Saturday, November 29, 2008

Bitchin' and Slappin' about VIY 2008

My country, right or wrong.
(Stephen Decatur)

OK, let me begin by asking a few questions. Do you know where Indonesia is? Some of you do? Fair enough. Do you know that 2008 has been designated as the Visit Indonesia Year? I see some locals raise their hands. Now, do you know any particular reasons why you should visit Indonesia during the Visit Indonesia Year? No? I rest my case.

Sometimes it doesn't take too many questions to find out whether something is destined to succeed or to fail. Visit Indonesia Year, unfortunately, is one of the latter. Right from the beginning it was a failure waiting to happen. Oke, coba bayangkan, launched only in December 2007, kalau memang pemerintah Indonesia mengerti mengenai marketing yang baik, tentu gaung mengenai Visit Indonesia Year atau VIY 2008 ini seharusnya sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan dari tahun 2006 kalau perlu untuk meningkatkan awareness.

Tapi justru satu hal yang paling saya ingat mengenai peluncuran VIY 2008 adalah blunder yang dilakukan pemerintah ketika mereka mendadak menyadari bahwa slogan kegiatan yang seharusnya menjadi kebanggaan 230 juta lebih penduduk Indonesia ini ternyata bahasa Inggrisnya keliru, yaitu "celebrating 100 years of nation's awakening" padahal seharusnya adalah "celebrating 100 years of national awakening". Memang sih bedanya hanya dua huruf, tapi ya tetap saja fatal dan embarassing, ketahuan bahwa sudah 62 tahun merdeka (tahun 2007 ya) tapi masih saja bahasa Inggris orang Indonesia belepotan. Hasilnya ya itu, belum apa-apa pemerintah harus mengeluarkan uang lagi untuk cetak ulang ribuan brosur yang sudah terlanjur dicetak, termasuk juga mengecat ulang badan pesawat Garuda yang sudah keburu memajang 'dengan bangganya' logo dengan slogan yang error ini (lihat gambar). Yang saya tidak mengerti sampai sekarang adalah kenapa sih slogan itu yang dipilih? Apa spesialnya mengenai national awakening Indonesia sehingga membuat wisatawan asing harus berkunjung ke sini? Wong seingat saya peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2008 berlalu begitu saja koq. Jangan-jangan, pemerintah kita cuma bisa mengekor saja salah satu negara tetangga yang pada tahun 2007 sukses menyelenggarakan tahun kunjungan wisatanya dengan menjual slogan 'celebrating 50 years of nationhood' (kalau saya berani-berani sebut nama negaranya nanti saya bisa 'dihujani' death threats - so typically Indonesian, heheh).

Sebenarnya Indonesia punya slogan pariwisata yang sangat bagus. Kalau Malaysia terkenal dengan "Truly Asia"-nya kemudian Thailand dengan "Amazing Thailand", dan Philippines dengan "Wow! Philippines", maka Indonesia punya "Ultimate in Diversity" yang menurut saya lebih pantas dibanggakan dan 'dijual' daripada "celebrating 100 years of national awakening". Ya, di Asia Tenggara, bahkan dunia sekalipun, Indonesia tidak ada tandingannya dalam hal diversity, baik dalam hal budayanya (over 200 ethnic groups!), alamnya (17,000 islands to choose from) maupun jenis atraksinya (World Heritage ancient temples, pristine rainforests, countless white sandy beaches, multicoloured volcanic lakes, surfing meccas, underwater wonders, vibrant nightlife, my goodness the list just goes on and on). Plus, if you love the food like me, then you would find a hard time trying to define what Indonesian cuisine really is because it's so diverse - and yet, it's all so damn yummy! On top of that, with our currency being very weak it means Indonesia is also one of the cheapest travel destinations you could find anywhere on earth!

OK, so what's the problem? Indonesia boleh saja bergonta-ganti presiden - sekarang sudah yang keempat dalam 10 tahun terakhir - tapi toh yang namanya corruption dan mismanagement masih terus 'dibudayakan'. Hal ini tentu berdampak pada anggaran promosi yang seharusnya justru digenjot untuk mensukseskan event besar seperti VIY 2008 ini. Terus terang saya suka miris dan iri kalau melihat tayangan iklan di TV yang mempromosikan pariwisata di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Iklannya begitu mempesona sehingga membuat saya berpikir saya saja yang sudah berulang kali mengunjungi negara-negara itu jadi tergoda berkunjung lagi, bagaimana dengan mereka yang belum? Sementara iklan VIY 2008 yang saya lihat di TV frekuensinya sangat jarang. And don't get me started on the Indonesian tourism ad on the cinema ... ya ampun, saya tidak bermaksud menghina tapi ya masa' kualitas gambarnya seburuk itu, membuat saya yang menonton ingin agar iklan itu cepat-cepat berlalu karena jijik (sic).

Kurangnya iklan promosi VIY 2008 juga 'didukung' oleh ketiadaan printed promotional material yang memadai. Saya ingat ketika berada di bandara internasional Ninoy Aquino di Manila, di setiap dinding kosong dipasangi foto ukuran raksasa dari tempat-tempat wisata di negara itu. Saya yang belum pernah mendengar sebagian dari tempat-tempat itu terus terang menjadi tertarik untuk berkunjung atau at least mencari tahu, hanya oleh karena hal sesimple itu. Mungkin ini perlu dicontoh di gerbang-gerbang masuk utama di Indonesia, seperti Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Ngurah Rai, Bandara Djuanda, Pelabuhan Batam Centre, dan lain sebagainya, karena toh saya yakin di tempat-tempat itu masih banyak dinding-dinding maupun space-space kosong lainnya yang 'dianggurkan' begitu saja ...

Di era informasi sekarang ini, satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah official tourism website. Indonesia nampaknya memang tidak ketinggalan untuk yang satu ini, tapi sayangnya alamat websitenya tidak begitu populer. Ya, karena saya perhatikan selama beberapa tahun pemerintah Indonesia nampaknya 'berkutat' sebelum akhirnya menemukan alamat website yang klop untuk merepresentasikan pariwisata Indonesia di www.my-indonesia.info. Secara pribadi agak aneh juga kenapa "my Indonesia" yang dipilih, seakan menegaskan bahwa Indonesia itu adalah milik "saya", bukan milik "kamu". Apa yang terjadi dengan nama "visit Indonesia", misalnya, nampaknya lagi-lagi pemerintah Indonesia kalah dengan net-squatter. Name choice aside, sayangnya website resmi pariwisata Indonesia itu kurang mendetail dan komprehensif, sehingga kesannya 'nanggung', dan saya rasa tidak akan banyak berdampak dalam mendongkrak minat warga asing untuk berkunjung ke Indonesia (coba bandingkan saja dengan www.visitkorea.or.kr - rasanya benar-benar tidak perlu beli guidebook).

Sebenarnya ini bukan kali pertama Indonesia menyelenggarakan event VIY. Saya masih ingat ketika di SMA (whoa, ketahuan nih sudah tidak muda lagi, hehe), rezim yang terdahulu menggelar Visit Indonesia Year 1991, lengkap dengan si 'Bacusa' alias Badak Cula Satu sebagai maskotnya dan slogan "let's go archipelago". Sampai sekarang saya masih ingat dengan event tersebut dan koq ya cukup sukses. Terbukti VIY 1991, berhasil mendongkrak kedatangan wisatawan asing ke Indonesia di tahun berikutnya sebanyak 20%! Terlepas dari 'dosa-dosa' rezim 'EMS', dalam hal pariwisata kita harus angkat topi karena dalam hal persiapan dan juga marketing, rezim terdahulu jauh lebih sigap. Sebagai contoh, VIY 1991 dicanangkan berdasarkan keppres tahun 1989, bukan dadakan karena mau mengekor kesuksesan negara tetangga ...

Lalu, apalagi masalahnya? Di dekade di mana dunia disibukkan dengan war on terror, keamanan tentu punya dampak yang cukup besar terhadap pariwisata sebuah negara. Pertanyaannya: apakah negara yang 'tidak aman' otomatis wisawatan enggan berkunjung ke sana? Membaca perkembangan dunia akhir-akhir ini, saya kembali harus mengurut dada. "Bandara dikepung, semua penerbangan lumpuh" - demikian headline salah satu koran nasional terbesar mengomentari para demonstran anti-pemerintah yang menduduki kedua bandara utama di Bangkok, yang notabene adalah gerbang utama negara Thailand. Ini sebenarnya adalah rentetan dari sekian banyak kejadian belakangan ini yang menimpa Land of Smiles itu akibat terjadinya gonjang-ganjing politik, termasuk perang dengan Kamboja, dan beberapa kali pengeboman, termasuk yang memakan korban wisatawan asing. Lantas, apakah kemudian wisatawan asing menghindari Thailand? Hoho, no way josé! Tourists will still flock to Thailand and the country will still receive more tourists than poor Indonesia. Kenapa? Ya itulah, pemerintah Thailand memang sudah serius dan committed sekali dengan pariwisatanya sehingga wisatawan asing sudah 'terhipnotis' oleh image Thailand yang begitu mempesona, tidak peduli negaranya sedang 'amburadul'. Coba bayangkan kalau bandara di Jakarta diduduki oleh demonstran - hampir dapat dipastikan negara-negara asing akan langsung meng-update website mereka dan langsung memberlakukan travel warning untuk seluruh wilayah Indonesia!

