Saturday, November 29, 2008

Bitchin' and Slappin' about VIY 2008

My country, right or wrong.
(Stephen Decatur)

OK, let me begin by asking a few questions. Do you know where Indonesia is? Some of you do? Fair enough. Do you know that 2008 has been designated as the Visit Indonesia Year? I see some locals raise their hands. Now, do you know any particular reasons why you should visit Indonesia during the Visit Indonesia Year? No? I rest my case.

Sometimes it doesn't take too many questions to find out whether something is destined to succeed or to fail. Visit Indonesia Year, unfortunately, is one of the latter. Right from the beginning it was a failure waiting to happen. Oke, coba bayangkan, launched only in December 2007, kalau memang pemerintah Indonesia mengerti mengenai marketing yang baik, tentu gaung mengenai Visit Indonesia Year atau VIY 2008 ini seharusnya sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan dari tahun 2006 kalau perlu untuk meningkatkan awareness.

Tapi justru satu hal yang paling saya ingat mengenai peluncuran VIY 2008 adalah blunder yang dilakukan pemerintah ketika mereka mendadak menyadari bahwa slogan kegiatan yang seharusnya menjadi kebanggaan 230 juta lebih penduduk Indonesia ini ternyata bahasa Inggrisnya keliru, yaitu "celebrating 100 years of nation's awakening" padahal seharusnya adalah "celebrating 100 years of national awakening". Memang sih bedanya hanya dua huruf, tapi ya tetap saja fatal dan embarassing, ketahuan bahwa sudah 62 tahun merdeka (tahun 2007 ya) tapi masih saja bahasa Inggris orang Indonesia belepotan. Hasilnya ya itu, belum apa-apa pemerintah harus mengeluarkan uang lagi untuk cetak ulang ribuan brosur yang sudah terlanjur dicetak, termasuk juga mengecat ulang badan pesawat Garuda yang sudah keburu memajang 'dengan bangganya' logo dengan slogan yang error ini (lihat gambar). Yang saya tidak mengerti sampai sekarang adalah kenapa sih slogan itu yang dipilih? Apa spesialnya mengenai national awakening Indonesia sehingga membuat wisatawan asing harus berkunjung ke sini? Wong seingat saya peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2008 berlalu begitu saja koq. Jangan-jangan, pemerintah kita cuma bisa mengekor saja salah satu negara tetangga yang pada tahun 2007 sukses menyelenggarakan tahun kunjungan wisatanya dengan menjual slogan 'celebrating 50 years of nationhood' (kalau saya berani-berani sebut nama negaranya nanti saya bisa 'dihujani' death threats - so typically Indonesian, heheh).

Sebenarnya Indonesia punya slogan pariwisata yang sangat bagus. Kalau Malaysia terkenal dengan "Truly Asia"-nya kemudian Thailand dengan "Amazing Thailand", dan Philippines dengan "Wow! Philippines", maka Indonesia punya "Ultimate in Diversity" yang menurut saya lebih pantas dibanggakan dan 'dijual' daripada "celebrating 100 years of national awakening". Ya, di Asia Tenggara, bahkan dunia sekalipun, Indonesia tidak ada tandingannya dalam hal diversity, baik dalam hal budayanya (over 200 ethnic groups!), alamnya (17,000 islands to choose from) maupun jenis atraksinya (World Heritage ancient temples, pristine rainforests, countless white sandy beaches, multicoloured volcanic lakes, surfing meccas, underwater wonders, vibrant nightlife, my goodness the list just goes on and on). Plus, if you love the food like me, then you would find a hard time trying to define what Indonesian cuisine really is because it's so diverse - and yet, it's all so damn yummy! On top of that, with our currency being very weak it means Indonesia is also one of the cheapest travel destinations you could find anywhere on earth!

OK, so what's the problem? Indonesia boleh saja bergonta-ganti presiden - sekarang sudah yang keempat dalam 10 tahun terakhir - tapi toh yang namanya corruption dan mismanagement masih terus 'dibudayakan'. Hal ini tentu berdampak pada anggaran promosi yang seharusnya justru digenjot untuk mensukseskan event besar seperti VIY 2008 ini. Terus terang saya suka miris dan iri kalau melihat tayangan iklan di TV yang mempromosikan pariwisata di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Iklannya begitu mempesona sehingga membuat saya berpikir saya saja yang sudah berulang kali mengunjungi negara-negara itu jadi tergoda berkunjung lagi, bagaimana dengan mereka yang belum? Sementara iklan VIY 2008 yang saya lihat di TV frekuensinya sangat jarang. And don't get me started on the Indonesian tourism ad on the cinema ... ya ampun, saya tidak bermaksud menghina tapi ya masa' kualitas gambarnya seburuk itu, membuat saya yang menonton ingin agar iklan itu cepat-cepat berlalu karena jijik (sic).

Kurangnya iklan promosi VIY 2008 juga 'didukung' oleh ketiadaan printed promotional material yang memadai. Saya ingat ketika berada di bandara internasional Ninoy Aquino di Manila, di setiap dinding kosong dipasangi foto ukuran raksasa dari tempat-tempat wisata di negara itu. Saya yang belum pernah mendengar sebagian dari tempat-tempat itu terus terang menjadi tertarik untuk berkunjung atau at least mencari tahu, hanya oleh karena hal sesimple itu. Mungkin ini perlu dicontoh di gerbang-gerbang masuk utama di Indonesia, seperti Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Ngurah Rai, Bandara Djuanda, Pelabuhan Batam Centre, dan lain sebagainya, karena toh saya yakin di tempat-tempat itu masih banyak dinding-dinding maupun space-space kosong lainnya yang 'dianggurkan' begitu saja ...

Di era informasi sekarang ini, satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah official tourism website. Indonesia nampaknya memang tidak ketinggalan untuk yang satu ini, tapi sayangnya alamat websitenya tidak begitu populer. Ya, karena saya perhatikan selama beberapa tahun pemerintah Indonesia nampaknya 'berkutat' sebelum akhirnya menemukan alamat website yang klop untuk merepresentasikan pariwisata Indonesia di www.my-indonesia.info. Secara pribadi agak aneh juga kenapa "my Indonesia" yang dipilih, seakan menegaskan bahwa Indonesia itu adalah milik "saya", bukan milik "kamu". Apa yang terjadi dengan nama "visit Indonesia", misalnya, nampaknya lagi-lagi pemerintah Indonesia kalah dengan net-squatter. Name choice aside, sayangnya website resmi pariwisata Indonesia itu kurang mendetail dan komprehensif, sehingga kesannya 'nanggung', dan saya rasa tidak akan banyak berdampak dalam mendongkrak minat warga asing untuk berkunjung ke Indonesia (coba bandingkan saja dengan www.visitkorea.or.kr - rasanya benar-benar tidak perlu beli guidebook).

Sebenarnya ini bukan kali pertama Indonesia menyelenggarakan event VIY. Saya masih ingat ketika di SMA (whoa, ketahuan nih sudah tidak muda lagi, hehe), rezim yang terdahulu menggelar Visit Indonesia Year 1991, lengkap dengan si 'Bacusa' alias Badak Cula Satu sebagai maskotnya dan slogan "let's go archipelago". Sampai sekarang saya masih ingat dengan event tersebut dan koq ya cukup sukses. Terbukti VIY 1991, berhasil mendongkrak kedatangan wisatawan asing ke Indonesia di tahun berikutnya sebanyak 20%! Terlepas dari 'dosa-dosa' rezim 'EMS', dalam hal pariwisata kita harus angkat topi karena dalam hal persiapan dan juga marketing, rezim terdahulu jauh lebih sigap. Sebagai contoh, VIY 1991 dicanangkan berdasarkan keppres tahun 1989, bukan dadakan karena mau mengekor kesuksesan negara tetangga ...

Lalu, apalagi masalahnya? Di dekade di mana dunia disibukkan dengan war on terror, keamanan tentu punya dampak yang cukup besar terhadap pariwisata sebuah negara. Pertanyaannya: apakah negara yang 'tidak aman' otomatis wisawatan enggan berkunjung ke sana? Membaca perkembangan dunia akhir-akhir ini, saya kembali harus mengurut dada. "Bandara dikepung, semua penerbangan lumpuh" - demikian headline salah satu koran nasional terbesar mengomentari para demonstran anti-pemerintah yang menduduki kedua bandara utama di Bangkok, yang notabene adalah gerbang utama negara Thailand. Ini sebenarnya adalah rentetan dari sekian banyak kejadian belakangan ini yang menimpa Land of Smiles itu akibat terjadinya gonjang-ganjing politik, termasuk perang dengan Kamboja, dan beberapa kali pengeboman, termasuk yang memakan korban wisatawan asing. Lantas, apakah kemudian wisatawan asing menghindari Thailand? Hoho, no way josé! Tourists will still flock to Thailand and the country will still receive more tourists than poor Indonesia. Kenapa? Ya itulah, pemerintah Thailand memang sudah serius dan committed sekali dengan pariwisatanya sehingga wisatawan asing sudah 'terhipnotis' oleh image Thailand yang begitu mempesona, tidak peduli negaranya sedang 'amburadul'. Coba bayangkan kalau bandara di Jakarta diduduki oleh demonstran - hampir dapat dipastikan negara-negara asing akan langsung meng-update website mereka dan langsung memberlakukan travel warning untuk seluruh wilayah Indonesia!

Satu lagi perbandingan yang cukup menarik saya bahas adalah India. Negara yang berulang kali menjadi lokasi persinggahan "The Amazing Race" ini (Indonesia: tidak pernah!), baru-baru ini dikejutkan oleh teror sekelompok bersenjata yang menyerang target-target strategis di kota terbesar Mumbai (termasuk dua hotel bintang lima!) , di mana dilaporkan warga negara asing dijadikan sasaran utamanya. Memang sangat memprihatinkan apa yang terjadi di sana, namun sebenarnya benih-benih untuk kejadian seperti itu sudah ada sejak beberapa tahun terakhir. Coba lihat, dari tahun 2006 hingga hari ini, total sudah lebih dari 900 (!) orang tak bersalah jadi korban terorisme di India. Bagaimana dengan Indonesia? Nol besar! Tapi, apa yang terjadi? Mari kita ambil contoh pemerintah Australia. Saat terdengar kabar Mumbai diserang, barulah mereka memasang travel warning tapi khusus untuk Mumbai. Barulah ketika insiden di Mumbai terungkap, mereka memasang travel warning untuk seluruh India. Bagaimana 'nasib' Indonesia? Well, pemerintah Australia justru menyambut VIY 2008 bukannya dengan mencabut travel warning mereka untuk Indonesia, namun malah 'meningkatkan'nya terutama sejak menjelang eksekusi Trio Bom Bali. Nyatanya, sampai detik ini, alhamdulillah, Indonesia masih aman-aman saja tuh ...

Kembali lagi ke VIY 2008. Memang dari judul tulisan saya ini bisa ditebak arahnya ke mana. Boleh dong sekali-kali saya menumpahkan uneg-uneg saya, apalagi ini juga masih ada hubungannya dengan traveling (besides, it's my blog I'm entitled to writing whatever I want in it, hehe :-D) Anyway, beberapa hari yang lalu, headline sebuah berita di koran nasional seolah menegaskan apa yang sebenarnya sudah dapat diprediksi "Depbudpar: Berat Capai Target Tujuh Juta Wisman". Ya, dengan jumlah wisatawan yang hanya mencapai 4,57 juta hingga September kemarin, bisa dipastikan target kedatangan tujuh juta wisatawan asing selama VIY 2008 bisa dipastikan akan meleset. Bahkan, jika jumlahnya mencapai lebih dari 6 juta orang saja sudah untung karena kuartal terakhir 2008 bisa dibilang berat mengingat dampak krisis ekonomi global yang membuat orang tidak punya uang untuk bepergian jauh (sadly, I'm one of the victims too :-<).

Alors, quoi faire?
Pariwisata memang sepatutnya menjadi andalan Indonesia karena memang tidak ada negara lain yang mempunyai atraksi wisata yang begitu diverse seperti Indonesia. Namun, sebelum kita mulai menggembar-gemborkan pariwisata Indonesia masih ada banyak hal yang perlu dibenahi. Pertama, ke dalam, yaitu perbaikan sarana dan prasarana pariwisata. Jalan-jalan menuju dan juga di dalam obyek pariwisata harus dalam keadaan baik (kecuali obyek wisata yang memang mengutamakan keaslian alam tentunya) untuk memperlancar akses. Begitu juga dengan ketersediaan transportasi. Kalau bisa, pastikan semuanya tersedia dalam fixed price, jangan sampai hal ini memberikan kesempatan untuk malah 'menggetok' wisatawan asing (siapapun tentu tidak suka ditipu). Kemudian juga sarana-sarana penunjang, seperti rumah makan, penginapan, dan tak kalah pentingnya adalah kamar mandi umum yang layak dan tidak jorok. Kebersihan juga penting karena banyak orang Indonesia yang masih terbiasa membuang sampah sembarangan (saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Indonesia menerapkan peraturan seperti di Seoul, Korea, yang nyaris meniadakan tempat sampah di tempat-tempat umum - wah, kejadian Bandung 'lautan sampah' bisa terjadi lagi!). Satu lagi yang tidak kalah pentingnya tentu saja adalah keamanan. Dalam hal ini pemerintah punya tanggung jawab yang besar dan berat guna memastikan agar tidak 'kecolongan' lagi.

Kalau hal pertama di atas sudah beres, tentu baru kita bisa memulai dengan hal yang kedua, yaitu ke luar, dalam arti menggiatkan promosi ke luar Indonesia. Hal ini tentunya harus didukung oleh anggaran promosi pariwisata yang cukup besar dan berkesinambungan. Buatlah printed promotional material sebanyak-banyak dan jangan ragu untuk menyebarkannya. Pasanglah iklan pariwisata Indonesia yang menarik dan tidak asal jadi, dan pastikan iklan-iklan tersebut mencapai target audience yang diinginkan melalui media yang tepat pula. Jangan sampai iklan pariwisata Indonesia malah dipasang di acara dokumenter mengenai Bom Bali - oh lala! Kemudian, rombaklah website pariwisata Indonesia - kalau perlu, cari alamat yang lebih mudah diingat (jangan sampai kalau orang meng-google yang muncul pertama malah justru website pariwisata yang unofficial) dan informasi pariwisata yang mendetail dan komprehensif, kalau perlu buat yang lebih hebat dari website pariwisata Korea yang saya sebut di atas (boleh dong berandai-andai).

Saya tidak setuju kalau kedua hal di atas berjalan bersamaan. Alasannya mudah saja karena wisatawan asing pasti akan kecewa jika sudah jauh-jauh datang ke Indonesia ternyata menemukan keadaan tidak seperti yang dijanjikan akibat ketidaksiapan saran dan prasarana. Bukan saja mereka tidak akan kembali ke sini, mereka juga kemungkinan besar akan memberitahu para kenalannya supaya menghindari Indonesia.

Dengan pembenahan yang serius ke dalam dan ke luar, pariwisata Indonesia tentu tidak akan lagi membutuhkan event khusus semacam VIY 2008 because every year will be a visit Indonesia year. Last but not least, cari juga slogan pariwisata Indonesia yang simple, catchy dan original (sekali lagi, buang jauh-jauh kebiasaan mengekor negara tetangga - Yogyakarta: Neverending Asia? WTF?) sehingga setiap kali mendengarnya wisatawan asing langsung tergoda dan setidaknya ingin tahu mengenai negara kita. Indonesia? Ya ya ya!

Friday, November 7, 2008

Karaoke karo koe*

Karaoke
/karrioki/
• noun a form of entertainment in which people sing popular songs over pre-recorded backing tracks.
— ORIGIN Japanese, ‘empty orchestra’.
(Compact Oxford English Dictionary)

Saya tidak pernah secara pasti mengetahui apa sebabnya tapi kalau diperhatikan belakangan ini karaoke bisa dibilang sudah menjadi fenomena global (iyalah, kalau tidak nggak mungkin dimasukkan di Oxford Dictionary), meskipun tetap saja Asia menjadi tempat yang paling populer. I have to admit, saya termasuk penggemar berat karaoke. I'm not gonna pretend that I'm the best singer ever walked on the face of the earth (although I think I can sing a few songs pretty well), but karaoke to me is just fun, fun, fun. It's a really nice way to spend a few hours and let your hair down in a good company of like-minded friends.

Mungkin salah satu penyebab karaoke di negara-negara Barat tidak sepopuler di Asia adalah karena konsep karaokenya sendirinya berbeda. Sering teman-teman saya dari negara-negara Barat yang saat berkunjung ke Indonesia saya ajak ke karaoke, mereka langsung jiper (duh, jadul sekali ya saya, hehe :P). Usut punya usut ternyata mereka pikir karaoke di sini sama dengan karaoke di negaranya, yaitu kita nyanyi di ruangan besar di hadapan begitu banyak orang yang tidak kita kenali (kalau begitu caranya, saya juga mungkin ikutan jiper). Ternyata setelah diperkenalkan dengan karaoke di private room, ternyata mereka gandrung (sic) sekali, bahkan ada yang sampai ketagihan!

Untungnya best friend saya, Aji, juga penggemar karaoke. Semenjak dia pindah ke Singapura beberapa tahun yang lalu, kami jarang bertemu muka, namun sekalinya bertemu, it's almost certain that a karaoke session will be on the menu. Salah satu 'rekor' karaoke saya juga 'dicetak' saat saya bersama Aji. Waktu itu saya sedang 'main' ke tempat Aji di Singapura, and of course a visit to the local karaoke joint was inevitable. Sayang sekali waktu itu tidak ada teman Aji yang bisa bergabung, tapi karena sudah diniatkan, ya kita jalan terus. Ternyata, meski hanya berdua, karaoke tetap bisa mengasyikkan, and without realizing it, we ended up being the last guests at that place, after more than three hours of bloody karaoke!

'Rekor' karaoke saya yang lain 'dicetak' bulan Agustus lalu saat saya dan 'segerombolan' teman dari Couchsurfing Jakarta menghabiskan malam Minggu di salah satu tempat karaoke di Jakarta (whose name I won't mention for a reason you'll soon find out) selama 5 jam! (lihat gambar - with special effect) Sayangnya, it also ended up being my most expensive karaoke session ever - lebih dari Rp1,7 juta! (termasuk makan dan minum sih, padahal sudah didiskon!) Untung jumlah tersebut masih dibagi di antara 15 orang, tapi ya tetap saja mahal ...

Bagi mereka yang masih awam mengenai karaoke scene di Jakarta, penting diingat dua jenis karaoke agar tidak malu-maluin karena salah pilih. Yang pertama adalah karaoke keluarga. Ini jenis yang 'aman' untuk seluruh anggota keluarga, dari balita hingga lansia (bayi jangan diajak ke karaoke, bisa budeg). Ciri-cirinya antara lain, selain namanya yang dengan jelas mengidentifikasikan diri sebagai karaoke keluarga, biasanya pintu setiap kamarnya memiliki 'jendela' kecil. Kenapa harus ber'jendela'? Nah, itu dia, karena 'jendela' tadi memudahkan orang dari luar untuk melihat what's going on inside. Sementara, jenis yang kedua, adalah karaoke 'non-keluarga', sangat mengutamakan privacy, sehingga jangankan pintu kamar, pintu masuk ke lobby saja juga dibuat setertutup mungkin, menutup akses orang luar melihat ke dalam. I don't wish to be judgmental since I've never been in one myself (honest!), tapi mendengar kisah-kisah orang yang sudah mengalaminya, bisa dipastikan tempat-tempat karaoke semacam itu meng'halal'kan praktek-praktek yang sifatnya tidak family-friendly (kebangetan kalau masih nggak ngerti maksud saya - mesum gitu bok!). Bahkan tidak jarang tempat karaoke semacam itu mengidentifikasikan dirinya sebagai 'Karaoke and Spa' (hmm, sambil dipijit, kita karaoke? Ugghhhh ... :-0)

