Showing posts with label Seoul. Show all posts
Showing posts with label Seoul. Show all posts

Friday, November 7, 2008

Karaoke karo koe*

Karaoke
/karrioki/
• noun a form of entertainment in which people sing popular songs over pre-recorded backing tracks.
— ORIGIN Japanese, ‘empty orchestra’.
(Compact Oxford English Dictionary)

Saya tidak pernah secara pasti mengetahui apa sebabnya tapi kalau diperhatikan belakangan ini karaoke bisa dibilang sudah menjadi fenomena global (iyalah, kalau tidak nggak mungkin dimasukkan di Oxford Dictionary), meskipun tetap saja Asia menjadi tempat yang paling populer. I have to admit, saya termasuk penggemar berat karaoke. I'm not gonna pretend that I'm the best singer ever walked on the face of the earth (although I think I can sing a few songs pretty well), but karaoke to me is just fun, fun, fun. It's a really nice way to spend a few hours and let your hair down in a good company of like-minded friends.

Mungkin salah satu penyebab karaoke di negara-negara Barat tidak sepopuler di Asia adalah karena konsep karaokenya sendirinya berbeda. Sering teman-teman saya dari negara-negara Barat yang saat berkunjung ke Indonesia saya ajak ke karaoke, mereka langsung jiper (duh, jadul sekali ya saya, hehe :P). Usut punya usut ternyata mereka pikir karaoke di sini sama dengan karaoke di negaranya, yaitu kita nyanyi di ruangan besar di hadapan begitu banyak orang yang tidak kita kenali (kalau begitu caranya, saya juga mungkin ikutan jiper). Ternyata setelah diperkenalkan dengan karaoke di private room, ternyata mereka gandrung (sic) sekali, bahkan ada yang sampai ketagihan!

Untungnya best friend saya, Aji, juga penggemar karaoke. Semenjak dia pindah ke Singapura beberapa tahun yang lalu, kami jarang bertemu muka, namun sekalinya bertemu, it's almost certain that a karaoke session will be on the menu. Salah satu 'rekor' karaoke saya juga 'dicetak' saat saya bersama Aji. Waktu itu saya sedang 'main' ke tempat Aji di Singapura, and of course a visit to the local karaoke joint was inevitable. Sayang sekali waktu itu tidak ada teman Aji yang bisa bergabung, tapi karena sudah diniatkan, ya kita jalan terus. Ternyata, meski hanya berdua, karaoke tetap bisa mengasyikkan, and without realizing it, we ended up being the last guests at that place, after more than three hours of bloody karaoke!

'Rekor' karaoke saya yang lain 'dicetak' bulan Agustus lalu saat saya dan 'segerombolan' teman dari Couchsurfing Jakarta menghabiskan malam Minggu di salah satu tempat karaoke di Jakarta (whose name I won't mention for a reason you'll soon find out) selama 5 jam! (lihat gambar - with special effect) Sayangnya, it also ended up being my most expensive karaoke session ever - lebih dari Rp1,7 juta! (termasuk makan dan minum sih, padahal sudah didiskon!) Untung jumlah tersebut masih dibagi di antara 15 orang, tapi ya tetap saja mahal ...

Bagi mereka yang masih awam mengenai karaoke scene di Jakarta, penting diingat dua jenis karaoke agar tidak malu-maluin karena salah pilih. Yang pertama adalah karaoke keluarga. Ini jenis yang 'aman' untuk seluruh anggota keluarga, dari balita hingga lansia (bayi jangan diajak ke karaoke, bisa budeg). Ciri-cirinya antara lain, selain namanya yang dengan jelas mengidentifikasikan diri sebagai karaoke keluarga, biasanya pintu setiap kamarnya memiliki 'jendela' kecil. Kenapa harus ber'jendela'? Nah, itu dia, karena 'jendela' tadi memudahkan orang dari luar untuk melihat what's going on inside. Sementara, jenis yang kedua, adalah karaoke 'non-keluarga', sangat mengutamakan privacy, sehingga jangankan pintu kamar, pintu masuk ke lobby saja juga dibuat setertutup mungkin, menutup akses orang luar melihat ke dalam. I don't wish to be judgmental since I've never been in one myself (honest!), tapi mendengar kisah-kisah orang yang sudah mengalaminya, bisa dipastikan tempat-tempat karaoke semacam itu meng'halal'kan praktek-praktek yang sifatnya tidak family-friendly (kebangetan kalau masih nggak ngerti maksud saya - mesum gitu bok!). Bahkan tidak jarang tempat karaoke semacam itu mengidentifikasikan dirinya sebagai 'Karaoke and Spa' (hmm, sambil dipijit, kita karaoke? Ugghhhh ... :-0)