Satu lagi perbandingan yang cukup menarik saya bahas adalah India. Negara yang berulang kali menjadi lokasi persinggahan "The Amazing Race" ini (Indonesia: tidak pernah!), baru-baru ini dikejutkan oleh teror sekelompok bersenjata yang menyerang target-target strategis di kota terbesar Mumbai (termasuk dua hotel bintang lima!) , di mana dilaporkan warga negara asing dijadikan sasaran utamanya. Memang sangat memprihatinkan apa yang terjadi di sana, namun sebenarnya benih-benih untuk kejadian seperti itu sudah ada sejak beberapa tahun terakhir. Coba lihat, dari tahun 2006 hingga hari ini, total sudah lebih dari 900 (!) orang tak bersalah jadi korban terorisme di India. Bagaimana dengan Indonesia? Nol besar! Tapi, apa yang terjadi? Mari kita ambil contoh pemerintah Australia. Saat terdengar kabar Mumbai diserang, barulah mereka memasang travel warning tapi khusus untuk Mumbai. Barulah ketika insiden di Mumbai terungkap, mereka memasang travel warning untuk seluruh India. Bagaimana 'nasib' Indonesia? Well, pemerintah Australia justru menyambut VIY 2008 bukannya dengan mencabut travel warning mereka untuk Indonesia, namun malah 'meningkatkan'nya terutama sejak menjelang eksekusi Trio Bom Bali. Nyatanya, sampai detik ini, alhamdulillah, Indonesia masih aman-aman saja tuh ...

Kembali lagi ke VIY 2008. Memang dari judul tulisan saya ini bisa ditebak arahnya ke mana. Boleh dong sekali-kali saya menumpahkan uneg-uneg saya, apalagi ini juga masih ada hubungannya dengan traveling (besides, it's my blog I'm entitled to writing whatever I want in it, hehe :-D) Anyway, beberapa hari yang lalu, headline sebuah berita di koran nasional seolah menegaskan apa yang sebenarnya sudah dapat diprediksi "Depbudpar: Berat Capai Target Tujuh Juta Wisman". Ya, dengan jumlah wisatawan yang hanya mencapai 4,57 juta hingga September kemarin, bisa dipastikan target kedatangan tujuh juta wisatawan asing selama VIY 2008 bisa dipastikan akan meleset. Bahkan, jika jumlahnya mencapai lebih dari 6 juta orang saja sudah untung karena kuartal terakhir 2008 bisa dibilang berat mengingat dampak krisis ekonomi global yang membuat orang tidak punya uang untuk bepergian jauh (sadly, I'm one of the victims too :-<).

Alors, quoi faire?
Pariwisata memang sepatutnya menjadi andalan Indonesia karena memang tidak ada negara lain yang mempunyai atraksi wisata yang begitu diverse seperti Indonesia. Namun, sebelum kita mulai menggembar-gemborkan pariwisata Indonesia masih ada banyak hal yang perlu dibenahi. Pertama, ke dalam, yaitu perbaikan sarana dan prasarana pariwisata. Jalan-jalan menuju dan juga di dalam obyek pariwisata harus dalam keadaan baik (kecuali obyek wisata yang memang mengutamakan keaslian alam tentunya) untuk memperlancar akses. Begitu juga dengan ketersediaan transportasi. Kalau bisa, pastikan semuanya tersedia dalam fixed price, jangan sampai hal ini memberikan kesempatan untuk malah 'menggetok' wisatawan asing (siapapun tentu tidak suka ditipu). Kemudian juga sarana-sarana penunjang, seperti rumah makan, penginapan, dan tak kalah pentingnya adalah kamar mandi umum yang layak dan tidak jorok. Kebersihan juga penting karena banyak orang Indonesia yang masih terbiasa membuang sampah sembarangan (saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Indonesia menerapkan peraturan seperti di Seoul, Korea, yang nyaris meniadakan tempat sampah di tempat-tempat umum - wah, kejadian Bandung 'lautan sampah' bisa terjadi lagi!). Satu lagi yang tidak kalah pentingnya tentu saja adalah keamanan. Dalam hal ini pemerintah punya tanggung jawab yang besar dan berat guna memastikan agar tidak 'kecolongan' lagi.

Kalau hal pertama di atas sudah beres, tentu baru kita bisa memulai dengan hal yang kedua, yaitu ke luar, dalam arti menggiatkan promosi ke luar Indonesia. Hal ini tentunya harus didukung oleh anggaran promosi pariwisata yang cukup besar dan berkesinambungan. Buatlah printed promotional material sebanyak-banyak dan jangan ragu untuk menyebarkannya. Pasanglah iklan pariwisata Indonesia yang menarik dan tidak asal jadi, dan pastikan iklan-iklan tersebut mencapai target audience yang diinginkan melalui media yang tepat pula. Jangan sampai iklan pariwisata Indonesia malah dipasang di acara dokumenter mengenai Bom Bali - oh lala! Kemudian, rombaklah website pariwisata Indonesia - kalau perlu, cari alamat yang lebih mudah diingat (jangan sampai kalau orang meng-google yang muncul pertama malah justru website pariwisata yang unofficial) dan informasi pariwisata yang mendetail dan komprehensif, kalau perlu buat yang lebih hebat dari website pariwisata Korea yang saya sebut di atas (boleh dong berandai-andai).

Saya tidak setuju kalau kedua hal di atas berjalan bersamaan. Alasannya mudah saja karena wisatawan asing pasti akan kecewa jika sudah jauh-jauh datang ke Indonesia ternyata menemukan keadaan tidak seperti yang dijanjikan akibat ketidaksiapan saran dan prasarana. Bukan saja mereka tidak akan kembali ke sini, mereka juga kemungkinan besar akan memberitahu para kenalannya supaya menghindari Indonesia.

Dengan pembenahan yang serius ke dalam dan ke luar, pariwisata Indonesia tentu tidak akan lagi membutuhkan event khusus semacam VIY 2008 because every year will be a visit Indonesia year. Last but not least, cari juga slogan pariwisata Indonesia yang simple, catchy dan original (sekali lagi, buang jauh-jauh kebiasaan mengekor negara tetangga - Yogyakarta: Neverending Asia? WTF?) sehingga setiap kali mendengarnya wisatawan asing langsung tergoda dan setidaknya ingin tahu mengenai negara kita. Indonesia? Ya ya ya!

Friday, November 7, 2008

Karaoke karo koe*

Karaoke
/karrioki/
• noun a form of entertainment in which people sing popular songs over pre-recorded backing tracks.
— ORIGIN Japanese, ‘empty orchestra’.
(Compact Oxford English Dictionary)

Saya tidak pernah secara pasti mengetahui apa sebabnya tapi kalau diperhatikan belakangan ini karaoke bisa dibilang sudah menjadi fenomena global (iyalah, kalau tidak nggak mungkin dimasukkan di Oxford Dictionary), meskipun tetap saja Asia menjadi tempat yang paling populer. I have to admit, saya termasuk penggemar berat karaoke. I'm not gonna pretend that I'm the best singer ever walked on the face of the earth (although I think I can sing a few songs pretty well), but karaoke to me is just fun, fun, fun. It's a really nice way to spend a few hours and let your hair down in a good company of like-minded friends.

Mungkin salah satu penyebab karaoke di negara-negara Barat tidak sepopuler di Asia adalah karena konsep karaokenya sendirinya berbeda. Sering teman-teman saya dari negara-negara Barat yang saat berkunjung ke Indonesia saya ajak ke karaoke, mereka langsung jiper (duh, jadul sekali ya saya, hehe :P). Usut punya usut ternyata mereka pikir karaoke di sini sama dengan karaoke di negaranya, yaitu kita nyanyi di ruangan besar di hadapan begitu banyak orang yang tidak kita kenali (kalau begitu caranya, saya juga mungkin ikutan jiper). Ternyata setelah diperkenalkan dengan karaoke di private room, ternyata mereka gandrung (sic) sekali, bahkan ada yang sampai ketagihan!

Untungnya best friend saya, Aji, juga penggemar karaoke. Semenjak dia pindah ke Singapura beberapa tahun yang lalu, kami jarang bertemu muka, namun sekalinya bertemu, it's almost certain that a karaoke session will be on the menu. Salah satu 'rekor' karaoke saya juga 'dicetak' saat saya bersama Aji. Waktu itu saya sedang 'main' ke tempat Aji di Singapura, and of course a visit to the local karaoke joint was inevitable. Sayang sekali waktu itu tidak ada teman Aji yang bisa bergabung, tapi karena sudah diniatkan, ya kita jalan terus. Ternyata, meski hanya berdua, karaoke tetap bisa mengasyikkan, and without realizing it, we ended up being the last guests at that place, after more than three hours of bloody karaoke!

'Rekor' karaoke saya yang lain 'dicetak' bulan Agustus lalu saat saya dan 'segerombolan' teman dari Couchsurfing Jakarta menghabiskan malam Minggu di salah satu tempat karaoke di Jakarta (whose name I won't mention for a reason you'll soon find out) selama 5 jam! (lihat gambar - with special effect) Sayangnya, it also ended up being my most expensive karaoke session ever - lebih dari Rp1,7 juta! (termasuk makan dan minum sih, padahal sudah didiskon!) Untung jumlah tersebut masih dibagi di antara 15 orang, tapi ya tetap saja mahal ...