Saya punya pengalaman unik saat saya berada di Korea. Menurut saya, bangsa Korea termasuk penggemar berat karaoke. Betapa tidak, saat saya berada dalam perjalanan di kereta api, saya terkejut ketika menemukan di gerbang restorasinya: not just one, but three karaoke booths! Rupanya strategi pemasaran Korea Rail cukup jitu - daripada penumpang bete di perjalanan lebih baik berkaraoke ria! Wah, coba saja cara itu ditiru di negeri tercinta ini ... Anyway, back to my experience. Waktu itu saya dan dua orang teman saya dari Kanada, sedang 'haus' hiburan malam di Seoul. Kami berada di distrik Hongdae yang cukup trendy dan dipenuhi oleh kaum muda Seoul karena letaknya yang dekat dengan salah satu universitas besar di sana. Saya pun mengusulkan untuk mencoba karaoke, dan diterima. Namun mencari tempat karaoke di Seoul tidak semudah kelihatannya. Kami sempat 'salah masuk' ke beberapa tempat karaoke 'non-keluarga' sebelum akhirnya menemukan satu tempat yang cukup terang dan uniknya beberapa kamar memiliki jendela besar yang menghadap keluar sehingga saya yakin bahwa itu adalah karaoke keluarga yang saya cari-cari. Saya pun masuk ke tempat tersebut dan disambut seorang pelayan laki-laki.

"Hello, is this a karaoke place?" tanya saya berbasa-basi.
"No, we don't have karaoke here," jawab si pelayan.
Glek. Saya heran, sudah jelas dari luar ini tempat karaoke, kok masih dibilang bukan. Ah, siapa tahu pelayannya tidak mengerti pertanyaan saya. Maklum saja, orang Korea banyak yang bahasa Inggris pas-pasan, makanya English schools di Korea bertaburan di mana-mana.
"Isn't this a karaoke place?" saya ulangi pertanyaan saya.
"No, no karaoke," jawab pelayan itu dengan pedenya.
"Are you sure there's no karaoke here?" tanya saya penasaran sambil menunjuk ruang-ruangan di mana jelas terdengar pengunjung yang sedang menyanyikan lagu-lagu Korea dengan segenap kemampuan mereka.
"No, no karaoke," jawab si pelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya.
Salah satu teman saya nimbrung dan bertanya:
"Can we drink alcohol here?"
"No karaoke, no alcohol," jawab si pelayan yang mungkin mulai kesal pada kami.

Jawaban terakhir si pelayan akhirnya membuat saya 'ngeh'. Di Korea, karaoke yang kita kenal di Indonesia, maupun sebagian besar negara lain di dunia, dikenal dengan nama 'noribang' atau singing room (kamar bernyanyi). Sementara bagi mereka, kalau kita menyebut karaoke maka konotasinya adalah karaoke 'non-keluarga' di mana pengunjung dapat minum alkohol sekaligus ber'asyik-masyuk'. Kenapa orang Korea memilih istilah karaoke yang aslinya dari bahasa Jepang itu untuk sesuatu yang berkonotasi yang negatif, saya tidak mau berpolemik, namun yang jelas jika Anda ke Korea dan ingin hiburan malam, jangan keliru antara singing room dan karaoke. Yang mana Anda pilih tentu itu terserah Anda ....

(* singing in the karaoke with you = Javanese language)