Saturday, March 28, 2009

Monkey Business in Sarawak

Monkey see, monkey do.

Bulan Desember 2008, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi wilayah di Malaysia yang sudah lama saya ingin kunjungi namun tidak pernah kesampaian, yaitu Sarawak, dengan ibukotanya Kuching. Saat itu saya juga merasakan pertama kalinya melintasi perbatasan Indonesia melalui jalan darat. Pengalaman saya saat itu sangat menarik sehingga lebih baik kalau saya simpan untuk entry yang berbeda.

Sarawak merupakan surga bagi para traveler yang mencintai obyek wisata alam. Di dekat Kuching saja tercatat setidaknya ada tiga taman nasional yang mudah dicapai, ditambah lagi dengan satu pusat rehabilitasi orangutan yang memang cukup menjadi andalan wisata setempat. Memang ironis sebagai warga negara Indonesia yang memiliki banyak lokasi habitat orangutan, pengalaman saya melihat orangutan di alam liar justru terjadi di negara tetangga, tapi yah apa boleh buat.

Pusat Rehabilitasi Orangutan Semenggoh letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Kuching yang memang tidak terlalu besar itu. Semenggoh dibuka untuk umum pada pagi (08:30-12:30) dan siang hari (14:00-16:00). Tersedia bus umum yang langsung menuju ke pintu gerbang Semenggoh yang waktunya disesuaikan dengan feeding time orangutan pada pagi dan siang harinya.

Dari pintu gerbang, masih sekitar 20 menit jalan kaki hingga ke pintu masuk Semenggoh. Kalau dengan kendaraan sendiri tentu bisa dengan leluasanya langsung ke parkiran di samping pintu masuk, namun kalau pengunjung menggunakan bus seperti saya ya mau nggak mau ya jalan kaki, which is actually not too bad karena pemandangan sepanjang perjalanan dengan pohon-pohonnya yang tinggi cukup membuat perasaan saya jadi adem ayem.

Di papan pengumuman di pintu masuk dituliskan jumlah orangutan yang menjadi 'warga ' Semenggoh (sekitar 25), berikut nama-nama mereka yang sebagian berbau Melayu (Bujang, Laila, Annuar, Delima, Minah) dan sebagian lagi berbau Barat (George, Edwin, Murray, Ritchie, Rose). Selain itu juga dicantumkan usia mereka masing-masing. Saya tidak berapa lama lifespan seekor orangutan, namun yang ada di Semenggoh rata-rata berasal dari dekade 80-an.

My first encounter with orangutans at Semenggoh terjadi begitu saya menyeberangi jembatan masuk ke dalam area pusat rehabilitasi. It's not really hard to guess what was up when so many fellow visitors were looking up at the trees above and there they were, some young orangutans monkeying around the tree branches obviously showing off to the snap-happy humans below. Dalam hati saya berharap bahwa saat feeding time akan lebih banyak lagi orangutan yang muncul untuk diabadikan.

Feeding time sore hari berlangsung dari jam 15:00 hingga 15:30. Lokasinya dicapai melalui jalan setapak ke arah kiri sebelum jembatan masuk ke dalam area pusat rehabilitasi. Begitu jalan setapak dibuka saya termasuk orang pertama yang masuk karena tidak ingin kehilangan good spot untuk mengambil foto orangutan. Designated area untuk para pengunjung dibuat semacam undak-undakan untuk tempat duduk dan jaraknya sekitar 10 meter lebih dari feeding platform. Saya sendiri memilih berdiri tepat di samping pembatas designated area yang berhadapan langsung dengan platform, just to be sure I've got the best spot in the house - so to speak. Nampak seorang ranger sudah bersiap di atas platform dengan setandan buah pisang dan kemudian mulai memanggil orangutan untuk datang makan.

Tidak lama, dari kerimbunan pohon menyeruak seekor orangutan betina dengan menggendong anaknya datang ke platform. Dengan lahapnya dia pun menyantap buah pisang yang disediakan. Sementara dua orang ranger sekarang sibuk memanggil orangutan yang lain. Sepuluh menit berlalu, dan orangutan betina dan anaknya masih tetap menjadi 'bintang' tunggal feeding time saat itu, sementara para ranger nampaknya mulai pasrah bahwa kali ini buah yang mereka sediakan tidak akan di'taksir' orangutan yang lain. Lima menit kemudian sebagian besar pengunjung mulai meninggalkan designated area sementara saya masih terus bertahan dan berharap-harap akan adanya last minute surprise.

Namun pada kenyataannya memang tidak ada lagi orangutan yang muncul pada siang hari itu. Belakangan saya ketahui bahwa bulan Desember memang musim hujan di Sarawak dan pada saat itu biasanya banyak buah yang tumbuh di hutan sehingga para orangutan lebih suka mencari sendiri buah segar untuk dimakan di hutan, kecuali ya kalau memang they're too weak to do that seperti orangutan betina dan anaknya. Dalam hati memang saya agak kecewa karena apa yang saya lihat tidak sebanding dengan 'pengorbanan'nya, tapi saya pikir kalau mau melihat orangutan in the wild ya harus toleransi dengan sifat alamiah si orangutan, kalau nggak ya silakan ke Ragunan atau Taman Safari saja.