Bagi mereka yang masih awam mengenai karaoke scene di Jakarta, penting diingat dua jenis karaoke agar tidak malu-maluin karena salah pilih. Yang pertama adalah karaoke keluarga. Ini jenis yang 'aman' untuk seluruh anggota keluarga, dari balita hingga lansia (bayi jangan diajak ke karaoke, bisa budeg). Ciri-cirinya antara lain, selain namanya yang dengan jelas mengidentifikasikan diri sebagai karaoke keluarga, biasanya pintu setiap kamarnya memiliki 'jendela' kecil. Kenapa harus ber'jendela'? Nah, itu dia, karena 'jendela' tadi memudahkan orang dari luar untuk melihat what's going on inside. Sementara, jenis yang kedua, adalah karaoke 'non-keluarga', sangat mengutamakan privacy, sehingga jangankan pintu kamar, pintu masuk ke lobby saja juga dibuat setertutup mungkin, menutup akses orang luar melihat ke dalam. I don't wish to be judgmental since I've never been in one myself (honest!), tapi mendengar kisah-kisah orang yang sudah mengalaminya, bisa dipastikan tempat-tempat karaoke semacam itu meng'halal'kan praktek-praktek yang sifatnya tidak family-friendly (kebangetan kalau masih nggak ngerti maksud saya - mesum gitu bok!). Bahkan tidak jarang tempat karaoke semacam itu mengidentifikasikan dirinya sebagai 'Karaoke and Spa' (hmm, sambil dipijit, kita karaoke? Ugghhhh ... :-0)

Saya punya pengalaman unik saat saya berada di Korea. Menurut saya, bangsa Korea termasuk penggemar berat karaoke. Betapa tidak, saat saya berada dalam perjalanan di kereta api, saya terkejut ketika menemukan di gerbang restorasinya: not just one, but three karaoke booths! Rupanya strategi pemasaran Korea Rail cukup jitu - daripada penumpang bete di perjalanan lebih baik berkaraoke ria! Wah, coba saja cara itu ditiru di negeri tercinta ini ... Anyway, back to my experience. Waktu itu saya dan dua orang teman saya dari Kanada, sedang 'haus' hiburan malam di Seoul. Kami berada di distrik Hongdae yang cukup trendy dan dipenuhi oleh kaum muda Seoul karena letaknya yang dekat dengan salah satu universitas besar di sana. Saya pun mengusulkan untuk mencoba karaoke, dan diterima. Namun mencari tempat karaoke di Seoul tidak semudah kelihatannya. Kami sempat 'salah masuk' ke beberapa tempat karaoke 'non-keluarga' sebelum akhirnya menemukan satu tempat yang cukup terang dan uniknya beberapa kamar memiliki jendela besar yang menghadap keluar sehingga saya yakin bahwa itu adalah karaoke keluarga yang saya cari-cari. Saya pun masuk ke tempat tersebut dan disambut seorang pelayan laki-laki.

"Hello, is this a karaoke place?" tanya saya berbasa-basi.
"No, we don't have karaoke here," jawab si pelayan.
Glek. Saya heran, sudah jelas dari luar ini tempat karaoke, kok masih dibilang bukan. Ah, siapa tahu pelayannya tidak mengerti pertanyaan saya. Maklum saja, orang Korea banyak yang bahasa Inggris pas-pasan, makanya English schools di Korea bertaburan di mana-mana.
"Isn't this a karaoke place?" saya ulangi pertanyaan saya.
"No, no karaoke," jawab pelayan itu dengan pedenya.
"Are you sure there's no karaoke here?" tanya saya penasaran sambil menunjuk ruang-ruangan di mana jelas terdengar pengunjung yang sedang menyanyikan lagu-lagu Korea dengan segenap kemampuan mereka.
"No, no karaoke," jawab si pelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya.
Salah satu teman saya nimbrung dan bertanya:
"Can we drink alcohol here?"
"No karaoke, no alcohol," jawab si pelayan yang mungkin mulai kesal pada kami.

Jawaban terakhir si pelayan akhirnya membuat saya 'ngeh'. Di Korea, karaoke yang kita kenal di Indonesia, maupun sebagian besar negara lain di dunia, dikenal dengan nama 'noribang' atau singing room (kamar bernyanyi). Sementara bagi mereka, kalau kita menyebut karaoke maka konotasinya adalah karaoke 'non-keluarga' di mana pengunjung dapat minum alkohol sekaligus ber'asyik-masyuk'. Kenapa orang Korea memilih istilah karaoke yang aslinya dari bahasa Jepang itu untuk sesuatu yang berkonotasi yang negatif, saya tidak mau berpolemik, namun yang jelas jika Anda ke Korea dan ingin hiburan malam, jangan keliru antara singing room dan karaoke. Yang mana Anda pilih tentu itu terserah Anda ....

(* singing in the karaoke with you = Javanese language)

Saturday, October 18, 2008

Shop Till I Drop

A man would buy twice as much something he really needs,
A woman would buy half as much something she doesn't really need.

Joke di atas adalah salah satu favorit saya karena kalau dipikir-pikir selain lucu, sebenarnya apa yang dikatakan di situ memang tidak jauh dari kenyataannya. Kalau pernah ada studi mengenai berapa lama waktu yang dihabiskan perempuan dan laki-laki dalam berbelanja, I can sure bet that the difference would be significant. Perhaps it's true then that women are indeed born to shop.

Dalam hal gila belanja, saya kira orang Indonesia tidak ada duanya. Sudah jamak saya mendengar cerita bagaimana kalau turis Indonesia pergi ke luar negeri, pasti acara yang paling ditunggu-tunggu adalah kunjungan ke lokasi shopping, apalagi kalau barang-barangnya bisa ditawar - wah, bisa kalap! Baru-baru ini seorang teman yang sudah berencana traveling keliling suatu negara bersama saya tiba-tiba membatalkan ikut serta begitu kami baru sampai di ibukotanya. Ternyata ia keburu kesengsem dengan shopping opportunity di ibukota sehingga memutuskan bahwa lebih baik dia habiskan uangnya untuk shopping daripada untuk jalan-jalan. Alamak!

Mungkin tidak begitu banyak kaum laki-laki yang penggila belanja karena harus diakui dalam hal tawar menawar untuk mendapatkan harga barang semurah-murahnya, kaum perempuan memang lebih 'tega'. Saya sendiri sebenarnya juga tidak begitu suka belanja, I guess I'm a typical bloke who only shops when he really needs something, at least when I'm at home in Jakarta. However, being an Indonesian, terus terang kalau saya ke luar negeri, atau bahkan ke luar kota sekalipun, saya tidak suka pulang ke rumah dengan tangan hampa (well, I would feel guilty if I got nothing to give to the little ones at home). Selain itu saya juga mengoleksi beberapa pernak-pernik dari setiap tempat yang saya kunjungi, minimal fridge magnet dan maksimal T-shirt khas, both of which I think I've already got quite a collection right now. So, karena alasan itulah therefore I shop.

Saya tidak bisa mengunjungi lokasi shopping tanpa mengetahui apa yang mau dicari because this could be 'very dangerous' as you could easily spend hours there, and God knows how much money you'll end up spending. Pengalaman-pengalaman shopping saya mungkin tidak terlalu banyak, namun beberapa cukup berkesan. Di Eropa, jangan lewatkan belanja hari Minggu pagi di Fischmarkt di Hamburg, Jerman. Di sana bisa dilihat berbagai penjual mulai dari ikan, tanaman, buah-buahan, pasta, hingga souvenir khas Hamburg berupaya menarik pembeli dengan gaya khas mereka masing-masing yang terkadang sangat nyeleneh (pernah ada penjual tanaman yang memberikan satu pot tanamannya gratis ke seorang pembeli karena dia tidak mau menjual tanamannya itu ke pembeli yang lain yang menawar lebih murah - aneh ya?).

Pengalaman shopping saya yang paling extraordinaire semuanya terjadi di Asia. Bulan Mei lalu saya menghabiskan waktu lebih dari 48 jam (tidak berturut-turut sih) di atas kereta api untuk mencapai Kashgar di provinsi Xinjiang, which is the furthermost Chinese city from Beijing. Apa yang menarik saya ke sana? Well, selain beberapa monumen Islam seperti mesjid dan makam (kota ini adalah salah satu trading post terpenting di Jalur Sutra berabad-abad lalu dan penduduknya mayoritas dari suku Uyghur yang beragama Islam), the most famous attraction in Kashgar is actually the Yekshenba (Sunday) Bazaar (lihat gambar). Billed as the grand-daddy of all Central Asian markets, it attracts thousands and thousands of sellers and shoppers from all over the region, creating a spectacular explosion for the senses. Rows after rows of shops, selling pretty much anything's salable under the sun, from fresh vegetables to carpets, from ethnic skull caps to the latest in fashion, are what you can find in this place. If you do make it here, it's perhaps easy to get lost, but then again perhaps it's not a bad thing to do. For a big fan of the world's multiculturalism, being in a place where people from Uyghur, Kazakh, Kyrgyz, Uzbek, Tajik, Turkmen, Chinese, and God knows what other backgrounds, converge and interact around you, speaking interchangeably in their own unique native tongues, was simply a one-of-a-kind experience for me. I ended up spending 5 hours exploring the bazaar on foot - and you know what, it's only after I got back to my hotel I realized that I had actually missed the most famous part of the bazaar: the cattle market!

The award for the most 'hardcore' place for shopping in Asia, however, has to go to Seoul, Korea. Maksud saya 'hardcore' tentu bukan yang ada hubungannya dengan RUU APP yang menghebohkan itu, melainkan 'surga' bagi mereka yang memang tidak ada puas-puasnya berbelanja. Salah satu slogan pariwisata Korea adalah 'The Best Kept Secret of Asia' dan menurut saya ada benarnya juga, karena kebanyakan orang berwisata ke Asia Timur kalau tidak Cina, ya Jepang. Kalau mau belanja ya ke Hongkong. Di Seoul ternyata ada banyak lokasi shopping, dan yang membuat saya terheran-heran adalah ternyata banyak toko yang masih buka - di atas jam 12 malam! Mereka yang tidak bisa tidur sebelum memuaskan hasrat belanja, saya sarankan pergi ke Dongdaemun Market (lihat gambar). Terletak tidak jauh dari pusat kota Seoul, ini adalah pusat dari segala pusat perbelanjaan di Seoul. Betapa tidak, di lokasi ini konon (saya belum pernah menghitungnya sendiri, but I think the number's pretty close) berdiri tidak kurang dari 26 shopping malls! Ukuran shopping mall di sana juga tidak main-main. Ada yang berdiri 10 lantai dan isinya toko semua, dan ada juga bangunan yang hanya tiga lantai namun baru satu lantai saja sudah membuat kaki gempor karena meski sudah menyusuri deretan toko-toko sepanjang 300 meter, ujung mall masih belum kelihatan! Di luar itu masih banyak juga lapak-lapak yang terletak di pinggir jalan maupun di pedestrian underpass, menawarkan barang yang bahkan beberapa di antaranya untuk ukuran Indonesia harganya lumayan terjangkau. Yang membuat saya sampai merinding, bahkan sampai hari ini kalau mengingatnya, adalah kalau kita pergi ke tempat ini jam 12 malam, pasar ini justru sedang ramai-ramainya dengan puluhan ribu penjual dan pembeli! Jam buka shopping malls di Dongdaemun rata-rata memang incredible, bahkan ada yang dari jam 10 pagi hingga 5 pagi - wah shopping pun ternyata bisa mengalahkan clubbing!

Di dalam negeri, Indonesia, tempat favorit saya untuk shopping adalah di daerah Malioboro di Yogya. Menurut saya di sana barang-barangnya, harga-harganya dan suasana belanjanya di sana paling ideal. Ya, mungkin juga karena saya penggemar barang-barang etnis jadi kalau untuk belanja yang satu ini saya betah berlama-lama memilih-milih barang sampai ketemu yang sreg. Sebenarnya Pasar Sukawati di Bali juga menarik namun karena agak jarang ke Bali jadinya saya juga jarang belanja di sana.

Namun, di mana pun di Asia, hal yang paling challenging bagi saya adalah dalam hal tawar menawar. Ya, mungkin untuk yang satu ini I have to take my hat off to the ladies. Terus terang, jika menawar, saya masih ada rasa belas kasihan, jadi kalau harga berhenti di 2/3 harga awal saya pun sudah cukup puas, padahal saya tahu banyak penjual yang menaikkan harga empat kali lipat dari harga sebenarnya. Pernah di Yangshuo, Cina, saya mau membeli T-shirt. Ketika saya menanyakan harganya (dalam bahasa Inggris tentunya, dan di Cina, kalau Anda bertampang Asia dan bicara bahasa Inggris maka Anda akan diberikan harga bule yang lumayan 'fantastis') penjual menjawab "120 yuan" atau sekitar 160 ribu rupiah dengan kurs saat itu. Mendengar hal itu saya langsung keder dan mundur teratur. Namun si penjual itu ternyata masih berusaha menjual T-shirt itu kepada saya dan saat itu saya pikir "this is China, where all the cheap goods in Indonesia come from" jadi langsung saja saya sebut "15 yuan" (sekitar 19 ribu perak). Tentu si penjual menolak tawaran saya dan ketika saya tidak menaikkan tawaran dan mulai beranjak dari tokonya, tiba-tiba dia bilang "okay, okay". Wow, ternyata tidak hanya pembeli yang tega, penjual pun bisa cukup sadis memasang harga!

Urusan tawar-menawar memang bisa cukup bikin trauma, dan maka dari itu sekarang kalau berbelanja di Yogya, saya lebih suka belanja di Mirota. Memang harga lebih mahal, namun tidak terlalu jauh dari yang dijual di emperan Malioboro, itu pun kalau kita bisa menawar. Pernah saya menemukan di salah satu toko kerajinan di Malioboro, wayang kulit ukuran kecil dijual fixed price seharga 9 ribu perak saja sementara di emperan jangan harap barang sejenis dilepas di bawah 15 ribu.

I have to admit though that I don't think I'll ever stop shopping when traveling. I mean, it's in my blood. Even if in the end I get ripped off, then so be it, hitung-hitung bagi-bagi rejeki, and besides, I would never buy anything unless I really like it (meskipun belum tentu saya membutuhkannya). So, going back to the shopping joke, I think it needs another line for me as I fall under the category of those who would buy at double the price something that they don't necessarily need ...

Monday, October 13, 2008

One Day in October

Life's a beach and then you die.

I never really thought I would write something morbid in my blog. After all, before recently, the last death in the family I could actually care to remember was that of my paternal grandfather. I was still in the early level of primary school back then (I was so young I can't even remember exactly what level). And then one day in October 2007, my mum got a call from my elder brother who was in Bangkok at the time, and I remember after the call had ended, my mum was in tears. I knew right away that things were never gonna be the same again.

A year later here I am, just a few days short of a week after my brother had passed away peacefully in our home from cancer. Sometimes I find myself wondering if there was anything I could have done differently to make him still alive today. But then again, perhaps this what God had designed for him.

So why am I rambling about my brother in my travel blog, you wonder? Well, first of all, my brother was only 16 months older than I was. Growing up, I was practically his shadow, and he was my inspiration. Whatever he did, I just had to do the same. I remember one day he showed me a piece of banknote from a foreign country and the next day I started collecting banknotes from all over the world (his collection was still better). When he started French course in high school, I couldn't wait to do the same so I could also parler français (by the time I finally began, he had already mastered his fifth language). And when he went to Europe on his own, he traveled around there for a good few months. I could only follow suit a few years later, for a fraction of the duration of his trip. At last count he'd been to six out of the world's seven continents while I'm still working on my fifth one. Bottom line is, I have to admit, when it comes to travel nobody had inspired me more than my brother.

I could write a long chapter or two on the subject of my brother but I think for now I'm just gonna share a poem I wrote in the loving memory of my brother (mind you, it's in no way an obituary - hell, I didn't even know what that is!). I'm not much of a poet myself, but then again, I couldn't help it when I had such an inspiring brother like him. (And if you think I didn't know how to spell "bitch", well, obviously you know now that I could. I just think that life feels more precious when you start seeing it from a full-glass perspective, don't you think? ;-))


To The Beloved Departed

Yes brother, you know you weren't like the rest of us
When I was one step ahead of the other
You were already two steps ahead of me

You sure had a way with words
When I was still grappling with my imparfait
You could already tell that I was your xiongdi and not your zimei

Tell me about all those exotic places please
That you described to me with the sparkles in your eyes
That others could only dream about

How about those cute puffins in the Føroyar
And the ostrich you took for a ride in a Cape farm
Or when Cuzco's height almost took your breath away

Remember the time you tried the real Finnish sauna
I bet it was better than being stuck in the middle of the Outback
Or having to wait for hours at a US airport

Shanghai was a favorite place for you I know
And how much you loved to be one of those happy-go-lucky Brazilians
But you don't need to tell me it was Bangkok where you'd left your heart

Farewell brother
You're in a way better place now
An ultimate destination
That one day you'll describe to me
With the sparkles in your eyes
That others could only dream about

(dedicated to Oui, 1973-2008)

Friday, October 3, 2008

A Spiritual Journey

Fitnah lebih besar dosanya dari pembunuhan.
(QS Al Baqarah: 191)

Sebenarnya sudah lama saya mau menulis mengenai pengalaman yang satu ini, dan one thing led to another akhirnya baru sekarang saya sempat mewujudkannya. Pengalamannya sendiri terjadi pada hari Idul Fitri 1429 H yang baru lalu jadi berhubung sekarang masih dalam suasana halal bihalal jadi ya saya pikir masih cukup fresh juga saya share dengan orang lain.

If anyone ever asked whether I'm a religious person I don't think I would be able to honestly say yes to that question. However, that doesn't mean that I don't believe in God, as a matter of fact, I do, and that's one fundamental element I'm not willing to negotiate. I guess I'm more of a spiritual person than religious now. I don't really believe in rituals, I mean I still do some, but only if I believe in the reason why I'm doing it.

Hari Idul Fitri seperti tahun-tahun sebelumnya adalah hari untuk keluarga. Bedanya dengan tahun lalu, tahun ini I actually willingly wanted to stay in Jakarta to celebrate it with my family. Sebenarnya ada beberapa alasan: mulai dari alasan klise (urusan dana, what else?) sampai alasan keluarga (it was the first time my brother was actually in town for this occasion in a long time so why go away?). Besides, kebetulan saat itu ada teman saya Lukas dari Jerman yang sedang menginap (silakan membaca entry sebelumnya) jadi ya kesempatan juga untuk memperkenalkan dia ke tradisi khas Indonesia yang satu in (setahu saya tradisi maaf-maafan saat Idul Fitri hanya ada di negara-negara Asia Tenggara - well, mungkin Asia Selatan juga). Anyway, karena saya tidak sempat mengajak Lukas jalan-jalan keliling kota Jakarta seperti kebiasaan saya kalau ada teman asing yang menginap (duh, baik ya saya? hehe) jadi saya pikir kenapa tidak saya manfaatkan kesempatan baik ini untuk mengunjungi one of Jakarta's newest attractions, yang kebetulan juga klop kalau dikunjungi saat Idul Fitri.

Mesjid Dian Al Mahri memang secara administratif bukan bagian dari Jakarta, melainkan Depok karena letaknya yang di Desa Limo yang masuk ke dalam wilayah kota tetangga di selatan Jakarta itu. Namun karena akses utamanya melalui Jakarta, ya tidak ada salahnya kalau dimasukkan ke dalam daftar attractions kota Jakarta. Sengaja saya tidak mau pakai istilah obyek wisata, karena tempat ini kan fundamentally a functioning mosque jadi tujuan utamanya adalah tempat ibadah, baru mungkin setelah itu fungsi-fungsi lainnya, antara lain ya obyek wisata itu. Makanya saya sebut attraction karena toh noone can deny that it's an attractive place.

Exactly how attractive the mosque is, well, how about you try this: mesjid ini berdiri di atas tanah seluas 50 hektar dengan bangunan mesjid seluas 8000 meter persegi. Namun yang menjadikan mesjid ini buah bibir banyak orang, bahkan sebelum mesjid ini akhirnya dibuka untuk umum akhir tahun 2006 adalah kelima kubahnya yang konon dilapisi emas 24 karat setebal 2 sampai 3 milimeter dan mosaik kristal. Wow! Kekaguman saya belum berhenti dari situ karena bangunan mesjid ini konon juga berbahan baku marmer impor dari Italia, dan interior mesjid dilengkapi dengan Italian chandelier (what's up with that?) lebih dari 2 ton (saya mendapat informasi berbeda-beda mengenai beratnya - ada yang bilang 2,7 ton, 4 ton bahkan 8 ton, tapi yang jelas lebih dari 2 ton lah). Tidak heran, kalau mesjid Dian Al Mahri sekarang lebih populer dengan nama Mesjid 'Kubah Emas'.

Satu hal lain yang membuat mesjid ini menurut saya menarik adalah latar belakang mesjid ini yang didirikan oleh seorang pengusaha perempuan asal Banten, Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid. Terus terang siapa sebenarnya tokoh ini menurut saya agak terlalu misterius, karena untuk membangun mesjid ini memerlukan biaya yang tidak sedikit and she's not exactly Aburizal Bakrie gitu loh. Terlepas dari itu, saya sih salut atas usaha pendiri mesjid ini (whoever you are) karena kalau niatnya ibadah Insha' Allah akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda.

Berhubung saya belum pernah ke sana, seperti biasa I had to do my homework first, mengumpulkan informasi mengenai tempat yang akan dikunjungi, biasanya through browsing on the Internet. Saya temukan lumayan banyak informasi mengenai mesjid ini terutama pada blog orang-orang yang sudah pernah berkunjung. Namun rasa excitement saya berubah menjadi prihatin ketika di salah satu blog yang nampaknya cukup populer (dilihat dari jumlah orang yang berkomentar), mesjid megah yang seharusnya bisa dibanggakan itu ternyata malah 'dibantai'.

Pemicunya adalah peraturan mesjid yang tidak membolehkan anak di bawah usia 10 tahun masuk. Mereka yang pro berargumen anak-anak harus dilatih mencintai mesjid sedari kecil, sementara yang kontra berargumen mungkin saja peraturan dibuat agar ibadah bisa lebih khusyuk karena sifat anak-anak yang masih suka bermain. Ternyata dari hal yang menurut saya sepele itu malah melebar kepada kritik mengenai 'kemegahan' mesjid. Bahkan sampai menggunakan salah satu hadits Nabi yang intinya menyatakan membangun Mesjid Dian Al Mahri yang indah ini adalah salah satu tanda kiamat ... Astaghfirullah!

I actually spent time thinking about it and you know, kalau memang interpretasi orang tersebut benar, tentunya kiamat sudah dekat ketika Mesjid Imam di Isfahan, Iran, berdiri tahun 1611; Mesjid Sultan Ahmet (aka Mesjid Biru) di Istanbul, Turki, tahun 1616; Mesjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz di Selangor, Malaysia tahun 1982; Mesjid Faisal di Islamabad, Pakistan tahun 1986 (bantuan Arab Saudi lho, tsk, tsk, tsk); Mesjid Hassan II di Casablanca, Marokko tahun 1993 (lihat gambar); atau bahkan Mesjid Nabawi dan Masjidil Haram sendiri di Arab Saudi yang memang terus diperluas dan diper'megah' (should this person tell the Saudis to stop what they're doing?).

Anyway, saya tidak akan berpolemik di masalah fiqh karena setiap orang entitled to his or her interpretation (and so am I) tapi kalau saya pikir setiap kali mesjid-mesjid megah dan indah dibangun di manapun, pasti selalu ada yang pro dan yang kontra, baik dari luar maupun dari dalam kalangan Muslim sendiri. And in this case I believe in giving this mosque a chance.

Setelah silaturahmi ke rumah keluarga besar, saya pun langsung bergerak menuju Mesjid 'Kubah Emas'. Selain Lukas, ikut juga tante saya dan 'asisten' setianya. Mungkin karena masih suasana Idul Fitri, jalananpun tidak seberapa macet seperti yang saya kuatirkan sebelumnya meskipun cukup berlubang-lubang membuat saya yang menyetir city car terasa seperti sedang off-road apalagi baru setengah jalan menuju ke tujuan, tiba-tiba hujan turun dengan sederas-derasnya.

Saat tiba di parkiran mesjid, hujan masih terus mengguyur. Karena sudah niat ingin mengejar sholat Ashr di dalam mesjid akhirnya kami berempat menerobos hujan dengan payung. Karena saya dan Lukas hanya kebagian satu payung, hasilnya, ya, basah kuyup juga karena angin kencang bertiup juga dari depan menyiram badan dengan air. Ternyata pintu masuk mesjid untuk pria letaknya di samping kiri dan kanan mesjid, sementara pintu masuk perempuan di belakang mesjid, paling dekat dengan parkiran. Setelah sempat berteduh sejenak di bangunan serbaguna (?) akhirnya kami berdua berhasil masuk ke dalam Mesjid 'Kubah Emas'.

Well, well, well. Mesjid ini boleh kelihatan megah dan mewah dari luar, namun ternyata interiornya menurut saya sangat 'sederhana'. Italian chandelier yang digembar-gemborkan memang cukup impresif (but only for a minute at most), dan digantung di bawah kubah utamanya yang dihiasi lukisan kaligrafi dan trompe-l'oeil berupa gambar langit dengan awan yang konon bisa berubah warna sesuai mood of the day. Selain itu, ada mimbar yang kelihatannya mungkin juga terbuat dari emas. Tidak lupa saya dan Lukas menyempatkan diri mengambil foto kenang-kenangan di dalam mesjid meski dalam keadaan basah kuyup (lihat gambar).

Di antara mesjid-mesjid berkubah emas yang ada di dunia, hanya tinggal mesjid serupa yang tertua yang belum pernah saya kunjungi (iyalah di Irak gitu loh, memangnya mau bunuh diri?). Brunei yang kecil namun kaya raya punya dua mesjid berkubah emas, dan saya pernah sholat di Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddin, yang telah menjadi landmark negara Brunei. Saat saya sholat di sana, mesjid hampir ditutup (mesjid tutup pukul 10 malam), jadi tinggal saya sendiri dan penjaga mesjid. Mesjid ini ternyata memang tidak hanya indah dilihat dari luar (terutama malam hari) ternyata di dalamnya pun cukup menakjubkan (lihat gambar), membuat saya tidak tahan untuk memotret meskipun ada tanda 'dilarang ambil gambar'.

Kembali ke Mesjid Dian Al Mahri, kesederhanaan interior mesjid menurut saya justru bisa diartikan secara positif, karena ternyata siapa yang membangun mesjid ini cukup 'pandai', dalam arti mesjid dibuat megah dari luar supaya orang tertarik datang (iyalah, bahkan tidak sedikit pengunjung dari luar negeri yang jauh-jauh datang spesial untuk berkunjung ke mesjid ini), sementara interior dibuat sederhana supaya orang bisa khusyuk sholat (kalau malah terlalu indah, nanti malah terlalu sibuk bernarsis ria, dan bukannya sholat, betul nggak? :-)).

Ketika saya di sana, di dalam mesjid ternyata banyak juga anak-anak - sebagian di antara mereka kelihatannya berusia kurang dari 10 tahun. And what were they doing there? Well, pretty much what kids anywhere would do: kejar-kejaran, guling-gulingan, saling bercanda dengan anak seumuran, basically having fun lah (lihat gambar). Untung saja saat sholat saya tidak ditabrak anak yang sedang berlari-larian, meski agak risih juga ada anak kecil yang dengan santainya jalan-jalan di bagian mihrab sementara kami yang dewasa sedang sujud ke hadapannya. Well, you can bet your money on whose side I am after this! :-)

Pengalaman saya di Mesjid Dian Al Mahri nevertheless cukup berkesan dan I surely recommend anyone to give someplace a chance before making your own conclusion. I sure wouldn't mind going back there again next time I have the chance - besides, gara-gara hujan gede, kesempatan berfoto ria dengan background kubah emas mesjid masih belum kesampaian ... Huh, dasar narsis!

Monday, September 29, 2008

A Nighttime Daylight Robbery

The cruelest lies are often told in silence.
(Robert Louis Stevenson)

Di kelas bahasa Prancis terakhir sebelum libur Idul Fitri, instruktur mengajak diskusi mengenai hasil sebuah survey yang menanyakan "kebohongan apa yang paling dibenci oleh orang Prancis?". Di antara jawaban yang terkumpul ada "jika pasangan berbohong kepada Anda mengenai orang ketiga", "jika anak berbohong kepada Anda mengenai hasil sekolahnya", dan "jika Anda berbohong di tempat kerja demi keuntungan pribadi". Jawaban yang diberikan rekan-rekan saya di kelas bermacam-macam, malah akibat jawaban saya, instruktur menjuluki saya "kolot" (well, I'm not gonna tell you which lie ticks me off the most although I'm sure you can guess that already ;-)). Tapi, surprisingly, bukan salah satu jawaban yang sudah saya sebut di atas yang menduduki peringkat pertama. Kurang lebih 76% orang Prancis yang menjadi responden survey tersebut mengatakan bahwa kebohongan yang paling mereka benci adalah "jika dibohongi penjual mengenai kualitas barang yang dijual." Whoa, I really didn't see that coming!

