Language can be so tricky and slippery sometimes.
Sebenarnya saya relatif tidak begitu sering menemukan kendala bahasa saat bepergian. Menurut saya hari ini hampir di semua negara di dunia, one can get away speaking only English. Yah, mungkin ini juga dampak dari globalisasi budaya yang sangat sulit terhindari di mana film-film dan lagu-lagu berbahasa Inggris sudah jamak dijumpai bahkan hingga ke pelosok dunia sekalipun. Dari sekitar 33 negara saat ini yang sudah saya kunjungi mungkin Cina-lah negara di mana saya pernah mengalami kendala bahasa sehingga saya terpaksa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak akan pernah saya lakukan seandainya saja saya mengerti bahasanya ... (well, harus bersabar sedikit kalau ingin tahu ceritanya).
Berbicara tentang bahasa tentu tidak dipisahkan dari tulisannya. Sebagian besar negara di dunia menggunakan tulisan Latin dan ini jelas menguntungkan warga Indonesia seperti saya yang memang dibesarkan untuk membaca dan menulis dalam tulisan Latin. Untungnya juga, saya termasuk penggemar bermacam bahasa sehingga saya juga lumayan menguasai beberapa tulisan lainnya seperti Arab, Rusia dan sedikit Korea dan Jepang (hiragana dan katakana). Meski demikian, bisa membaca belum tentu mengerti artinya.
Tulisan Cina (kanji) menurut saya memang yang paling sulit dikuasai, karena jumlahnya yang begitu banyak, hingga ribuan. I think it's true that it takes a lifetime to master all the Chinese characters. Namun saya punya trik untuk mengakali masalah ini. Caranya ya dengan menghafal beberapa magic characters yaitu karakter-karakter tertentu yang terpenting saja (misalnya laki-laki, perempuan, keluar, masuk, besar, kecil, utara, barat, timur, selatan, dst). So far trik saya ini relatif berhasil membuat saya survive dua kali perjalanan di Cina!
Yang paling merepotkan tentunya jika saya benar-benar tidak mengerti tulisan di suatu negara dan orang di sana tidak pandai berbahasa Inggris. Hal ini pernah saya alami sewaktu berada di Thailand, sepuluh tahun lalu. Ya, perlu saya tegaskan kapan hal ini terjadi karena Thailand yang sekarang tentunya sudah lebih 'melek' wisatawan daripada sewaktu kejadian ini terjadi.
Saat itu saya sedang berada di Chiang Mai, kota terbesar kedua Thailand yang terletak di bagian utara. Jika saya backpacking, maka satu hal yang tidak pernah saya lupa adalah membawa toiletries bag. Isinya pun tidak bisa sembarang karena hanya benda-benda yang saya butuhkan saja yang bisa masuk ke dalamnya (sikat gigi, odol, sabun cuci muka, sabun cair untuk mandi, shampoo, deodoran) dan ukurannya pun harus semini mungkin. Kebetulan saat tiba di Chiang Mai sudah lewat beberapa minggu sejak saya berangkat dari Jakarta, jadi sabun cair saya pun habis sehingga harus membeli yang baru. Well, seharusnya urusan membeli sabun cair tentunya tidak sulit bukan?
Di supermarket yang terdekat dari guesthouse tempat saya menginap ternyata tidak punya sabun cair dari merek Biore yang biasa saya pakai. Akhirnya, karena dari sekian banyak sabun cair yang dijual, hanya merek Lux yang saya kenali, maka itupun yang saya beli. Sepintas tidak ada yang janggal dari kemasan sabun cair itu - memang semua tulisannya dalam bahasa Thai namun saya berpikir tidak mungkin dong saya pilih - namun saat pertama kali saya pakai, kok rasanya agak-agak lengket. Kedua, ketiga kali, ternyata tetap saja agak-agak lengket. Namun saya tidak terlalu curiga, siapa tahu sabun cair di Thailand rasanya agak beda dengan yang biasa saya beli di Indonesia. Yah, lain ladang lain belalanglah.
Sekembalinya dari Chiang Mai, saya melewatkan beberapa hari di Bangkok, tinggal di rumah teman saya yang asli Thailand. Suatu ketika saat saya sedang menonton televisi, muncullah iklan sabun cair Lux. Betapa terkejutnya saya ketika melihat bahwa ternyata iklan tersebut bukanlah iklan sabun cair, melainkan ... shampoo! Oalah, gara-gara tebak-tebak buah manggis selama ini ternyata saya mandi pakai shampoo! Pantas saja bukan terasa segar, badan malah terasa lengket ...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment