/karrioki/
• noun a form of entertainment in which people sing popular songs over pre-recorded backing tracks.
— ORIGIN Japanese, ‘empty orchestra’.
(Compact Oxford English Dictionary)
Saya tidak pernah secara pasti mengetahui apa sebabnya tapi kalau diperhatikan belakangan ini karaoke bisa dibilang sudah menjadi fenomena global (iyalah, kalau tidak nggak mungkin dimasukkan di Oxford Dictionary), meskipun tetap saja Asia menjadi tempat yang paling populer. I have to admit, saya termasuk penggemar berat karaoke. I'm not gonna pretend that I'm the best singer ever walked on the face of the earth (although I think I can sing a few songs pretty well), but karaoke to me is just fun, fun, fun. It's a really nice way to spend a few hours and let your hair down in a good company of like-minded friends.
Mungkin salah satu penyebab karaoke di negara-negara Barat tidak sepopuler di Asia adalah karena konsep karaokenya sendirinya berbeda. Sering teman-teman saya dari negara-negara Barat yang saat berkunjung ke Indonesia saya ajak ke karaoke, mereka langsung jiper (duh, jadul sekali ya saya, hehe :P). Usut punya usut ternyata mereka pikir karaoke di sini sama dengan karaoke di negaranya, yaitu kita nyanyi di ruangan besar di hadapan begitu banyak orang yang tidak kita kenali (kalau begitu caranya, saya juga mungkin ikutan jiper). Ternyata setelah diperkenalkan dengan karaoke di private room, ternyata mereka gandrung (sic) sekali, bahkan ada yang sampai ketagihan!
Untungnya best friend saya, Aji, juga penggemar karaoke. Semenjak dia pindah ke Singapura beberapa tahun yang lalu, kami jarang bertemu muka, namun sekalinya bertemu, it's almost certain that a karaoke session will be on the menu. Salah satu 'rekor' karaoke saya juga 'dicetak' saat saya bersama Aji. Waktu itu saya sedang 'main' ke tempat Aji di Singapura, and of course a visit to the local karaoke joint was inevitable. Sayang sekali waktu itu tidak ada teman Aji yang bisa bergabung, tapi karena sudah diniatkan, ya kita jalan terus. Ternyata, meski hanya berdua, karaoke tetap bisa mengasyikkan, and without realizing it, we ended up being the last guests at that place, after more than three hours of bloody karaoke!
'Rekor' karaoke saya yang lain 'dicetak' bulan Agustus lalu saat saya dan 'segerombolan' teman dari Couchsurfing Jakarta
menghabiskan malam Minggu di salah satu tempat karaoke di Jakarta (whose name I won't mention for a reason you'll soon find out) selama 5 jam! (lihat gambar - with special effect) Sayangnya, it also ended up being my most expensive karaoke session ever - lebih dari Rp1,7 juta! (termasuk makan dan minum sih, padahal sudah didiskon!) Untung jumlah tersebut masih dibagi di antara 15 orang, tapi ya tetap saja mahal ...
Bagi mereka yang masih awam mengenai karaoke scene di Jakarta, penting diingat dua jenis karaoke agar tidak malu-maluin karena salah pilih. Yang pertama adalah karaoke keluarga. Ini jenis yang 'aman' untuk seluruh anggota keluarga, dari balita hingga lansia (bayi jangan diajak ke karaoke, bisa budeg). Ciri-cirinya antara lain, selain namanya yang dengan jelas mengidentifikasikan diri sebagai karaoke keluarga, biasanya pintu setiap kamarnya memiliki 'jendela' kecil. Kenapa harus ber'jendela'? Nah, itu dia, karena 'jendela' tadi memudahkan orang dari luar untuk melihat what's going on inside. Sementara, jenis yang kedua, adalah karaoke 'non-keluarga', sangat mengutamakan privacy, sehingga jangankan pintu kamar, pintu masuk ke lobby saja juga dibuat setertutup mungkin, menutup akses orang luar melihat ke dalam. I don't wish to be judgmental since I've never been in one myself (honest!), tapi mendengar kisah-kisah orang yang sudah mengalaminya, bisa dipastikan tempat-tempat karaoke semacam itu meng'halal'kan praktek-praktek yang sifatnya tidak family-friendly (kebangetan kalau masih nggak ngerti maksud saya - mesum gitu bok!). Bahkan tidak jarang tempat karaoke semacam itu mengidentifikasikan dirinya sebagai 'Karaoke and Spa' (hmm, sambil dipijit, kita karaoke? Ugghhhh ... :-0)
Saya punya pengalaman unik saat saya berada di Korea. Menurut saya, bangsa Korea termasuk penggemar berat karaoke. Betapa tidak, saat saya berada dalam perjalanan di kereta api, saya terkejut ketika menemukan di gerbang restorasinya: not just one, but three karaoke booths! Rupanya strategi pemasaran Korea Rail cukup jitu - daripada penumpang bete di perjalanan lebih baik berkaraoke ria! Wah, coba saja cara itu ditiru di negeri tercinta ini ... Anyway, back to my experience. Waktu itu saya dan dua orang teman saya dari Kanada, sedang 'haus' hiburan malam di Seoul. Kami berada di distrik Hongdae yang cukup trendy dan dipenuhi oleh kaum muda Seoul karena letaknya yang dekat dengan salah satu universitas besar di sana. Saya pun mengusulkan untuk mencoba karaoke, dan diterima. Namun mencari tempat karaoke di Seoul tidak semudah kelihatannya. Kami sempat 'salah masuk' ke beberapa tempat karaoke 'non-keluarga' sebelum akhirnya menemukan satu tempat yang cukup terang dan uniknya beberapa kamar memiliki jendela besar yang menghadap keluar sehingga saya yakin bahwa itu adalah karaoke keluarga yang saya cari-cari. Saya pun masuk ke tempat tersebut dan disambut seorang pelayan laki-laki.
"Hello, is this a karaoke place?" tanya saya berbasa-basi.
"No, we don't have karaoke here," jawab si pelayan.
Glek. Saya heran, sudah jelas dari luar ini tempat karaoke, kok masih dibilang bukan. Ah, siapa tahu pelayannya tidak mengerti pertanyaan saya. Maklum saja, orang Korea banyak yang bahasa Inggris pas-pasan, makanya English schools di Korea bertaburan di mana-mana.
"Isn't this a karaoke place?" saya ulangi pertanyaan saya.
"No, no karaoke," jawab pelayan itu dengan pedenya.
"Are you sure there's no karaoke here?" tanya saya penasaran sambil menunjuk ruang-ruangan di mana jelas terdengar pengunjung yang sedang menyanyikan lagu-lagu Korea dengan segenap kemampuan mereka.
"No, no karaoke," jawab si pelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya.
Salah satu teman saya nimbrung dan bertanya:
"Can we drink alcohol here?"
"No karaoke, no alcohol," jawab si pelayan yang mungkin mulai kesal pada kami.
Jawaban terakhir si pelayan akhirnya membuat saya 'ngeh'. Di Korea, karaoke yang kita kenal di Indonesia, maupun sebagian besar negara lain di dunia, dikenal dengan nama 'noribang' atau singing room (kamar bernyanyi). Sementara bagi mereka, kalau kita menyebut karaoke maka konotasinya adalah karaoke 'non-keluarga' di mana pengunjung dapat minum alkohol sekaligus ber'asyik-masyuk'. Kenapa orang Korea memilih istilah karaoke yang aslinya dari bahasa Jepang itu untuk sesuatu yang berkonotasi yang negatif, saya tidak mau berpolemik, namun yang jelas jika Anda ke Korea dan ingin hiburan malam, jangan keliru antara singing room dan karaoke. Yang mana Anda pilih tentu itu terserah Anda ....
(* singing in the karaoke with you = Javanese language)
Mungkin salah satu penyebab karaoke di negara-negara Barat tidak sepopuler di Asia adalah karena konsep karaokenya sendirinya berbeda. Sering teman-teman saya dari negara-negara Barat yang saat berkunjung ke Indonesia saya ajak ke karaoke, mereka langsung jiper (duh, jadul sekali ya saya, hehe :P). Usut punya usut ternyata mereka pikir karaoke di sini sama dengan karaoke di negaranya, yaitu kita nyanyi di ruangan besar di hadapan begitu banyak orang yang tidak kita kenali (kalau begitu caranya, saya juga mungkin ikutan jiper). Ternyata setelah diperkenalkan dengan karaoke di private room, ternyata mereka gandrung (sic) sekali, bahkan ada yang sampai ketagihan!
Untungnya best friend saya, Aji, juga penggemar karaoke. Semenjak dia pindah ke Singapura beberapa tahun yang lalu, kami jarang bertemu muka, namun sekalinya bertemu, it's almost certain that a karaoke session will be on the menu. Salah satu 'rekor' karaoke saya juga 'dicetak' saat saya bersama Aji. Waktu itu saya sedang 'main' ke tempat Aji di Singapura, and of course a visit to the local karaoke joint was inevitable. Sayang sekali waktu itu tidak ada teman Aji yang bisa bergabung, tapi karena sudah diniatkan, ya kita jalan terus. Ternyata, meski hanya berdua, karaoke tetap bisa mengasyikkan, and without realizing it, we ended up being the last guests at that place, after more than three hours of bloody karaoke!
