(Star Mild)
Bingung juga sebenarnya bagaimana sebaiknya saya memulai travel blog dari sekian banyak ide cerita yang ada di kepala saya. Apakah saya mulai dengan yang cerita yang menyenangkan, atau bahkan dengan cerita yang menjengkelkan? Well, daripada bingung-bingung it's best if I just start writing the first thing that crosses my mind.
Dari 7 benua yang ada saat ini saya baru mengunjungi 4 di antaranya (Asia, Eropa, Australia dan Amerika Utara). Namun dari keempat benua tadi, I must say that Europe has always been my favourite (bukan karena tidak nasionalis ya). Memang sih, orang Eropa in general tidak seramah orang di Asia, dan harga-harga di sana ya jelas berkali-kali lipat harga di Asia. Tapi yang buat saya fascinated terhadap Eropa adalah karena dalam wilayah yang relatif kecil, kita bisa melintasi banyak negara dengan berbagai kebudayaan dan warisan sejarahnya yang kaya. Saya yang memang menggilai sejarah, punya satu hal favorit yang tidak pernah saya tinggalkan setiap kali saya berkunjung ke Eropa, yaitu: mengunjungi castle.
Castle atau château dalam bahasa Prancis bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai istana, puri atau kastil - nampaknya tergantung bentuk bangunannya. Apapun istilahnya, nampaknya saya tidak akan berhenti 'mengoleksi' castle. I don't know there's just something about castles that I just can't get enough of. Uniknya, castle pertama yang saya kunjungi seumur hidup bukanlah di Eropa, melainkan di Jepang, yaitu Osaka Castle. Saat itu usia saya masih 7 tahun, dan perjalanan ke Jepang waktu itu merupakan perjalanan pertama saya ke luar negeri.
Di Prancis yang gudangnya châteaux, tentunya saya tidak melewatkan mengunjungi Versailles. Ini adalah istana yang paling megah pada jamannya sehingga kerajaan-kerajaan lain di Eropa menjadi iri dan kemudian membuat tiruannya di negara masing-masing (sekarang bisa dilihat di Austria, Jerman hingga Rusia). Namun château yang paling berkesan menurut saya adalah saat saya melewatkan satu hari di Val de Loire, suatu kawasan di jantung ne
gara Prancis yang memang sangat kaya akan bangunan-bangunan bersejarah semacam ini. Ada dua châteaux yang saya kunjungi saat itu. Château de Blois mempunyai arsitektur unik karena dibangun dalam masa pemerintahan raja Perancis yang berbeda-beda. Sementara Château d'Amboise (lihat gambar) punya sejarah unik, karena ternyata di sinilah Leonardo da Vinci melewatkan hari-hari terakhirnya bekerja untuk Raja Prancis (itulah sebabnya Mona Lisa sekarang ada di Museum Louvre di Paris, bukan di Italia, karena sewaktu dia pindah, lukisan itu termasuk yang dia boyong ke Prancis). Tidak jauh dari château itu kita bisa mengunjungi Clos-Lucé, rumah da Vinci, bahkan ranjang tempat dia menghembuskan nafas terakhir juga masih tetap utuh.Namun rekor dalam per-castle-an bagi saya masih dipegang Denmark. Di negara Skandinavia terkecil itu tercatat saya 'melahap' tidak kurang dari tujuh castle - Frederiksborg, Fredensborg, Amalienborg, Rosenborg, Kronborg dan Egeskov (yang terakhir ini bukan punya keluarga raja, jadi mungkin itu sebabnya namanya tidak diakhiri dengan -borg - ini teori saya lho). Kastil Frederiskborg menurut saya adalah yang paling sesuai dengan bayangan saya mengenai how a castle should look like - seperti di dongeng (well, mungkin Neuschwanstein juga tapi masalahnya saya belum pernah ke sana). Kastil ini sekarang jadi Museum Sejarah Denmark jadi tiap ruangannya didesain khusus secara kronologis dari raja-raja pertama sampai dengan Ratu Margarethe II yang berkuasa saat ini. Supaya lebih faham cerita tiap-tiap ruangan, sebaiknya kita menyewa audioguide yang tersedia di pintu masuk. Di belakang kastil terdapat manicured garden yang cukup indah.
Kunjungan ke Istana Fredensborg sebenarnya tidak dalam rencana saya, namun kebetulan saat itu saya di Denmark akhir bulan Juli dan saya baca bahwa istana yang merupakan kediaman resmi putra mahkota Denmark Pangeran Frederik dan istrinya yang asli Australia Puteri Mary hanya dibuka untuk umum sampai dengan 31 Juli - ya sudah, saya pikir kenapa tidak dimanfaatkan selagi masih dibuka. Saya pergi dengan teman saya Tage yang asli Denmark. Beruntung juga karena berhubung sampai di sana sudah sore saya hanya kebagian tur dalam bahasa Denmark. Teman saya dengan berbaik hati menerjemahkan apa yang diterangkan guide di dalam istana sampai-sampai kami dipelototi karena ternyata dia merasa terganggu!
Kastil Egeskov (lihat gambar) terletak di pulau Fyn. Tidak terlalu mudah mencapainya dengan kendaraan umum karena letaknya sekitar 1.5 jam dari Odense, kota terbesar di pulau Fyn yang juga kota kelahiran pengarang Denmark legendaris Hans Christian Andersen itu. Kastil Egeskov memang sangat picturesque lengkap dengan danau kecil dan angsa-angsanya. Mungkin supaya pengunjung betah berlama-lama, Egeskov juga dilengkapi dengan berbagai museum, seperti museum mainan anak, museum mobil, museum sepeda motor hingga museum pesawat terbang!Di beberapa castle, pengunjung diharuskan memakai alas kaki khusus yang telah disediakan supaya lantai tidak kotor. Di Denmark, hal ini berarti memakai kantung plastik seukuran sepatu kita dengan karet pengencang. Yang paling unik saya temukan adalah slipper ukuran raksasa yang diharuskan dipakai pengunjung Castle Sans Souci di Potsdam, Jerman. Memang lantai terjaga bersih, namun yang ada malah merepotkan orang berkaki kecil seperti saya (padahal nomor sepatu saya 43 lho!) yang terpaksa terseok-seok karena harus berjalan mengenakan slipper yang lumayan oversized dan berat itu, apalagi di dalam istana tersebut kita juga harus naik turun tangga. Alamak!
No comments:
Post a Comment