(QS Al Baqarah: 191)
Sebenarnya sudah lama saya mau menulis mengenai pengalaman yang satu ini, dan one thing led to another akhirnya baru sekarang saya sempat mewujudkannya. Pengalamannya sendiri terjadi pada hari Idul Fitri 1429 H yang baru lalu jadi berhubung sekarang masih dalam suasana halal bihalal jadi ya saya pikir masih cukup fresh juga saya share dengan orang lain.
If anyone ever asked whether I'm a religious person I don't think I would be able to honestly say yes to that question. However, that doesn't mean that I don't believe in God, as a matter of fact, I do, and that's one fundamental element I'm not willing to negotiate. I guess I'm more of a spiritual person than religious now. I don't really believe in rituals, I mean I still do some, but only if I believe in the reason why I'm doing it.
Hari Idul Fitri seperti tahun-tahun sebelumnya adalah hari untuk keluarga. Bedanya dengan tahun lalu, tahun ini I actually willingly wanted to stay in Jakarta to celebrate it with my family. Sebenarnya ada beberapa alasan: mulai dari alasan klise (urusan dana, what else?) sampai alasan keluarga (it was the first time my brother was actually in town for this occasion in a long time so why go away?). Besides, kebetulan saat itu ada teman saya Lukas dari Jerman yang sedang menginap (silakan membaca entry sebelumnya) jadi ya kesempatan juga untuk memperkenalkan dia ke tradisi khas Indonesia yang satu in (setahu saya tradisi maaf-maafan saat Idul Fitri hanya ada di negara-negara Asia Tenggara - well, mungkin Asia Selatan juga). Anyway, karena saya tidak sempat mengajak Lukas jalan-jalan keliling kota Jakarta seperti kebiasaan saya kalau ada teman asing yang menginap (duh, baik ya saya? hehe) jadi saya pikir kenapa tidak saya manfaatkan kesempatan baik ini untuk mengunjungi one of Jakarta's newest attractions, yang kebetulan juga klop kalau dikunjungi saat Idul Fitri.
Mesjid Dian Al Mahri memang secara administratif bukan bagian dari Jakarta, melainkan Depok karena letaknya yang di Desa Limo yang masuk ke dalam wilayah kota tetangga di selatan Jakarta itu. Namun karena akses utamanya melalui Jakarta, ya tidak ada salahnya kalau dimasukkan ke dalam daftar attractions kota Jakarta. Sengaja saya tidak mau pakai istilah obyek wisata, karena tempat ini kan fundamentally a functioning mosque jadi tujuan utamanya adalah tempat ibadah, baru mungkin setelah itu fungsi-fungsi lainnya, antara lain ya obyek wisata itu. Makanya saya sebut attraction karena toh noone can deny that it's an attractive place.
Exactly how attractive the mosque is, well, how about you try this: mesjid ini berdiri di atas tanah seluas 50 hektar dengan bangunan mesjid seluas 8000 meter persegi. Namun yang menjadikan mesjid ini buah bibir banyak orang, bahkan sebelum mesjid ini akhirnya dibuka untuk umum akhir tahun 2006 adalah kelima kubahnya yang konon dilapisi emas 24 karat setebal 2 sampai 3 milimeter dan mosaik kristal. Wow! Kekaguman saya belum berhenti dari situ karena bangunan mesjid ini konon juga berbahan baku marmer impor dari Italia, dan interior mesjid dilengkapi dengan Italian chandelier (what's up with that?) lebih dari 2 ton (saya mendapat informasi berbeda-beda mengenai beratnya - ada yang bilang 2,7 ton, 4 ton bahkan 8 ton, tapi yang jelas lebih dari 2 ton lah). Tidak heran, kalau mesjid Dian Al Mahri sekarang lebih populer dengan nama Mesjid 'Kubah Emas'.
Satu hal lain yang membuat mesjid ini menurut saya menarik adalah latar belakang mesjid ini yang didirikan oleh seorang pengusaha perempuan asal Banten, Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid. Terus terang siapa sebenarnya tokoh ini menurut saya agak terlalu misterius, karena untuk membangun mesjid ini memerlukan biaya yang tidak sedikit and she's not exactly Aburizal Bakrie gitu loh. Terlepas dari itu, saya sih salut atas usaha pendiri mesjid ini (whoever you are) karena kalau niatnya ibadah Insha' Allah akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda.
Berhubung saya belum pernah ke sana, seperti biasa I had to do my homework first, mengumpulkan informasi mengenai tempat yang akan dikunjungi, biasanya through browsing on the Internet. Saya temukan lumayan banyak informasi mengenai mesjid ini terutama pada blog orang-orang yang sudah pernah berkunjung. Namun rasa excitement saya berubah menjadi prihatin ketika di salah satu blog yang nampaknya cukup populer (dilihat dari jumlah orang yang berkomentar), mesjid megah yang seharusnya bisa dibanggakan itu ternyata malah 'dibantai'.
Pemicunya adalah peraturan mesjid yang tidak membolehkan anak di bawah usia 10 tahun masuk. Mereka yang pro berargumen anak-anak harus dilatih mencintai mesjid sedari kecil, sementara yang kontra berargumen mungkin saja peraturan dibuat agar ibadah bisa lebih khusyuk karena sifat anak-anak yang masih suka bermain. Ternyata dari hal yang menurut saya sepele itu malah melebar kepada kritik mengenai 'kemegahan' mesjid. Bahkan sampai menggunakan salah satu hadits Nabi yang intinya menyatakan membangun Mesjid Dian Al Mahri yang indah ini adalah salah satu tanda kiamat ... Astaghfirullah!
I actually spent time thinking about it and you know, kalau memang interpretasi orang tersebut benar, tentunya kiamat sudah dekat ketika Mesjid Imam di Isfa
han, Iran, berdiri tahun 1611; Mesjid Sultan Ahmet (aka Mesjid Biru) di Istanbul, Turki, tahun 1616; Mesjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz di Selangor, Malaysia tahun 1982; Mesjid Faisal di Islamabad, Pakistan tahun 1986 (bantuan Arab Saudi lho, tsk, tsk, tsk); Mesjid Hassan II di Casablanca, Marokko tahun 1993 (lihat gambar); atau bahkan Mesjid Nabawi dan Masjidil Haram sendiri di Arab Saudi yang memang terus diperluas dan diper'megah' (should this person tell the Saudis to stop what they're doing?).Anyway, saya tidak akan berpolemik di masalah fiqh karena setiap orang entitled to his or her interpretation (and so am I) tapi kalau saya pikir setiap kali mesjid-mesjid megah dan indah dibangun di manapun, pasti selalu ada yang pro dan yang kontra, baik dari luar maupun dari dalam kalangan Muslim sendiri. And in this case I believe in giving this mosque a chance.
Setelah silaturahmi ke rumah keluarga besar, saya pun langsung bergerak menuju Mesjid 'Kubah Emas'. Selain Lukas, ikut juga tante saya dan 'asisten' setianya. Mungkin karena masih suasana Idul Fitri, jalananpun tidak seberapa macet seperti yang saya kuatirkan sebelumnya meskipun cukup berlubang-lubang membuat saya yang menyetir city car terasa seperti sedang off-road apalagi baru setengah jalan menuju ke tujuan, tiba-tiba hujan turun dengan sederas-derasnya.
Saat tiba di parkiran mesjid, hujan masih terus mengguyur. Karena sudah niat ingin mengejar sholat Ashr di dalam mesjid akhirnya kami berempat menerobos hujan dengan payung. Karena saya dan Lukas hanya kebagian satu payung, hasilnya, ya, basah kuyup juga karena angin kencang bertiup juga dari depan menyiram badan dengan air. Ternyata pintu masuk mesjid untuk pria letaknya di samping kiri dan kanan mesjid, sementara pintu masuk perempuan di belakang mesjid, paling dekat dengan parkiran. Setelah sempat berteduh sejenak di bangunan serbaguna (?) akhirnya kami berdua berhasil masuk ke dalam Mesjid 'Kubah Emas'.
Well, well, well. Mesjid ini boleh kelihatan megah dan mewah dari luar, namun ternyata interiornya menurut saya sangat 'sederhana'. Italian chandelier yang digembar-gemborkan memang cukup impresif
Di antara mesjid-mesjid berkubah emas yang ada di dunia, hanya tinggal mesjid serupa yang tertua yang belum pernah saya kunjungi (iyalah di Irak gitu loh, memangn
Kembali ke Mesjid Dian Al Mahri, kesederhanaan interior mesjid menurut saya justru bisa diartikan secara positif, karena ternyata siapa yang membangun mesjid ini cukup 'pandai', dalam arti mesjid dibuat megah dari luar supaya orang tertarik datang (iyalah, bahkan tidak sedikit pengunjung dari luar negeri yang jauh-jauh datang spesial untuk berkunjung ke mesjid ini), sementara interior dibuat sederhana supaya orang bisa khusyuk sholat (kalau malah terlalu indah, nanti malah terlalu sibuk bernarsis ria, dan bukannya sholat, betul nggak? :-)).
Ketika saya di sana, di dalam mesjid ternyata banyak juga anak-anak - sebagian di antara mereka kelihatann
Pengalaman saya di Mesjid Dian Al Mahri nevertheless cukup berkesan dan I surely recommend anyone to give someplace a chance before making your own conclusion. I sure wouldn't mind going back there again next time I have the chance - besides, gara-gara hujan gede, kesempatan berfoto ria dengan background kubah emas mesjid masih belum kesampaian ... Huh, dasar narsis!
No comments:
Post a Comment