Saya sempat nyeletuk bahwa mungkin mereka menyebut seperti itu karena orang Prancis belum pernah belanja di Asia atau di Timur Tengah. Iyalah, kalau tidak pintar-pintar memilih saat berbelanja di negara-negara ini, pasti bakalan kecewa karena ditipu pedagang. Pengalaman saya berikut ternyata tidak saja membuktikan hal tersebut, namun juga membuat saya berpikir mungkin ada benarnya jawaban sebagian besar orang Prancis pada survey kebohongan tersebut ...

Hari Senin, 29 September, seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, saya ingin mentraktir Lukas, couchsurfer dari Jerman yang tinggal di tempat saya, berhubung sebentar lagi dia akan pulang ke negaranya. Kebetulan saya ingat bahwa setiap hari Senin dan Rabu di bulan September, restoran Izzi Pizza memberikan diskon 75% yang menurut saya cukup fantastis! Memang restoran Izzi Pizza sering menawarkan diskon yang menurut saya cukup sayang untuk dilewatkan, dan saya pun sudah berulang kali memanfaatkannya, mulai dari diskon khusus pemegang kartu kredit Bank Mandiri, hingga yang sebelum ini diskon 50% khusus makanan.

Saya memilih restoran Izzi Pizza di Pondok Indah Plaza yang memang jaraknya terdekat dari rumah saya, dan kebetulan juga abang saya saat itu sedang dirawat di RSPI yang letaknya hanya berseberangan dari situ sehingga membuat lokasinya sangat convenient. Selain Lukas, Ibu juga saya ajak ke acara makan malam itu.

Setelah duduk, saya mengingatkan waiter bahwa saya mau memanfaatkan promosi diskon 75%. Saya diberitahu bahwa diskon hanya berlaku untuk makanan saja, dengan catatan satu makanan satu minuman, dan minimuan pembelian Rp200 ribu, yang langsung saya iyakan. Toh, saya pikir harga makanan yang setelah didiskon dengan minuman yang harga penuh totalnya masih akan tetap reasonable. Kami diberikan dua jenis menu, menu normal dan yang lainnya menurut waiter adalah harga-harga makanan yang telah didiskon (saya pikir baik juga pihak restoran membuatkan menu khusus sehingga pengunjung tidak perlu capek berhitung). Akhirnya kami memutuskan membeli dua jenis pizza dan satu sup untuk Ibu. Dengan harga promosi saya perkirakan, total bill yang nanti harus dibayar tidak lebih dari Rp120 ribu.

Setelah makan (dan foto-foto perpisahan), saya pun meminta bill. Betapa terkejutnya saya bahwa perhitungan saya tadi meleset jauh karena total bill yang harus dibayar ternyata sekitar Rp218 ribu! Ketika saya menanyakan hal tersebut ternyata dari dua yang saya pesan, hanya satu pizza yang didiskon 75%, begitupula sup yang Ibu saya pesan tidak didiskon karena alasannya makanan tersebut tidak tertera di menu diskon. Jelas, saya merasa tertipu karena ketika saya hendak memesan diberitahu bahwa 75% hanya berlaku untuk makanan - that's all - dan tidak ada penjelasan bahwa makanan yang didiskon hanya yang tertera di menu dengan harga yang didiskon.

Jelas saya merasa dongkol karena sudah dibohongi, tapi tant pis, pizza sudah keburu masuk perut. Setelah beradu argumen dengan manajer akhirnya dengan berat hati saya membayar bill. Mungkin jumlah yang saya bayar pada akhirnya memang tidak terlalu besar (saya pernah mentraktir orang makan malam Rp500 ribu untuk berdua - tapi mungkin beda because I was on a date, hehe :-)), tapi ya perasaan kecewa saya itu tentunya tidak dapat diukur dengan materi. Oh well, I guess in this case I have to give it to the French, it sucks to have been lied to - especially by your vendor!

Friday, September 12, 2008

One Soapie Affair

Language can be so tricky and slippery sometimes.

Sebenarnya saya relatif tidak begitu sering menemukan kendala bahasa saat bepergian. Menurut saya hari ini hampir di semua negara di dunia, one can get away speaking only English. Yah, mungkin ini juga dampak dari globalisasi budaya yang sangat sulit terhindari di mana film-film dan lagu-lagu berbahasa Inggris sudah jamak dijumpai bahkan hingga ke pelosok dunia sekalipun. Dari sekitar 33 negara saat ini yang sudah saya kunjungi mungkin Cina-lah negara di mana saya pernah mengalami kendala bahasa sehingga saya terpaksa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak akan pernah saya lakukan seandainya saja saya mengerti bahasanya ... (well, harus bersabar sedikit kalau ingin tahu ceritanya).

Berbicara tentang bahasa tentu tidak dipisahkan dari tulisannya. Sebagian besar negara di dunia menggunakan tulisan Latin dan ini jelas menguntungkan warga Indonesia seperti saya yang memang dibesarkan untuk membaca dan menulis dalam tulisan Latin. Untungnya juga, saya termasuk penggemar bermacam bahasa sehingga saya juga lumayan menguasai beberapa tulisan lainnya seperti Arab, Rusia dan sedikit Korea dan Jepang (hiragana dan katakana). Meski demikian, bisa membaca belum tentu mengerti artinya.

Tulisan Cina (kanji) menurut saya memang yang paling sulit dikuasai, karena jumlahnya yang begitu banyak, hingga ribuan. I think it's true that it takes a lifetime to master all the Chinese characters. Namun saya punya trik untuk mengakali masalah ini. Caranya ya dengan menghafal beberapa magic characters yaitu karakter-karakter tertentu yang terpenting saja (misalnya laki-laki, perempuan, keluar, masuk, besar, kecil, utara, barat, timur, selatan, dst). So far trik saya ini relatif berhasil membuat saya survive dua kali perjalanan di Cina!

Yang paling merepotkan tentunya jika saya benar-benar tidak mengerti tulisan di suatu negara dan orang di sana tidak pandai berbahasa Inggris. Hal ini pernah saya alami sewaktu berada di Thailand, sepuluh tahun lalu. Ya, perlu saya tegaskan kapan hal ini terjadi karena Thailand yang sekarang tentunya sudah lebih 'melek' wisatawan daripada sewaktu kejadian ini terjadi.

Saat itu saya sedang berada di Chiang Mai, kota terbesar kedua Thailand yang terletak di bagian utara. Jika saya backpacking, maka satu hal yang tidak pernah saya lupa adalah membawa toiletries bag. Isinya pun tidak bisa sembarang karena hanya benda-benda yang saya butuhkan saja yang bisa masuk ke dalamnya (sikat gigi, odol, sabun cuci muka, sabun cair untuk mandi, shampoo, deodoran) dan ukurannya pun harus semini mungkin. Kebetulan saat tiba di Chiang Mai sudah lewat beberapa minggu sejak saya berangkat dari Jakarta, jadi sabun cair saya pun habis sehingga harus membeli yang baru. Well, seharusnya urusan membeli sabun cair tentunya tidak sulit bukan?

Di supermarket yang terdekat dari guesthouse tempat saya menginap ternyata tidak punya sabun cair dari merek Biore yang biasa saya pakai. Akhirnya, karena dari sekian banyak sabun cair yang dijual, hanya merek Lux yang saya kenali, maka itupun yang saya beli. Sepintas tidak ada yang janggal dari kemasan sabun cair itu - memang semua tulisannya dalam bahasa Thai namun saya berpikir tidak mungkin dong saya pilih - namun saat pertama kali saya pakai, kok rasanya agak-agak lengket. Kedua, ketiga kali, ternyata tetap saja agak-agak lengket. Namun saya tidak terlalu curiga, siapa tahu sabun cair di Thailand rasanya agak beda dengan yang biasa saya beli di Indonesia. Yah, lain ladang lain belalanglah.

Sekembalinya dari Chiang Mai, saya melewatkan beberapa hari di Bangkok, tinggal di rumah teman saya yang asli Thailand. Suatu ketika saat saya sedang menonton televisi, muncullah iklan sabun cair Lux. Betapa terkejutnya saya ketika melihat bahwa ternyata iklan tersebut bukanlah iklan sabun cair, melainkan ... shampoo! Oalah, gara-gara tebak-tebak buah manggis selama ini ternyata saya mandi pakai shampoo! Pantas saja bukan terasa segar, badan malah terasa lengket ...

Saturday, September 6, 2008

The Craziest Trip I've Ever Done

Well, everybody's got one and mine goes like this ...

Di awal tahun 2000-an (persisnya saya lupa), saya berempat dengan teman saya (Lila, Fanny dan Jock yang asli Kanada) berangkat dari Jakarta dengan satu tujuan: menaklukkan puncak Gunung Gede.

Karena sesampainya di Cibodas sudah sore maka seusai mengurus permit pendakian, kami pun bermalam di Wisma PHPA (nama persisnya saya lupa) yang berbentuk segitiga, tidak jauh dari gerbang masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Besoknya sekitar pukul 5 pagi pendakian dimulai. Kami berjalan agak cepat (mungkin tidak terlalu cepat karena 'nyawa' belum sepenuhnya 'terkumpul') karena tujuannya adalah naik ke puncak Gunung Gede dan turun ke penginapan dalam hari yang sama. Ambisius memang, tapi kami cukup pede karena secara teori memang sangat doable mengingat Gunung Gede yang termasuk gunung yang paling user friendly dibanding Gunung Salak, misalnya. Saya sendiri terus terang hanya modal pede karena belum pernah mendaki gunung sebelumnya (Tangkuban Prahu nggak masuk hitungan karena pake mobil, hehehe).

