Saturday, September 6, 2008

The Craziest Trip I've Ever Done

Well, everybody's got one and mine goes like this ...

Di awal tahun 2000-an (persisnya saya lupa), saya berempat dengan teman saya (Lila, Fanny dan Jock yang asli Kanada) berangkat dari Jakarta dengan satu tujuan: menaklukkan puncak Gunung Gede.

Karena sesampainya di Cibodas sudah sore maka seusai mengurus permit pendakian, kami pun bermalam di Wisma PHPA (nama persisnya saya lupa) yang berbentuk segitiga, tidak jauh dari gerbang masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Besoknya sekitar pukul 5 pagi pendakian dimulai. Kami berjalan agak cepat (mungkin tidak terlalu cepat karena 'nyawa' belum sepenuhnya 'terkumpul') karena tujuannya adalah naik ke puncak Gunung Gede dan turun ke penginapan dalam hari yang sama. Ambisius memang, tapi kami cukup pede karena secara teori memang sangat doable mengingat Gunung Gede yang termasuk gunung yang paling user friendly dibanding Gunung Salak, misalnya. Saya sendiri terus terang hanya modal pede karena belum pernah mendaki gunung sebelumnya (Tangkuban Prahu nggak masuk hitungan karena pake mobil, hehehe).

Jalan yang terus menanjak memang menguras tenaga tapi mungkin setimpal dengan pengalaman menghirup udara yang bebas polusi dan juga satwa liar seperti monyet dan burung yang berkeliaran dengan leluasanya di sepanjang jalur pendakian. Setelah beberapa jam kami tiba di daerah sumber air panas, dan, wow, ternyata tempat ini cukup menguji nyali karena jalur yang kami lewati terpotong oleh air terjun air panas, yang mana setiap pendaki harus berjalan hati-hati sekali karena di satu sisi air panas mengalir di dinding tebing sementara di sisi yang lain jurang menganga lebar. Satu-satu yang bisa jadi pegangan adalah beberapa tiang besi yang nampaknya juga sudah cukup rickety.

Lepas sumber air panas kami melewati beberapa lokasi air terjun yang cukup menggoda iman untuk 'dijajal' namun kami bertekad untuk mencapai puncak Gunung Gede pada tengah hari. Memang kalau mendaki puncak gunung di Indonesia tidak boleh juga terlalu ngoyo dan harus terus 'eling lan waspodo' karena masih banyak makhluk-makhluk ghaib yang bisa bikin kita tersesat. Sempat juga saya, entah kenapa, seakan terdorong ke arah sebuah jalur di mana saya baru melihat ada sekelompok pendaki yang berjalan dari sana. Untung saja, seseorang tiba-tiba berteriak kepada saya: "Mas mau kemana!" sehingga tiba-tiba saya tersadar dan kembali ke 'jalur yang benar'. Coba kalau tidak ... hiiii.

Anyway, sekitar jam 11 akhirnya kami sampai di basecamp terakhir, namanya Kandang Badak (mungkin di sini dulu masih banyak binatang itu ya). Di tempat ini banyak sekali pendaki-pendaki yang memasang tenda. Kebanyakan anak-anak SMA pencinta alam. Fanny yang kelelahan akhirnya kami tinggal di tempat itu sementara kami bertiga meneruskan pendakian ke puncak.

Ternyata puncak Gunung Gede (lihat gambar) berbeda dengan Gunung Pangrango. Pangrango yang lebih tinggi dari Gede (3019 m dibanding 2958 m) puncaknya tertutup rimbun pepohonan sehingga tidak terlalu menarik minat pendaki dibanding Gunung Gede dengan kawahnya yang terbuka. Namun kawah terbuka juga berarti minim vegetasi, sehingga jalur pendakian terakhir terasa sangat berat akibat harus mendaki tanah dan pasir. Dan yang membuatnya semakin parah, tiba-tiba turun hujan ...

Wah, benar-benar saya tersiksa naik ke puncak Gede, seperti kebalikan kata-kata Paula Abdul di lagu "Opposites Attract" - one step forward, two steps back ... Parahnya, kami sangat minim perlengkapan. Tas ransel memang bawa tapi isinya tidak ada jas hujan (hanya air dan roti). Akhirnya sekitar jam setengah satu siang, kami berhasil 'menaklukkan' Gunung Gede. Namun karena sudah lelah (dan lapar) kami pun tidak tahan berlama-lama dan segera turun ke Kandang Badak dengan badan yang basah kuyup dan menggigil.

Di Kandang Badak kami bertemu dengan sekelompok pencinta alam yang kemudian membagi kami jatah mie instan mereka. Wow, belum pernah supermi terasa seenak ini. Lagi-lagi kesalahan kami karena minim persiapan, boro-boro kepikiran alat masak, mi instan pun tidak kepikiran untuk dibawa. Akhirnya kami pun menawari mereka untuk bermalam di penginapan kami setelah turun gunung.

Turun gunung ternyata tidak semudah apa yang dibayangkan. Tidak hanya karena jalan curam jadi kaki yang memang sudah capek harus bekerja ekstra untuk menahan berat badan agar tidak terguling, tapi kami juga mengejar waktu sebelum hari gelap (kebayang kan bagaimana gelap gulitanya di dalam hutan?). Saya tidak bisa membayangkan ketika salah satu anggota pecinta alam yang menolong kami itu tiba-tiba sandalnya copot sehingga dia harus telanjang kaki all the way down! Ouch!

Ternyata perhitungan kami meleset dan ketika hari mulai gelap kami masih belum keluar taman nasional. Sekali lagi, ternyata senter yang kami bawa lemot jadi tidak cukup kuat untuk menerangi jalur yang masih cukup challenging. Walhasil perjalanan menjadi semakin lambat karena harus berjalan ekstra hati-hati.

Akhirnya sekitar jam 8 malam, kami pun tiba dengan selamat di penginapan. Tanpa basa-basi kami berdelapan langsung rebah di tempat tidur - capek berat (boro-boro kepikiran mandi, airnya saja pasti dinginnya nggak keru-keruan). Esok harinya barulah saya fully realize efek dari pendakian gila kemarin - betis dan kaki saya langsung biru-biru dan rasanya nyeri sekali. Sekitar satu bulan rasa kemudian barulah rasa sakitnya hilang.

Weleh-weleh, never again!

1 comment:

uruguay said...

hi jar,

wow! u got a blog!
unfortunately, it is not in english. i cant read...


cheers
leo