'Rekor' karaoke saya yang lain 'dicetak' bulan Agustus lalu saat saya dan 'segerombolan' teman dari Couchsurfing Jakarta
Bagi mereka yang masih awam mengenai karaoke scene di Jakarta, penting diingat dua jenis karaoke agar tidak malu-maluin karena salah pilih. Yang pertama adalah karaoke keluarga. Ini jenis yang 'aman' untuk seluruh anggota keluarga, dari balita hingga lansia (bayi jangan diajak ke karaoke, bisa budeg). Ciri-cirinya antara lain, selain namanya yang dengan jelas mengidentifikasikan diri sebagai karaoke keluarga, biasanya pintu setiap kamarnya memiliki 'jendela' kecil. Kenapa harus ber'jendela'? Nah, itu dia, karena 'jendela' tadi memudahkan orang dari luar untuk melihat what's going on inside. Sementara, jenis yang kedua, adalah karaoke 'non-keluarga', sangat mengutamakan privacy, sehingga jangankan pintu kamar, pintu masuk ke lobby saja juga dibuat setertutup mungkin, menutup akses orang luar melihat ke dalam. I don't wish to be judgmental since I've never been in one myself (honest!), tapi mendengar kisah-kisah orang yang sudah mengalaminya, bisa dipastikan tempat-tempat karaoke semacam itu meng'halal'kan praktek-praktek yang sifatnya tidak family-friendly (kebangetan kalau masih nggak ngerti maksud saya - mesum gitu bok!). Bahkan tidak jarang tempat karaoke semacam itu mengidentifikasikan dirinya sebagai 'Karaoke and Spa' (hmm, sambil dipijit, kita karaoke? Ugghhhh ... :-0)
Saya punya pengalaman unik saat saya berada di Korea. Menurut saya, bangsa Korea termasuk penggemar berat karaoke. Betapa tidak, saat saya berada dalam perjalanan di kereta api, saya terkejut ketika menemukan di gerbang restorasinya: not just one, but three karaoke booths! Rupanya strategi pemasaran Korea Rail cukup jitu - daripada penumpang bete di perjalanan lebih baik berkaraoke ria! Wah, coba saja cara itu ditiru di negeri tercinta ini ... Anyway, back to my experience. Waktu itu saya dan dua orang teman saya dari Kanada, sedang 'haus' hiburan malam di Seoul. Kami berada di distrik Hongdae yang cukup trendy dan dipenuhi oleh kaum muda Seoul karena letaknya yang dekat dengan salah satu universitas besar di sana. Saya pun mengusulkan untuk mencoba karaoke, dan diterima. Namun mencari tempat karaoke di Seoul tidak semudah kelihatannya. Kami sempat 'salah masuk' ke beberapa tempat karaoke 'non-keluarga' sebelum akhirnya menemukan satu tempat yang cukup terang dan uniknya beberapa kamar memiliki jendela besar yang menghadap keluar sehingga saya yakin bahwa itu adalah karaoke keluarga yang saya cari-cari. Saya pun masuk ke tempat tersebut dan disambut seorang pelayan laki-laki.
"Hello, is this a karaoke place?" tanya saya berbasa-basi.
"No, we don't have karaoke here," jawab si pelayan.
Glek. Saya heran, sudah jelas dari luar ini tempat karaoke, kok masih dibilang bukan. Ah, siapa tahu pelayannya tidak mengerti pertanyaan saya. Maklum saja, orang Korea banyak yang bahasa Inggris pas-pasan, makanya English schools di Korea bertaburan di mana-mana.
"Isn't this a karaoke place?" saya ulangi pertanyaan saya.
"No, no karaoke," jawab pelayan itu dengan pedenya.
"Are you sure there's no karaoke here?" tanya saya penasaran sambil menunjuk ruang-ruangan di mana jelas terdengar pengunjung yang sedang menyanyikan lagu-lagu Korea dengan segenap kemampuan mereka.
"No, no karaoke," jawab si pelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya.
Salah satu teman saya nimbrung dan bertanya:
"Can we drink alcohol here?"
"No karaoke, no alcohol," jawab si pelayan yang mungkin mulai kesal pada kami.
Jawaban terakhir si pelayan akhirnya membuat saya 'ngeh'. Di Korea, karaoke yang kita kenal di Indonesia, maupun sebagian besar negara lain di dunia, dikenal dengan nama 'noribang' atau singing room (kamar bernyanyi). Sementara bagi mereka, kalau kita menyebut karaoke maka konotasinya adalah karaoke 'non-keluarga' di mana pengunjung dapat minum alkohol sekaligus ber'asyik-masyuk'. Kenapa orang Korea memilih istilah karaoke yang aslinya dari bahasa Jepang itu untuk sesuatu yang berkonotasi yang negatif, saya tidak mau berpolemik, namun yang jelas jika Anda ke Korea dan ingin hiburan malam, jangan keliru antara singing room dan karaoke. Yang mana Anda pilih tentu itu terserah Anda ....
(* singing in the karaoke with you = Javanese language)
No comments:
Post a Comment