Jalan yang terus menanjak memang menguras tenaga tapi mungkin setimpal dengan pengalaman menghirup udara yang bebas polusi dan juga satwa liar seperti monyet dan burung yang berkeliaran dengan leluasanya di sepanjang jalur pendakian. Setelah beberapa jam kami tiba di daerah sumber air panas, dan, wow, ternyata tempat ini cukup menguji nyali karena jalur yang kami lewati terpotong oleh air terjun air panas, yang mana setiap pendaki harus berjalan hati-hati sekali karena di satu sisi air panas mengalir di dinding tebing sementara di sisi yang lain jurang menganga lebar. Satu-satu yang bisa jadi pegangan adalah beberapa tiang besi yang nampaknya juga sudah cukup rickety.

Lepas sumber air panas kami melewati beberapa lokasi air terjun yang cukup menggoda iman untuk 'dijajal' namun kami bertekad untuk mencapai puncak Gunung Gede pada tengah hari. Memang kalau mendaki puncak gunung di Indonesia tidak boleh juga terlalu ngoyo dan harus terus 'eling lan waspodo' karena masih banyak makhluk-makhluk ghaib yang bisa bikin kita tersesat. Sempat juga saya, entah kenapa, seakan terdorong ke arah sebuah jalur di mana saya baru melihat ada sekelompok pendaki yang berjalan dari sana. Untung saja, seseorang tiba-tiba berteriak kepada saya: "Mas mau kemana!" sehingga tiba-tiba saya tersadar dan kembali ke 'jalur yang benar'. Coba kalau tidak ... hiiii.

Anyway, sekitar jam 11 akhirnya kami sampai di basecamp terakhir, namanya Kandang Badak (mungkin di sini dulu masih banyak binatang itu ya). Di tempat ini banyak sekali pendaki-pendaki yang memasang tenda. Kebanyakan anak-anak SMA pencinta alam. Fanny yang kelelahan akhirnya kami tinggal di tempat itu sementara kami bertiga meneruskan pendakian ke puncak.

Ternyata puncak Gunung Gede (lihat gambar) berbeda dengan Gunung Pangrango. Pangrango yang lebih tinggi dari Gede (3019 m dibanding 2958 m) puncaknya tertutup rimbun pepohonan sehingga tidak terlalu menarik minat pendaki dibanding Gunung Gede dengan kawahnya yang terbuka. Namun kawah terbuka juga berarti minim vegetasi, sehingga jalur pendakian terakhir terasa sangat berat akibat harus mendaki tanah dan pasir. Dan yang membuatnya semakin parah, tiba-tiba turun hujan ...

Wah, benar-benar saya tersiksa naik ke puncak Gede, seperti kebalikan kata-kata Paula Abdul di lagu "Opposites Attract" - one step forward, two steps back ... Parahnya, kami sangat minim perlengkapan. Tas ransel memang bawa tapi isinya tidak ada jas hujan (hanya air dan roti). Akhirnya sekitar jam setengah satu siang, kami berhasil 'menaklukkan' Gunung Gede. Namun karena sudah lelah (dan lapar) kami pun tidak tahan berlama-lama dan segera turun ke Kandang Badak dengan badan yang basah kuyup dan menggigil.

Di Kandang Badak kami bertemu dengan sekelompok pencinta alam yang kemudian membagi kami jatah mie instan mereka. Wow, belum pernah supermi terasa seenak ini. Lagi-lagi kesalahan kami karena minim persiapan, boro-boro kepikiran alat masak, mi instan pun tidak kepikiran untuk dibawa. Akhirnya kami pun menawari mereka untuk bermalam di penginapan kami setelah turun gunung.

Turun gunung ternyata tidak semudah apa yang dibayangkan. Tidak hanya karena jalan curam jadi kaki yang memang sudah capek harus bekerja ekstra untuk menahan berat badan agar tidak terguling, tapi kami juga mengejar waktu sebelum hari gelap (kebayang kan bagaimana gelap gulitanya di dalam hutan?). Saya tidak bisa membayangkan ketika salah satu anggota pecinta alam yang menolong kami itu tiba-tiba sandalnya copot sehingga dia harus telanjang kaki all the way down! Ouch!

Ternyata perhitungan kami meleset dan ketika hari mulai gelap kami masih belum keluar taman nasional. Sekali lagi, ternyata senter yang kami bawa lemot jadi tidak cukup kuat untuk menerangi jalur yang masih cukup challenging. Walhasil perjalanan menjadi semakin lambat karena harus berjalan ekstra hati-hati.

Akhirnya sekitar jam 8 malam, kami pun tiba dengan selamat di penginapan. Tanpa basa-basi kami berdelapan langsung rebah di tempat tidur - capek berat (boro-boro kepikiran mandi, airnya saja pasti dinginnya nggak keru-keruan). Esok harinya barulah saya fully realize efek dari pendakian gila kemarin - betis dan kaki saya langsung biru-biru dan rasanya nyeri sekali. Sekitar satu bulan rasa kemudian barulah rasa sakitnya hilang.

Weleh-weleh, never again!

Friday, September 5, 2008

How I Came to Realize that Luxembourg is Small Indeed

Sometimes big surprises can come in a small package.

Sebagian orang memilih negara yang dikunjungi karena negara itu punya pantai yang indah misalnya. Atau mungkin negara tersebut memiliki reputasi sebagai surga belanja, atau mungkin juga surga dugem. Itu sih sah-sah saja menurut saya. Bagi saya, negara-negara yang termasuk di urutan teratas daftar "Must-See Countries" saya justru adalah negara-negara mini atau disebut juga microstate. Semakin mungil ukuran suatu negara semakin tertarik bagi saya untuk mengunjunginya. Benua Eropa termasuk yang punya cukup banyak negara mini, bahkan 5 dari 10 negara terkecil di dunia terletak di benua biru ini.

Luxembourg bisa jadi negara mini yang terpenting di Eropa. Negara yang letaknya 'terjepit' di antara Prancis, Belgia dan Jerman ini saya bilang penting karena meski luasnya hanya 2.586,4 km persegi (kira-kira setengah luas pulau Bali) dan berpenduduk sekitar 480 ribu jiwa, Luxembourg ini merupakan salah satu negara pendiri Uni Eropa, dan bahkan visa bersama Eropa yang dikenal dengan Schengen ini mengadopsi nama salah satu desa di Luxembourg di mana kesepakatan visa bersama ini dibuat.

Alasan saya ke Luxembourg sebenarnya juga ingin mengunjungi seorang sahabat pena saya namanya Marie-Josée (sebut saja MJ). Saat itu tahun 1997 dan saya memberitahu MJ bahwa saya akan mampir ke Luxembourg dalam perjalanan saya backpacking keliling Eropa Barat. Namun selain ancar-ancar tanggal kunjungan saya yang saya berikan kepada MJ dan alamat MJ yang memang saya sudah punya (iyalah, dulu kan sahabat pena masih melalui pos bukan email seperti sekarang ini), saya lupa atau tidak sempat menanyakan nomor telpon MJ untuk mengatur cara bertemu. Ya sudah, untung-untungan saja saya pikir, kalau memang 'jodoh' pasti ketemu.

Akhirnya tibalah saya di Luxembourg sesuai rencana dengan kereta via Prancis. Karena sudah 'pasrah' kemungkinan tipis sekali ketemu MJ, maka saya tidak punya ekspektasi apapun di sana selain ya untuk sightseeing. Selagi enak-enaknya makan siang di restoran McDonald's (maklumlah turis 'tongpis'!) yang letaknya di tengah-tengah kota, tiba-tiba saya dihampiri seorang ibu-ibu. Saya tidak mengerti dia ngomong apa tapi betapa terkejutnya saya ketika saya lihat di tangannya ternyata ada foto saya! Ya, persis, itu foto diri yang saya kirimkan kepada MJ! Wow, ternyata ibu-ibu ini adalah ibunya MJ! Begitu saya bilang "yes, that's me!", ibu-ibu itu langsung memanggil anaknya, ya teman saya si MJ itu! Benar-benar pertemuan yang tidak disangka!

Kami pun ngobrol dan dari situ ketahuan bahwa si MJ dan Ibunya sebelum mampir ke McDonald's sempat ke airport dulu namun karena tidak ada tanda-tanda kedatangan saya akhirnya mereka ke pusat kota - ke tempat yang ternyata almost certain akan dikunjungi turis asing - ya restoran McDonald's itu! Wah, coba bayangkan kalau mau ketemu orang dengan cara seperti ini di Jakarta, apa ya nggak ke laut aja!

Akhirnya saya diajak MJ dan Ibunya jalan-jalan keliling kota Luxembourg yang meski mungil namun cukup cantik. Sebelum saya lanjut sore harinya dengan kereta api ke Belgia, saya pun dihadiahi sebuah kaus bertuliskan "Luxembourg". Wow!

Mad About Castles

Apa obsesimu?
(Star Mild)

Bingung juga sebenarnya bagaimana sebaiknya saya memulai travel blog dari sekian banyak ide cerita yang ada di kepala saya. Apakah saya mulai dengan yang cerita yang menyenangkan, atau bahkan dengan cerita yang menjengkelkan? Well, daripada bingung-bingung it's best if I just start writing the first thing that crosses my mind.