Perjumpaan saya berikutnya dengan primata setempat di Kuching jauh lebih berkesan. Taman Nasional Bako merupakan taman nasional tertua di Sarawak. Taman Nasional ini letaknya di ujung semenanjung Muara Tebas. Untuk mencapainya juga memerlukan 'perjuangan' yang tidak sembarangan karena tidak ada jalan darat yang menghubungkannya dengan Kuching. Pertama dengan bus umum selama 45 menit ke Visitors Centre, dilanjutkan dengan perahu bermotor selama 30 menit menyusuri sungai Bako yang konon masih dihuni buaya ...

Muara sungai Bako ini juga unik karena jika air sedang surut maka semua perahu bermotor harus 'puasa' dulu karena sungai dipenuhi lumpur yang bisa membuat baling-baling motor terjebak. Walhasil saat saya berada di sana, saya pun harus bersabar menunggu 2.5 jam sebelum akhirnya beruntung bisa naik perahu yang berangkat paling pertama.

When it comes to wildlife, Taman Nasional Bako punya satu satwa 'primadona' yaitu proboscis monkey alias bekantan (inget dong sama di Dufan, maskotnya Dunia Fantasi?). Berlainan dengan orangutan, bekantan ini konon sangat elusive dan pemalu jadi beruntunglah sekiranya bisa bertemu face-to-face dengan si bekantan ini. Karena waktu saya terbatas saya pun memilih yang terpendek dari beberapa trail yang ada di taman nasional ini.

Menurut brosur yang saya pegang, Telok Paku dapat dicapai dalam waktu 1 jam dari kantor taman nasional. Dilihat dari trail yang memang dibuat dengan rapi, kiranya perlu diacungi jempol bagaimana Malaysia mempersiapkan negaranya untuk para pelancong. Sepanjang perjalanan saya hanya ingat satu pesan: "walk slowly and silently, keep as quit as possible and listen out for sound and movements in the forest" kalau seandainya saya ingin melihat bekantan, and after what happened in Semenggoh I was determined not to return to Kuching without seeing at least one proboscis monkey in the wild. Lima belas menit berlalu ketika saya mendengar suara batang daun patah dekat dari saya. Kamera pun saya keluarkan dari sarungnya dan perlahan namun pasti bergerak ke arah suara tersebut berasal.

Saat saya menuruni jalan setapak yang agak curam, tiba-tiba seekor bekantan melompat ke arah batang pohon tepat di hadapan saya! Wow! Saya pun berhenti tertegun, terpesona. Bekantan jantan muda itu dengan cueknya melanjutkan memanjat pohon sementara saya masih berusaha 'mencerna' keindahan yang baru saja saya saksikan. By the time I got my camera ready the monkey was already too high on the forest canopy for me to get a decent shot, but one thing for sure my first encounter with a wild proboscis monkey will be etched on my mind for a long time!

Ternyata pertemuan saya dengan bekantan di Telok Paku bukanlah untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Saat berjalan kembali menuju kantor taman nasional, beberapa turis yang berpapasan dengan saya nampak menunjuk-nunjuk ke arah bukit di balik saya. Saya pun menoleh dan ... wow! Kembali saya 'ditakjubkan' oleh sekelompok bekantan muda yang sedang sibuk bermain dengan riangnya berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya. Simply amazing!

Karena masih banyak waktu yang tersisa, saya pun memutuskan untuk mencoba satu trail lagi yang konon banyak dijumpai bekantan. Telok Delima letaknya tidak seberapa jauh dari kantor taman nasional, dan medannya pun tidak seberat Telok Paku. Namun saya agak-agak kecewa karena sepanjang perjalanan tidak menjumpai seekorpun bekantan, namun saya menemukan satu air terjun yang berwarna merah karena tingkat keasamannya yang begitu tinggi akibat letaknya di tengah-tengah hutan bakau (by the way, that's how Bako National Park got its name) yang banyak nyamuknya itu (untung saja nggak kena malaria).

Saat berjalan di atas jalan stapak dari papan kayu, tiba-tiba kembali saya mendengar suara yang familiar: suara daun patah! Langsung saja saya menoleh ke arah pohon palem yang berjejer di kiri saya, dan benar saja, nampak dua ekor bekantan dewasa! Tanpa memedulikan saya, mereka pun asyik memanjat naik dan turun pohon-pohon, sementara saya pun asyik mengabadikan mereka dengan kamera saya. Kira-kira lima menit berlalu sebelum akhirnya mereka pun lenyap dari pandangan. Saya pun kembali menuju kantor taman nasional, menjumpai perahu motor yang akan membawa saya kembali ke arah Kuching. Berangkat dengan target menjumpai seekor bekantan, saya pun pulang membawa kenangan berjumpa dengan enam ekor bekantan! Memang sih hanya melihat bekantan (dan bukan bigfoot), tapi no doubt saya merasa orang yang paling beruntung di Taman Nasional Bako hari itu, hehehe.

No comments: