di antara mesjid-mesjid berkubah emas yang ada di dunia, hanya tinggal mesjid serupa yang tertua yang belum pernah saya kunjungi (iyalah di Irak gitu loh, memangn
ya mau bunuh diri?). Brunei yang kecil namun kaya raya punya dua mesjid berkubah emas, dan saya pernah sholat di Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddin, yang telah menjadi landmark negara Brunei. Saat saya sholat di sana, mesjid hampir ditutup (mesjid tutup pukul 10 malam), jadi tinggal saya sendiri dan penjaga mesjid. Mesjid ini ternyata memang tidak hanya indah dilihat dari luar (terutama malam hari) ternyata di dalamnya pun cukup menakjubkan (lihat gambar), membuat saya tidak tahan untuk memotret meskipun ada tanda 'dilarang ambil gambar'.
Kembali ke Mesjid Dian Al Mahri, kesederhanaan interior mesjid menurut saya justru bisa diartikan secara positif, karena ternyata siapa yang membangun mesjid ini cukup 'pandai', dalam arti mesjid dibuat megah dari luar supaya orang tertarik datang (iyalah, bahkan tidak sedikit pengunjung dari luar negeri yang jauh-jauh datang spesial untuk berkunjung ke mesjid ini), sementara interior dibuat sederhana supaya orang bisa khusyuk sholat (kalau malah terlalu indah, nanti malah terlalu sibuk bernarsis ria, dan bukannya sholat, betul nggak? :-)).
Ketika saya di sana, di dalam mesjid ternyata banyak juga anak-anak - sebagian di antara mereka kelihatann
ya berusia kurang dari 10 tahun. And what were they doing there? Well, pretty much what kids anywhere would do: kejar-kejaran, guling-gulingan, saling bercanda dengan anak seumuran, basically having fun lah (lihat gambar). Untung saja saat sholat saya tidak ditabrak anak yang sedang berlari-larian, meski agak risih juga ada anak kecil yang dengan santainya jalan-jalan di bagian mihrab sementara kami yang dewasa sedang sujud ke hadapannya. Well, you can bet your money on whose side I am after this! :-)
Pengalaman saya di Mesjid Dian Al Mahri nevertheless cukup berkesan dan I surely recommend anyone to give someplace a chance before making your own conclusion. I sure wouldn't mind going back there again next time I have the chance - besides, gara-gara hujan gede, kesempatan berfoto ria dengan background kubah emas mesjid masih belum kesampaian ... Huh, dasar narsis!
(QS Al Baqarah: 191)
Sebenarnya sudah lama saya mau menulis mengenai pengalaman yang satu ini, dan one thing led to another akhirnya baru sekarang saya sempat mewujudkannya. Pengalamannya sendiri terjadi pada hari Idul Fitri 1429 H yang baru lalu jadi berhubung sekarang masih dalam suasana halal bihalal jadi ya saya pikir masih cukup fresh juga saya share dengan orang lain.
If anyone ever asked whether I'm a religious person I don't think I would be able to honestly say yes to that question. However, that doesn't mean that I don't believe in God, as a matter of fact, I do, and that's one fundamental element I'm not willing to negotiate. I guess I'm more of a spiritual person than religious now. I don't really believe in rituals, I mean I still do some, but only if I believe in the reason why I'm doing it.
Hari Idul Fitri seperti tahun-tahun sebelumnya adalah hari untuk keluarga. Bedanya dengan tahun lalu, tahun ini I actually willingly wanted to stay in Jakarta to celebrate it with my family. Sebenarnya ada beberapa alasan: mulai dari alasan klise (urusan dana, what else?) sampai alasan keluarga (it was the first time my brother was actually in town for this occasion in a long time so why go away?). Besides, kebetulan saat itu ada teman saya Lukas dari Jerman yang sedang menginap (silakan membaca entry sebelumnya) jadi ya kesempatan juga untuk memperkenalkan dia ke tradisi khas Indonesia yang satu in (setahu saya tradisi maaf-maafan saat Idul Fitri hanya ada di negara-negara Asia Tenggara - well, mungkin Asia Selatan juga). Anyway, karena saya tidak sempat mengajak Lukas jalan-jalan keliling kota Jakarta seperti kebiasaan saya kalau ada teman asing yang menginap (duh, baik ya saya? hehe) jadi saya pikir kenapa tidak saya manfaatkan kesempatan baik ini untuk mengunjungi one of Jakarta's newest attractions, yang kebetulan juga klop kalau dikunjungi saat Idul Fitri.
Mesjid Dian Al Mahri memang secara administratif bukan bagian dari Jakarta, melainkan Depok karena letaknya yang di Desa Limo yang masuk ke dalam wilayah kota tetangga di selatan Jakarta itu. Namun karena akses utamanya melalui Jakarta, ya tidak ada salahnya kalau dimasukkan ke dalam daftar attractions kota Jakarta. Sengaja saya tidak mau pakai istilah obyek wisata, karena tempat ini kan fundamentally a functioning mosque jadi tujuan utamanya adalah tempat ibadah, baru mungkin setelah itu fungsi-fungsi lainnya, antara lain ya obyek wisata itu. Makanya saya sebut attraction karena toh noone can deny that it's an attractive place.
Exactly how attractive the mosque is, well, how about you try this: mesjid ini berdiri di atas tanah seluas 50 hektar dengan bangunan mesjid seluas 8000 meter persegi. Namun yang menjadikan mesjid ini buah bibir banyak orang, bahkan sebelum mesjid ini akhirnya dibuka untuk umum akhir tahun 2006 adalah kelima kubahnya yang konon dilapisi emas 24 karat setebal 2 sampai 3 milimeter dan mosaik kristal. Wow! Kekaguman saya belum berhenti dari situ karena bangunan mesjid ini konon juga berbahan baku marmer impor dari Italia, dan interior mesjid dilengkapi dengan Italian chandelier (what's up with that?) lebih dari 2 ton (saya mendapat informasi berbeda-beda mengenai beratnya - ada yang bilang 2,7 ton, 4 ton bahkan 8 ton, tapi yang jelas lebih dari 2 ton lah). Tidak heran, kalau mesjid Dian Al Mahri sekarang lebih populer dengan nama Mesjid 'Kubah Emas'.
Satu hal lain yang membuat mesjid ini menurut saya menarik adalah latar belakang mesjid ini yang didirikan oleh seorang pengusaha perempuan asal Banten, Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid. Terus terang siapa sebenarnya tokoh ini menurut saya agak terlalu misterius, karena untuk membangun mesjid ini memerlukan biaya yang tidak sedikit and she's not exactly Aburizal Bakrie gitu loh. Terlepas dari itu, saya sih salut atas usaha pendiri mesjid ini (whoever you are) karena kalau niatnya ibadah Insha' Allah akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda.
Berhubung saya belum pernah ke sana, seperti biasa I had to do my homework first, mengumpulkan informasi mengenai tempat yang akan dikunjungi, biasanya through browsing on the Internet. Saya temukan lumayan banyak informasi mengenai mesjid ini terutama pada blog orang-orang yang sudah pernah berkunjung. Namun rasa excitement saya berubah menjadi prihatin ketika di salah satu blog yang nampaknya cukup populer (dilihat dari jumlah orang yang berkomentar), mesjid megah yang seharusnya bisa dibanggakan itu ternyata malah 'dibantai'.
Pemicunya adalah peraturan mesjid yang tidak membolehkan anak di bawah usia 10 tahun masuk. Mereka yang pro berargumen anak-anak harus dilatih mencintai mesjid sedari kecil, sementara yang kontra berargumen mungkin saja peraturan dibuat agar ibadah bisa lebih khusyuk karena sifat anak-anak yang masih suka bermain. Ternyata dari hal yang menurut saya sepele itu malah melebar kepada kritik mengenai 'kemegahan' mesjid. Bahkan sampai menggunakan salah satu hadits Nabi yang intinya menyatakan membangun Mesjid Dian Al Mahri yang indah ini adalah salah satu tanda kiamat ... Astaghfirullah!
I actually spent time thinking about it and you know, kalau memang interpretasi orang tersebut benar, tentunya kiamat sudah dekat ketika Mesjid Imam di Isfa
han, Iran, berdiri tahun 1611; Mesjid Sultan Ahmet (aka Mesjid Biru) di Istanbul, Turki, tahun 1616; Mesjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz di Selangor, Malaysia tahun 1982; Mesjid Faisal di Islamabad, Pakistan tahun 1986 (bantuan Arab Saudi lho, tsk, tsk, tsk); Mesjid Hassan II di Casablanca, Marokko tahun 1993 (lihat gambar); atau bahkan Mesjid Nabawi dan Masjidil Haram sendiri di Arab Saudi yang memang terus diperluas dan diper'megah' (should this person tell the Saudis to stop what they're doing?).Anyway, saya tidak akan berpolemik di masalah fiqh karena setiap orang entitled to his or her interpretation (and so am I) tapi kalau saya pikir setiap kali mesjid-mesjid megah dan indah dibangun di manapun, pasti selalu ada yang pro dan yang kontra, baik dari luar maupun dari dalam kalangan Muslim sendiri. And in this case I believe in giving this mosque a chance.
Setelah silaturahmi ke rumah keluarga besar, saya pun langsung bergerak menuju Mesjid 'Kubah Emas'. Selain Lukas, ikut juga tante saya dan 'asisten' setianya. Mungkin karena masih suasana Idul Fitri, jalananpun tidak seberapa macet seperti yang saya kuatirkan sebelumnya meskipun cukup berlubang-lubang membuat saya yang menyetir city car terasa seperti sedang off-road apalagi baru setengah jalan menuju ke tujuan, tiba-tiba hujan turun dengan sederas-derasnya.
Saat tiba di parkiran mesjid, hujan masih terus mengguyur. Karena sudah niat ingin mengejar sholat Ashr di dalam mesjid akhirnya kami berempat menerobos hujan dengan payung. Karena saya dan Lukas hanya kebagian satu payung, hasilnya, ya, basah kuyup juga karena angin kencang bertiup juga dari depan menyiram badan dengan air. Ternyata pintu masuk mesjid untuk pria letaknya di samping kiri dan kanan mesjid, sementara pintu masuk perempuan di belakang mesjid, paling dekat dengan parkiran. Setelah sempat berteduh sejenak di bangunan serbaguna (?) akhirnya kami berdua berhasil masuk ke dalam Mesjid 'Kubah Emas'.
Well, well, well. Mesjid ini boleh kelihatan megah dan mewah dari luar, namun ternyata interiornya menurut saya sangat 'sederhana'. Italian chandelier yang digembar-gemborkan memang cukup impresif
Di antara mesjid-mesjid berkubah emas yang ada di dunia, hanya tinggal mesjid serupa yang tertua yang belum pernah saya kunjungi (iyalah di Irak gitu loh, memangn
Kembali ke Mesjid Dian Al Mahri, kesederhanaan interior mesjid menurut saya justru bisa diartikan secara positif, karena ternyata siapa yang membangun mesjid ini cukup 'pandai', dalam arti mesjid dibuat megah dari luar supaya orang tertarik datang (iyalah, bahkan tidak sedikit pengunjung dari luar negeri yang jauh-jauh datang spesial untuk berkunjung ke mesjid ini), sementara interior dibuat sederhana supaya orang bisa khusyuk sholat (kalau malah terlalu indah, nanti malah terlalu sibuk bernarsis ria, dan bukannya sholat, betul nggak? :-)).
Ketika saya di sana, di dalam mesjid ternyata banyak juga anak-anak - sebagian di antara mereka kelihatann
Pengalaman saya di Mesjid Dian Al Mahri nevertheless cukup berkesan dan I surely recommend anyone to give someplace a chance before making your own conclusion. I sure wouldn't mind going back there again next time I have the chance - besides, gara-gara hujan gede, kesempatan berfoto ria dengan background kubah emas mesjid masih belum kesampaian ... Huh, dasar narsis!
Subscribe to:
Posts (Atom)