Dari 7 benua yang ada saat ini saya baru mengunjungi 4 di antaranya (Asia, Eropa, Australia dan Amerika Utara). Namun dari keempat benua tadi, I must say that Europe has always been my favourite (bukan karena tidak nasionalis ya). Memang sih, orang Eropa in general tidak seramah orang di Asia, dan harga-harga di sana ya jelas berkali-kali lipat harga di Asia. Tapi yang buat saya fascinated terhadap Eropa adalah karena dalam wilayah yang relatif kecil, kita bisa melintasi banyak negara dengan berbagai kebudayaan dan warisan sejarahnya yang kaya. Saya yang memang menggilai sejarah, punya satu hal favorit yang tidak pernah saya tinggalkan setiap kali saya berkunjung ke Eropa, yaitu: mengunjungi castle.

Castle atau château dalam bahasa Prancis bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai istana, puri atau kastil - nampaknya tergantung bentuk bangunannya. Apapun istilahnya, nampaknya saya tidak akan berhenti 'mengoleksi' castle. I don't know there's just something about castles that I just can't get enough of. Uniknya, castle pertama yang saya kunjungi seumur hidup bukanlah di Eropa, melainkan di Jepang, yaitu Osaka Castle. Saat itu usia saya masih 7 tahun, dan perjalanan ke Jepang waktu itu merupakan perjalanan pertama saya ke luar negeri.

Di Prancis yang gudangnya châteaux, tentunya saya tidak melewatkan mengunjungi Versailles. Ini adalah istana yang paling megah pada jamannya sehingga kerajaan-kerajaan lain di Eropa menjadi iri dan kemudian membuat tiruannya di negara masing-masing (sekarang bisa dilihat di Austria, Jerman hingga Rusia). Namun château yang paling berkesan menurut saya adalah saat saya melewatkan satu hari di Val de Loire, suatu kawasan di jantung negara Prancis yang memang sangat kaya akan bangunan-bangunan bersejarah semacam ini. Ada dua châteaux yang saya kunjungi saat itu. Château de Blois mempunyai arsitektur unik karena dibangun dalam masa pemerintahan raja Perancis yang berbeda-beda. Sementara Château d'Amboise (lihat gambar) punya sejarah unik, karena ternyata di sinilah Leonardo da Vinci melewatkan hari-hari terakhirnya bekerja untuk Raja Prancis (itulah sebabnya Mona Lisa sekarang ada di Museum Louvre di Paris, bukan di Italia, karena sewaktu dia pindah, lukisan itu termasuk yang dia boyong ke Prancis). Tidak jauh dari château itu kita bisa mengunjungi Clos-Lucé, rumah da Vinci, bahkan ranjang tempat dia menghembuskan nafas terakhir juga masih tetap utuh.

Namun rekor dalam per-castle-an bagi saya masih dipegang Denmark. Di negara Skandinavia terkecil itu tercatat saya 'melahap' tidak kurang dari tujuh castle - Frederiksborg, Fredensborg, Amalienborg, Rosenborg, Kronborg dan Egeskov (yang terakhir ini bukan punya keluarga raja, jadi mungkin itu sebabnya namanya tidak diakhiri dengan -borg - ini teori saya lho). Kastil Frederiskborg menurut saya adalah yang paling sesuai dengan bayangan saya mengenai how a castle should look like - seperti di dongeng (well, mungkin Neuschwanstein juga tapi masalahnya saya belum pernah ke sana). Kastil ini sekarang jadi Museum Sejarah Denmark jadi tiap ruangannya didesain khusus secara kronologis dari raja-raja pertama sampai dengan Ratu Margarethe II yang berkuasa saat ini. Supaya lebih faham cerita tiap-tiap ruangan, sebaiknya kita menyewa audioguide yang tersedia di pintu masuk. Di belakang kastil terdapat manicured garden yang cukup indah.

Kunjungan ke Istana Fredensborg sebenarnya tidak dalam rencana saya, namun kebetulan saat itu saya di Denmark akhir bulan Juli dan saya baca bahwa istana yang merupakan kediaman resmi putra mahkota Denmark Pangeran Frederik dan istrinya yang asli Australia Puteri Mary hanya dibuka untuk umum sampai dengan 31 Juli - ya sudah, saya pikir kenapa tidak dimanfaatkan selagi masih dibuka. Saya pergi dengan teman saya Tage yang asli Denmark. Beruntung juga karena berhubung sampai di sana sudah sore saya hanya kebagian tur dalam bahasa Denmark. Teman saya dengan berbaik hati menerjemahkan apa yang diterangkan guide di dalam istana sampai-sampai kami dipelototi karena ternyata dia merasa terganggu!

Kastil Egeskov (lihat gambar) terletak di pulau Fyn. Tidak terlalu mudah mencapainya dengan kendaraan umum karena letaknya sekitar 1.5 jam dari Odense, kota terbesar di pulau Fyn yang juga kota kelahiran pengarang Denmark legendaris Hans Christian Andersen itu. Kastil Egeskov memang sangat picturesque lengkap dengan danau kecil dan angsa-angsanya. Mungkin supaya pengunjung betah berlama-lama, Egeskov juga dilengkapi dengan berbagai museum, seperti museum mainan anak, museum mobil, museum sepeda motor hingga museum pesawat terbang!

Di beberapa castle, pengunjung diharuskan memakai alas kaki khusus yang telah disediakan supaya lantai tidak kotor. Di Denmark, hal ini berarti memakai kantung plastik seukuran sepatu kita dengan karet pengencang. Yang paling unik saya temukan adalah slipper ukuran raksasa yang diharuskan dipakai pengunjung Castle Sans Souci di Potsdam, Jerman. Memang lantai terjaga bersih, namun yang ada malah merepotkan orang berkaki kecil seperti saya (padahal nomor sepatu saya 43 lho!) yang terpaksa terseok-seok karena harus berjalan mengenakan slipper yang lumayan oversized dan berat itu, apalagi di dalam istana tersebut kita juga harus naik turun tangga. Alamak!

Welcome and Let the Journey Begin ...

A journey of a thousand miles begins with one small step.

First of all, apologies to those thinking that this blog might come entirely in English. The truth is I would love to but I've decided to write it in the language I know best: Bahasa Indonesia. If you don't happen to understand it, then no need to worry since experts said that Bahasa Indonesia is actually among the easiest languages to learn in the world ... :-)

Anyway, this is actually not my first attempt at writing a travel blog, instead it's more like my second (the first one you can actually still see it in the virtual world - IF you know where to look ;-)) Lalu, kenapa baru sekarang? Well, sebenarnya ada beberapa alasan. Pertama, sedari kecil saya memang pelahap buku-buku travelwriting. I grew up reading buku-buku perjalanan karya H.O.K. Tanzil yang sampai sekarang nampaknya tak tergoyahkan sebagai the best traveled person in Indonesia. Dari membaca karya-karya beliau saya pun terinspirasi untuk menjadi pelanglang dunia suatu hari, dan menuangkan pengalaman saya agar dapat di-share dengan orang lain. Sampai saat ini buku-buku travelwriting (di samping travel guides) mendominasi uku-buku koleksi saya. Saya sendiri heran karena saya tidak pernah tahan membaca novel-novel non-fiksi, betapapun terkenalnya mereka (that's why I was glad they decided to turn "Lord of the Rings" into films - sampai saat ini film itu masih jadi all-time favorit saya).

Kedua, saya memang dari kecil suka menulis. Sewaktu bekerja di majalah Tempo edisi Bahasa Inggris, atas inisiatif saya diciptakanlah kolom "Travel Spot". Selamat beberapa bulan pertama pertama sayalah yang menjadi reporter sekaligus editor kolom tersebut sebelum akhirnya 'diserahkan' kepada travelwriter profesional Bill Dalton (mungkin juga itu termasuk alasan saya mundur dari sana). Namun masalah terbesar saya semenjak itu adalah meskipun saya selalu memiliki niat untuk menulis pengalaman saya sekembalinya dari suatu perjalanan, namun hal itu nampaknya susah sekali terealisasikan, entah karena kesibukan pekerjaan (salah saya sendiri juga kembali dari perjalanan selalu mepet-mepet dengan waktu saya harus kembali ke pekerjaan), atau ya karena tidak ada motivasi alias MALAS. Sayang juga karena dari tahun ke tahun, semakin banyak tempat yang saya jelajahi berarti makin banyak pula bahan tulisan yang terkumpul.

Ketiga, hari ini saya mendapatkan pengalaman yang cukup eye-opening. Sebuah buku yang ditulis oleh sesama penggemar traveling mengilhami saya untuk segera menuangkan pengalaman saya ke dalam tulisan. Mungkin saya selama ini terpaku pada pakem penulisan macam diary à la idola saya H.O.K. Tanzil, sekarang saya akan mencoba 'membebaskan diri' dan menulis berdasarkan random subject saja tidak peduli apakah urut waktu atau tidak. Mungkin nanti hasilnya akan seperti tulisan-tulisan anecdotal à la Tim Cahill (bukan, bukan pemain bola), penulis antara lain "Wolverine is Eating My Leg", "Pass the Butterworm", dll, yang buku-bukunya juga saya koleksi. Anyway, pengalaman saya hari ini tersebut mengingatkan saya bahwa menulis itu tidak susah, dan kalau saya mau, saya pun bisa memulainya saat ini juga, and that's exactly what I'm doing.

Just to give you an idea, kebanyakan dari tulisan-tulisan saya ini didasari pengalaman-pengalaman saya traveling baik di Indonesia maupun luar negeri, kira-kira mulai tahun 1997 (sebelum itu saya juga sudah traveling tapi ya karena faktor "U", unfortunately banyak detail perjalanan saya sebelum itu yang saya sudah banyak lupa dan selain itu tentunya juga sudah tidak up-to-date lagi). Selain itu, saya juga akan memasukkan beberapa cerita yang memang bukan traveling per sé, tapi masih ada hubungannya lah. Besides, it's my blog so suka-suka gue lah, hehehe :-)

Anyway, sit back, relax and let the journey begin ...