Saya punya pengalaman unik saat saya berada di Korea. Menurut saya, bangsa Korea termasuk penggemar berat karaoke. Betapa tidak, saat saya berada dalam perjalanan di kereta api, saya terkejut ketika menemukan di gerbang restorasinya: not just one, but three karaoke booths! Rupanya strategi pemasaran Korea Rail cukup jitu - daripada penumpang bete di perjalanan lebih baik berkaraoke ria! Wah, coba saja cara itu ditiru di negeri tercinta ini ... Anyway, back to my experience. Waktu itu saya dan dua orang teman saya dari Kanada, sedang 'haus' hiburan malam di Seoul. Kami berada di distrik Hongdae yang cukup trendy dan dipenuhi oleh kaum muda Seoul karena letaknya yang dekat dengan salah satu universitas besar di sana. Saya pun mengusulkan untuk mencoba karaoke, dan diterima. Namun mencari tempat karaoke di Seoul tidak semudah kelihatannya. Kami sempat 'salah masuk' ke beberapa tempat karaoke 'non-keluarga' sebelum akhirnya menemukan satu tempat yang cukup terang dan uniknya beberapa kamar memiliki jendela besar yang menghadap keluar sehingga saya yakin bahwa itu adalah karaoke keluarga yang saya cari-cari. Saya pun masuk ke tempat tersebut dan disambut seorang pelayan laki-laki.

"Hello, is this a karaoke place?" tanya saya berbasa-basi.
"No, we don't have karaoke here," jawab si pelayan.
Glek. Saya heran, sudah jelas dari luar ini tempat karaoke, kok masih dibilang bukan. Ah, siapa tahu pelayannya tidak mengerti pertanyaan saya. Maklum saja, orang Korea banyak yang bahasa Inggris pas-pasan, makanya English schools di Korea bertaburan di mana-mana.
"Isn't this a karaoke place?" saya ulangi pertanyaan saya.
"No, no karaoke," jawab pelayan itu dengan pedenya.
"Are you sure there's no karaoke here?" tanya saya penasaran sambil menunjuk ruang-ruangan di mana jelas terdengar pengunjung yang sedang menyanyikan lagu-lagu Korea dengan segenap kemampuan mereka.
"No, no karaoke," jawab si pelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya.
Salah satu teman saya nimbrung dan bertanya:
"Can we drink alcohol here?"
"No karaoke, no alcohol," jawab si pelayan yang mungkin mulai kesal pada kami.

Jawaban terakhir si pelayan akhirnya membuat saya 'ngeh'. Di Korea, karaoke yang kita kenal di Indonesia, maupun sebagian besar negara lain di dunia, dikenal dengan nama 'noribang' atau singing room (kamar bernyanyi). Sementara bagi mereka, kalau kita menyebut karaoke maka konotasinya adalah karaoke 'non-keluarga' di mana pengunjung dapat minum alkohol sekaligus ber'asyik-masyuk'. Kenapa orang Korea memilih istilah karaoke yang aslinya dari bahasa Jepang itu untuk sesuatu yang berkonotasi yang negatif, saya tidak mau berpolemik, namun yang jelas jika Anda ke Korea dan ingin hiburan malam, jangan keliru antara singing room dan karaoke. Yang mana Anda pilih tentu itu terserah Anda ....

(* singing in the karaoke with you = Javanese language)

Saturday, October 18, 2008

Shop Till I Drop

A man would buy twice as much something he really needs,
A woman would buy half as much something she doesn't really need.

Joke di atas adalah salah satu favorit saya karena kalau dipikir-pikir selain lucu, sebenarnya apa yang dikatakan di situ memang tidak jauh dari kenyataannya. Kalau pernah ada studi mengenai berapa lama waktu yang dihabiskan perempuan dan laki-laki dalam berbelanja, I can sure bet that the difference would be significant. Perhaps it's true then that women are indeed born to shop.

Dalam hal gila belanja, saya kira orang Indonesia tidak ada duanya. Sudah jamak saya mendengar cerita bagaimana kalau turis Indonesia pergi ke luar negeri, pasti acara yang paling ditunggu-tunggu adalah kunjungan ke lokasi shopping, apalagi kalau barang-barangnya bisa ditawar - wah, bisa kalap! Baru-baru ini seorang teman yang sudah berencana traveling keliling suatu negara bersama saya tiba-tiba membatalkan ikut serta begitu kami baru sampai di ibukotanya. Ternyata ia keburu kesengsem dengan shopping opportunity di ibukota sehingga memutuskan bahwa lebih baik dia habiskan uangnya untuk shopping daripada untuk jalan-jalan. Alamak!

Mungkin tidak begitu banyak kaum laki-laki yang penggila belanja karena harus diakui dalam hal tawar menawar untuk mendapatkan harga barang semurah-murahnya, kaum perempuan memang lebih 'tega'. Saya sendiri sebenarnya juga tidak begitu suka belanja, I guess I'm a typical bloke who only shops when he really needs something, at least when I'm at home in Jakarta. However, being an Indonesian, terus terang kalau saya ke luar negeri, atau bahkan ke luar kota sekalipun, saya tidak suka pulang ke rumah dengan tangan hampa (well, I would feel guilty if I got nothing to give to the little ones at home). Selain itu saya juga mengoleksi beberapa pernak-pernik dari setiap tempat yang saya kunjungi, minimal fridge magnet dan maksimal T-shirt khas, both of which I think I've already got quite a collection right now. So, karena alasan itulah therefore I shop.

Saya tidak bisa mengunjungi lokasi shopping tanpa mengetahui apa yang mau dicari because this could be 'very dangerous' as you could easily spend hours there, and God knows how much money you'll end up spending. Pengalaman-pengalaman shopping saya mungkin tidak terlalu banyak, namun beberapa cukup berkesan. Di Eropa, jangan lewatkan belanja hari Minggu pagi di Fischmarkt di Hamburg, Jerman. Di sana bisa dilihat berbagai penjual mulai dari ikan, tanaman, buah-buahan, pasta, hingga souvenir khas Hamburg berupaya menarik pembeli dengan gaya khas mereka masing-masing yang terkadang sangat nyeleneh (pernah ada penjual tanaman yang memberikan satu pot tanamannya gratis ke seorang pembeli karena dia tidak mau menjual tanamannya itu ke pembeli yang lain yang menawar lebih murah - aneh ya?).

Pengalaman shopping saya yang paling extraordinaire semuanya terjadi di Asia. Bulan Mei lalu saya menghabiskan waktu lebih dari 48 jam (tidak berturut-turut sih) di atas kereta api untuk mencapai Kashgar di provinsi Xinjiang, which is the furthermost Chinese city from Beijing. Apa yang menarik saya ke sana? Well, selain beberapa monumen Islam seperti mesjid dan makam (kota ini adalah salah satu trading post terpenting di Jalur Sutra berabad-abad lalu dan penduduknya mayoritas dari suku Uyghur yang beragama Islam), the most famous attraction in Kashgar is actually the Yekshenba (Sunday) Bazaar (lihat gambar). Billed as the grand-daddy of all Central Asian markets, it attracts thousands and thousands of sellers and shoppers from all over the region, creating a spectacular explosion for the senses. Rows after rows of shops, selling pretty much anything's salable under the sun, from fresh vegetables to carpets, from ethnic skull caps to the latest in fashion, are what you can find in this place. If you do make it here, it's perhaps easy to get lost, but then again perhaps it's not a bad thing to do. For a big fan of the world's multiculturalism, being in a place where people from Uyghur, Kazakh, Kyrgyz, Uzbek, Tajik, Turkmen, Chinese, and God knows what other backgrounds, converge and interact around you, speaking interchangeably in their own unique native tongues, was simply a one-of-a-kind experience for me. I ended up spending 5 hours exploring the bazaar on foot - and you know what, it's only after I got back to my hotel I realized that I had actually missed the most famous part of the bazaar: the cattle market!

The award for the most 'hardcore' place for shopping in Asia, however, has to go to Seoul, Korea. Maksud saya 'hardcore' tentu bukan yang ada hubungannya dengan RUU APP yang menghebohkan itu, melainkan 'surga' bagi mereka yang memang tidak ada puas-puasnya berbelanja. Salah satu slogan pariwisata Korea adalah 'The Best Kept Secret of Asia' dan menurut saya ada benarnya juga, karena kebanyakan orang berwisata ke Asia Timur kalau tidak Cina, ya Jepang. Kalau mau belanja ya ke Hongkong. Di Seoul ternyata ada banyak lokasi shopping, dan yang membuat saya terheran-heran adalah ternyata banyak toko yang masih buka - di atas jam 12 malam! Mereka yang tidak bisa tidur sebelum memuaskan hasrat belanja, saya sarankan pergi ke Dongdaemun Market (lihat gambar). Terletak tidak jauh dari pusat kota Seoul, ini adalah pusat dari segala pusat perbelanjaan di Seoul. Betapa tidak, di lokasi ini konon (saya belum pernah menghitungnya sendiri, but I think the number's pretty close) berdiri tidak kurang dari 26 shopping malls! Ukuran shopping mall di sana juga tidak main-main. Ada yang berdiri 10 lantai dan isinya toko semua, dan ada juga bangunan yang hanya tiga lantai namun baru satu lantai saja sudah membuat kaki gempor karena meski sudah menyusuri deretan toko-toko sepanjang 300 meter, ujung mall masih belum kelihatan! Di luar itu masih banyak juga lapak-lapak yang terletak di pinggir jalan maupun di pedestrian underpass, menawarkan barang yang bahkan beberapa di antaranya untuk ukuran Indonesia harganya lumayan terjangkau. Yang membuat saya sampai merinding, bahkan sampai hari ini kalau mengingatnya, adalah kalau kita pergi ke tempat ini jam 12 malam, pasar ini justru sedang ramai-ramainya dengan puluhan ribu penjual dan pembeli! Jam buka shopping malls di Dongdaemun rata-rata memang incredible, bahkan ada yang dari jam 10 pagi hingga 5 pagi - wah shopping pun ternyata bisa mengalahkan clubbing!

Di dalam negeri, Indonesia, tempat favorit saya untuk shopping adalah di daerah Malioboro di Yogya. Menurut saya di sana barang-barangnya, harga-harganya dan suasana belanjanya di sana paling ideal. Ya, mungkin juga karena saya penggemar barang-barang etnis jadi kalau untuk belanja yang satu ini saya betah berlama-lama memilih-milih barang sampai ketemu yang sreg. Sebenarnya Pasar Sukawati di Bali juga menarik namun karena agak jarang ke Bali jadinya saya juga jarang belanja di sana.

Namun, di mana pun di Asia, hal yang paling challenging bagi saya adalah dalam hal tawar menawar. Ya, mungkin untuk yang satu ini I have to take my hat off to the ladies. Terus terang, jika menawar, saya masih ada rasa belas kasihan, jadi kalau harga berhenti di 2/3 harga awal saya pun sudah cukup puas, padahal saya tahu banyak penjual yang menaikkan harga empat kali lipat dari harga sebenarnya. Pernah di Yangshuo, Cina, saya mau membeli T-shirt. Ketika saya menanyakan harganya (dalam bahasa Inggris tentunya, dan di Cina, kalau Anda bertampang Asia dan bicara bahasa Inggris maka Anda akan diberikan harga bule yang lumayan 'fantastis') penjual menjawab "120 yuan" atau sekitar 160 ribu rupiah dengan kurs saat itu. Mendengar hal itu saya langsung keder dan mundur teratur. Namun si penjual itu ternyata masih berusaha menjual T-shirt itu kepada saya dan saat itu saya pikir "this is China, where all the cheap goods in Indonesia come from" jadi langsung saja saya sebut "15 yuan" (sekitar 19 ribu perak). Tentu si penjual menolak tawaran saya dan ketika saya tidak menaikkan tawaran dan mulai beranjak dari tokonya, tiba-tiba dia bilang "okay, okay". Wow, ternyata tidak hanya pembeli yang tega, penjual pun bisa cukup sadis memasang harga!

Urusan tawar-menawar memang bisa cukup bikin trauma, dan maka dari itu sekarang kalau berbelanja di Yogya, saya lebih suka belanja di Mirota. Memang harga lebih mahal, namun tidak terlalu jauh dari yang dijual di emperan Malioboro, itu pun kalau kita bisa menawar. Pernah saya menemukan di salah satu toko kerajinan di Malioboro, wayang kulit ukuran kecil dijual fixed price seharga 9 ribu perak saja sementara di emperan jangan harap barang sejenis dilepas di bawah 15 ribu.

I have to admit though that I don't think I'll ever stop shopping when traveling. I mean, it's in my blood. Even if in the end I get ripped off, then so be it, hitung-hitung bagi-bagi rejeki, and besides, I would never buy anything unless I really like it (meskipun belum tentu saya membutuhkannya). So, going back to the shopping joke, I think it needs another line for me as I fall under the category of those who would buy at double the price something that they don't necessarily need ...